Leon Trotsky Dibunuh dengan Tusuk Es di Rumah Bentengnya di Meksiko
Moh. Habib Asyhad April 18, 2026 11:34 PM

Leon Trotsky adalah pemimpin revolusi, tangan kanan Vladimir Lenin, pembentuk Tentara Merah. Tapi dia disingkirkan kamerad komunisnya sendiri, Joseph Stalin, yang memerintahkan pembunuhannya pada 1940.

Artikel ini pertama tayang di Majalah INTISARI edisi Desember 1965 dengan judul "Trotzky Dibunuh dengan Tusuk Es"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Suatu ketika Leon Trotsky pernah berkata: “Dari 12 rasul hanya Yudas yang dianggap pengkhianat. Namun, andaikata Yudas berhasil mendapatkan kekuasaan, maka sebelas rekannya dan rasul-rasul lain yang kurang penting yang menurut Lukas berjumlah 70 orang itulah akan dihukum sebagai pengkhianat.”

Komentar itu Trotsky tujukan kepada Stalin yang membabi buta menyuruh membunuh orang-orang komunis dengan atau tanpa proses “show” pada saat itu.

Tidaklah terduga bahwa Trotsky, pemimpin revolusi dan pembangun tentara merah dan tangan kanan dari Lenin, ahli pidato ulung, penulis yang cemerlang, jenderal yang tenar, pemimpin rakyat yang tidak suka intrik, dapat disisihkan begitu saja oleh rekannya sendiri, Joseph Stalin.

Nama palsu

Nama Trotsky bukan namanya yang asli. Dia dilahirkan sebagai Lev Davidovich Bronstein di Ukraina pada 1879. Ayahnya yang masih buta huruf, memiliki sebuah peternakan besar.

Anaknya dikirim ke sekolah Yahudi untuk belajar bahasa Yahudi dan Rusia. Di rumah mereka masih berbahasa Ukraina. Kemudian dia dikirim ke Odessa untuk meneruskan pelajarannya di sekolah St. Paulus di mana dia belajar bahasa Prancis, Jerman, Italia, Yunani, dan Latin.

Sementara itu dia dididik sebagai seorang liberal dan anti-marxis. Sampai pada suatu ketika sebagai mahasiswa dia mulai mempelajari Marx. Sejak itu dia menjadi seorang komunis sejati.

Karena itu pada 1899 dia ditangkap dan dikirim ke Siberia. Dia berhasil lolos di bawah nama Trotsky, seorang sipir. Nama yang senantiasa mendampinginya sampai akhir hayatnya.

Trotsky suka menjelajah dan di Paris dia belajar dan kenal dengan istri keduanya, Natalia Sedova. Dia juga menjadi kawan akrab Lenin.

Ada yang bilang, Trotsky yang berada di bawah pengaruh Lenin, tapi justru Lenin-lah yang banyak mengambil ide-ide dan pemikiran Trotsky seperti tentang “revolusi abadi”, yaitu revolusi yang tak akan selesai selama seluruh dunia belum menjadi komunis.

Peperangan

Pada 1905 Trotsky dianggap sebagai pemimpin revolusi komunis yang akhirnya meruntuhkan pemerintahan Tsar Rusia. Pada 1911 untuk pertama kali dia mempelajari soal-soal militer, ketika bekerja sebagai koresponden sebuah harian dan diberi tugas membuat reportase tentang peperangan-peperangan di Balkan.

Trotsky kebetulan di Wina saat Perang Dunia I mulai berkobar. Dia kemudian pergi ke Paris di mana dia menjadi pengunjung setia Perpustakaan Nasional untuk mempelajari buku-buku tentang peperangan.

Pada 1918 dia dikeluarkan dari Prancis. Bersama dengan istri dan kedua anak laki-lakinya Leon dan Sergej, dia naik kapal menuju New York. Namun Maret tahun berikutnya dia kembali ke Petersburg naik kapal Norwegia di mana dia disambut meriah oleh para buruh.

