Israel Tetapkan “Garis Kuning” di Lebanon Selatan Seperti di Gaza, Turki: Ekspansi Wilayah
Ansari Hasyim April 19, 2026 12:34 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Ketegangan di perbatasan Lebanon–Israel kembali memanas.

Tentara Israel mengumumkan pembentukan sebuah zona demarkasi baru yang mereka sebut “garis kuning” di Lebanon selatan, diklaim serupa dengan garis pemisah yang diterapkan di Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resmi pada Sabtu, militer Israel menyebut “garis kuning” itu dimaksudkan untuk memisahkan area operasi pasukan mereka dari wilayah yang dinilai berisiko.

Mereka mengaku menargetkan individu bersenjata yang mencoba mendekati pasukan Israel di sepanjang garis tersebut.

Baca juga: AS Pertimbangkan Barter Uranium Iran dengan Pencairan Aset 20 Miliar Dollar

“Dalam 24 jam terakhir, pasukan kami yang beroperasi di selatan Garis Kuning mendeteksi teroris yang melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mendekati pasukan dari arah utara, sehingga menimbulkan ancaman langsung,” ujar militer Israel.

Ini menjadi penyebutan pertama “garis kuning” sejak implementasi gencatan senjata dimulai.

Militer Israel menambahkan, setelah pemantauan dilakukan, serangan dilancarkan di sejumlah titik di Lebanon selatan “untuk menghilangkan ancaman”.

Mereka menegaskan tetap memiliki kewenangan bertindak terhadap ancaman keamanan meski gencatan senjata sedang berlaku.

Tentara Israel mengatakan 'garis kuning' telah ditetapkan di Lebanon sama seperti di Gaza

Militer Israel mengatakan telah menetapkan garis demarkasi "garis kuning" di Lebanon selatan, serupa dengan garis yang memisahkan pasukannya dari wilayah yang masih dikuasai Hamas di Gaza.

Pihak itu mengklaim telah menyerang para pejuang Hezbollah yang diduga mendekati pasukannya di sepanjang garis perbatasan.

“Selama 24 jam terakhir, pasukan [militer] yang beroperasi di selatan Garis Kuning di Lebanon selatan mengidentifikasi teroris yang melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mendekati pasukan dari utara Garis Kuning dengan cara yang menimbulkan ancaman langsung,” kata militer, merujuk pada garis tersebut untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan.

“Segera setelah identifikasi dan untuk menghilangkan ancaman… pasukan menyerang teroris di beberapa wilayah di Lebanon selatan