Pada saat itu Lenin sudah sebulan di tempat tsb. Revolusi “rakyat” akan segera ditumpas oleh kaum Bolsyewik, katanya. Dalam revolusi itu Trotsky mendapat kesempatan untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari dalam buku-buku itu.

Ide revolusi kuno seperti menyerbu bastille, peperangan barikade dan menimbulkan hanya ada titik-titik telepon. Tentara yang dididiknya penuh disiplin dan patuh. Dalam satu malam saja mereka berhasil merobohkan rezim lama untuk diganti dengan yang baru, tanpa korban manusia maupun perampokan.

Kemudian disusul dengan persetujuan perdamaian yang memalukan dengan Jerman dan sekutu-sekutunya karena tentara Rusia dikalahkan. Namun setelah keruntuhan dari tahun 1918 terjadi front-front baru: melawan Cekoslowakia, Polandia, dan tentara “putih”.

Trotsky menyelenggarakan suatu “Pentagon” (kementerian pertahanan) beroda, sebuah kereta api ditarik oleh dua lokomotif lengkap dengan segala-galanya: senjata, mobil, percetakan, perpustakaan, dan sebuah pemancar radio dan telegraf. Dengan demikian mereka menjadi lebih mobil dan selalu dapat berada di tempat-tempat yang paling memerlukan kehadiran mereka.

Orang-orang Ceko sudah dilumpuhkan, Polandia hampir. Selama peperangan Polandia ini benih kebencian Stalin terhadap Trotsky dan Polandia mulai bersemi.

Pada 1920 saat orang-orang Polandia menyerbu dan berhasil merebut Kiev, Trotsky segera berangkat menuju ke garis depan. Tentara maju menuju ke Warsawa.

Tentara Rusia lainnya yang berada di sebelah selatan, diperintahkan untuk menggabungkan diri dengan kekuatan pokok. Namun komisaris politik dari tentara selatan, yaitu Josef Stalin, ingin mendapatkan kemenangan pribadi. Maka dia memerintahkan pada panglima setempat, Semyon Budyonny, untuk maju melawan Lemberg.

Panglima Polandia, Piłsudski, mengambil kesempatan itu. Dia menyusup di antara kedua pasukan itu dan mengalahkan Rusia.

Di muka umum Trotsky mencela Stalin karena perbuatannya yang seenaknya sendiri. Rupanya, Stalin tidak dapat melupakan penghinaan itu. Juga tidak waktu dia pada tahun 1940 memberi perintah untuk membunuh lebih dari 14.000 opsir Polandia.

Dalam pengasingan

Setelah Lenin meninggal dunia pada 21 Januari 1924, Sekretaris I partai, Stalin, berhasil merebut kekuasaan secara licin. Pada saat pemakaman Lenin, Stalin sudah berhasil menjauhkan Trotsky: dia dengan sengaja memberi tanggal salah.

Dengan demikian Trotsky tidak sempat hadir. Sejak itu urutan dalam upacara-upacara besar di Kremlin memegang peranan penting.

Namun baru pada 1937 Stalin berhasil mengucilkan Trotsky dari partai dengan suatu resolusi. Dia diasingkan ke Alma di Tibet. Setahun kemudian dia diusir dari Rusia.

Dalan tahun-tahun kemudian sanak keluarga Trotsky dibunuh satu per satu. Melalui Norwegia, Trotsky akhirnya berhasil masuk Meksiko yang bersedia menerimanya.

Atas saran pemerintah negara itu juga, rumah Trotsky di Coyoacan, Mexico city, diubah menjadi benteng. Dinding luar dibuat dari beton dengan satu pintu masuk saja sedangkan di dalamnya ada dinding lagi yang mengitari taman sebenarnya.

Kamar pertama menjadi kamar penjaga-penjaga yang menuju kamar makan melalui pintu anti-peluru. Baru di belakangnya terletak kamar kerja Trotsky tempat dia menulis buku-buku dan tulisan-tulisan melawan Stalin.

Pacar

Namun benteng tsb. toh masih dapat ditembus Stalin. Karena Trotsky memiliki arsip lengkap, maka bagi Stalin, Trotsky harus dibasmi.

Nama calon pembunuh yang sebenarnya adalah Ramon del Rio Mercader. Ibunya orang Spanyol anggota NKVD (polisi rahasia Rusia). Dia dilahirkan pada 1914 di Barcelona.

Karena Ramon lulusan dari sekolah perhotelan Prancis, dia mengetahui caranya untuk bertindak di kalangan elite dan hotel-hotel terkemuka. Namun dia tidak bertindak menurut kemauannya sendiri.

Dia adalah pion dalam tangan Leonard Eitington, seorang pemimpin NKVD ulung dan kepala dari “operasi Trotsky”. Eitington terkenal dengan nama dr. Rabinowitsch, wakil palang merah Rusia di New York. Dia berlagak sebagai seorang diplomat sopan, yang beragama Yahudi, yang senantiasa bercakap-cakap tentang “misi perikemanusiaan”.

Pada 1938 Ramon ditarik dalam operasi Trotsky. Dia dikirim oleh NKDV ke Paris di mana dia harus bertindak sebagai anak seorang diplomat Belgia yang kaya raya.

Tentang uang, tak usah pikir. Namanya diganti menjadi Jacques Mornard. Kecuali pekerjaan mata-mata, dia mendapat tugas mendekati seorang perempuan Amerika yang pasti tidak cantik, dan beberapa tahun lebih tua. Namanya Sylvia Ageloff, penganut setia Trotsky.

Di New York dia pernah bekerja sebagai ahli psikologi. Dengan perantaraan Ruby Weil, sekretaris Louis Budenz, yang pernah menjadi anggota terkemuka partai komunis di Amerika, Sylvia diajak ke Paris.

Budenz yang akhirnya menjadi Katolik telah memberi keterangan-keterangan tertentu dalam buku yang kemudian disalahgunakan Rabinowitsch-Eitington. Melalui Ruby Weil, “Jacques Mornard” dihubungkan dengan Sylvia. Semua berhasil dengan baik, Sylvia jatuh cinta.

Bakal suami

Cinta memang buta. Mornard kadang-kadang hilang tak berbekas, tanpa meninggalkan kabar berita atau meninggalkan alamat-alamat salah.

Dia juga “menjualkan” naskah-naskah Sylvia yang tidak pernah diterbitkan. Namun setiap malam dia diajak dalam mobilnya yang mentereng. Sylvia lupa daratan. Rabinowitsch-Eitington dapat maju selangkah lagi.

Awal 1939 Mornard mengatakan kepada “tunangannya”, bahwa dia mendapat tawaran untuk menjadi koresponden dari sebuah harian di New York. Sylvia harus berangkat dulu dan baru pada September waktu perang dunia II sudah berkecamuk, dia muncul di New York.

Tapi dia muncul dengan nama baru, Frank Jacson. Katanya sebagai seorang Belgia dia tak mungkin mendapat izin masuk, maka dia telah minta paspor palsu Kanada dengan bayaran 3600 dolar.

Setelah diteliti kemudian ternyata dari nomor 31 377 bahwa pas tsb. pernah diberikan tanggal 22 Maret 1937 pada seorang Kanada, Tony Babich, yang mati dalam perang saudara Spanyol di pihak merah. NKVD yang memegang semua kertas-kertas dari “Brigade internasional” telah memalsukan surat-surat itu. Namun rupanya dia lupa menulis huruf “K” dari Jackson.

Oktober tahun itu, “Jacson” menuju Mexico City di mana dia menulis surat kepada kekasihnya: dia kesepian. Sylvia segera naik pesawat terbang pertama ke Selatan.

Setibanya di kota itu, dia tentu segera mengenalkan tunangannya itu kepada kakaknya yang bekerja sebagai sekretaris Trotsky. Dia segera diterima dengan tangan terbuka, karena dia memang menarik. Dengan demikian jembatan menuju ke benteng sudah terbentuk.

Jacson tidak buru-buru. Dia tidak mendesak untuk mengunjungi rumah itu. Waktu 24 Mei 1940 beberapa orang menembak jendela Trotsky atas perintah NKDV, tak ada orang yang menuduh Jacson.

Sejak 27 Februari 1940, Trotsky telah mengubah pernyataannya. Dalam surat wasiat itu, dia mengatakan tentang istrinya:

“Di samping mendapat kehormatan untuk menjadi pejuang sosialis, aku juga mendapat kenikmatan menjadi suaminya. Selama 40 tahun dalam perkawinan, dia senantiasa masih merupakan sumber cinta kasih, keberanian, dan kelembutan. Banyak yang harus diderita selama itu … namun aku toh merasa lega karena dia juga mengenal masa-masa penuh bahagia…”

Tamu

Setelah percobaan pembunuhan yang gagal pada 24 Mei, mereka mencoba siasat baru, yang jalannya lebih lancar karena keluarga Rosmer, teman baik Trotsky, secara spontan mengajak mereka berkunjung. Hal ini terjadi pada 28 Mei. Pada hari itu juga Jacson untuk pertama kalinya bertemu dengan Trotsky.

Pada 2 Juni dia muncul kembali di Coyoacan, karena dia telah mengantarkan keluarga Rosmer ke kapal. Penjaga-penjaga selalu mencatat dengan teliti siapa yang datang dan kapan pulangnya. Maka kemudian dapat diketahui kapan dan berapa lama Jacson pernah berkunjung.

Jacson pergi ke New York lagi untuk mendapatkan instruksi terakhir. Dia sekarang sudah menjadi teman akrab keluarga Trotsky.

Sekembali dari New York dia menyarankan kepada Trotsky untuk bersama-sama berlibur ke pegunungan. Katanya, dia pandai mendaki gunung, namun sarannya waktu itu ternyata tak termakan oleh sang tuan rumah, dan Jacson tidak mendesak.

Pada 8 Agustus, dia datang lagi dan mencoba melakukan “general rehearsal”. Katanya, dia telah menulis sebuah naskah lalu minta supaya Trotsky sudi mengadakan koreksi. Untuk tujuan itu, Jacson berdiri di belakang tuan rumah, sesuatu yang tak disukainya.

Trotsky kemudian mengatakan kepada istrinya tidak mau melihat Jascon itu lagi. Lagi pula, anehnya, walaupun Jacson hanya tinggal sebentar dia tidak menanggalkan topinya, bajunya juga ditutup rapat-rapat.

Rupanya saat itu ia sudah membawa tusuk es maut itu bersama dengan senjata lain. Mungkin hari itu dia sudah merencanakan untuk melakukan pembunuhan, tetapi akhirnya tidak sampai hati. Lagi pula, “calon istrinya” atau keluarga Trotsky agak heran, mengapa dia begitu bingung dan pucat. Biasanya tidak pernah demikian.

Pembunuhan

Trotsky memulai 20 Agustus dengan cerah. Cuacanya bagus, badannya segar. Malahan pagi itu dia mengatakan kepada istrinya: “Tadi malam mereka tidak membunuh aku lagi. Aku tidak pernah merasa demikian segar seperti hari ini”.

Lagi pula pagi itu, dia mendapat kabar dari Universitas Harvard, catatan-catatan arsipnya sudah tiba dengan selamat di USA tanpa diketahui oleh dinas rahasia. Semua dokumennya telah diberikan kepada universitas tersebut dengan syarat tak boleh dibuka sebelum tahun 1980.

Sore hari pukul 5 setelah dia bekerja selama beberapa jam dalam kamar kerjanya, dia keluar untuk memberi makan ayam dan kelincinya, pekerjaan yang sangat digemarinya. Dari jendela Natalia Sedova melihat Jacson berdiri di sebelah suaminya.

Dia masuk untuk memperlihatkan naskahnya lagi. Jacson tampaknya pucat, lalu minta seteguk air. Kemudian kedua orang itu masuk. Trotsky waktu itu masih mengatakan kepadanya: “Tuan, tuan harus hati-hati dengan kesehatan tuan.”

Sambil membuka sarung tangannya yang selalu dikenakan kalau memberi makan binatang-binatangnya, Trotsky masuk kamar kerjanya. Jacson iku masuk. Dua atau tiga menit kemudian Natalia mendengar jeritan ngeri.

Dia bergegas mendekat, dan menemukan suaminya sudah menggeletak mandi darah di ambang pintu menuju ke kamar makan “Jacson”, Trotsky mengeram. Lalu katanya: “Natasja, aku cinta padamu.”

Sedangkan dia membungkuk menolong suaminya, suara gemuruh terdengar dari kamar kerja. Para penjaga memukul kepada si pembunuh dengan gagang pistolnya. Sembari mencoba membela diri, Jacson menjerit: “Aku ditangkap, ibuku juga … Sylvia tak mempunyai hubungan apa-apa.”

Trotsky yang mendengar jeritan-jeritan itu masih sempat mengatakan, “Jangan dibunuh, dia masih harus berbicara.”

Desember, akhir riwayat

Leon Trotsky meninggal keesokan harinya, tanggal 21 Agustus 1940 di rumah sakit setelah mengalami operasi yang tak berhasil. Tepatnya pukul 19.25. Kabar kematiannya untuk satu hari mendesak headline tentang Perang Dunia II dari halaman-halaman muka surat kabar.

Lebih dari 100 ribu orang antre di depan petinya di ibu kota Meksiko itu. Pemakamannya dikunjungi oleh massa yang tak terhitung jumlahnya.

Di jalan-jalan terdengar suatu balada seorang penyair tak dikenal yang tiba-tiba menjadi populer.

Trotsky mati — dibunuh
antara pagi dan senja.
Mereka yang mencintainya, menangis
dalangnya ketawa.
Pembunuh menyelinap sebagai sahabat,
membawa senjatanya.
Ia membunuh tuan rumahnya yang tak pernah menyakiti hatinya
Sekarang seluruh Meksiko berkabung
dan seluruh Coyoacan menangis…

Pengadilan menyelidiki perkara itu dengan seksama. Keadaan perang menyulitkan penelitian tentang latar belakang Jacson.

Namun jeritannya tentang ibunya itu sama sekali isapan jempol belaka. Waktu pembunuhan itu terjadi, dia memang menunggu anaknya bersama dengan temannya, Rabinowitsch-Eitington, kira-kira 500 meter dari rumah Trotsky dengan harapan putranya masih dapat lolos. Ibu dan anak mendapatkan hadiah Lenin dari Moskow, penghargaan tertinggi di Uni Soviet.

Sylvia Ageloff, bukan main kecewanya, marah campur sedih. Waktu polisi mengkonfrontasikannya dengan si pembunuh dia menelanjangi sama sekali tipu muslihat bekas tunangannya. Malahan dia seakan-akan belum puas. Waktu Jacson diantar keluar dia masih menjerit, “Penipu, pencoleng…”

Jacson dijatuhi hukuman terberat yang dikenal di Meksiko, 20 tahun hukuman penjara. Saat bebas pada 1963, sudah ada pesawat terbang Cekoslowakia yang akan membawanya ke Kuba. Katanya dia kemudian tinggal di suatu desa dekat Praha. Hadiah Lenin-nya juga sudah dicabut.

Natalia Sedova masih 20 tahun lamanya tinggal di rumah tersebut. Tak ada sesuatu yang boleh diubah. Pot dengan abu suaminya ditaruh di halaman rumah.

Pada Kongres Partai ke-XX waktu Kruschev membeberkan tindak tanduk Stalin, istrinya juga meminta kepada pemerintah Rusia untuk merehabilitasi pahlawan revolusi 1917 itu, pembangun tentara merah, Leo Davidovich Trotsky. Dia tak pernah menerima kabar.(De Nieuwe Linie, 21 Agustus 1965)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.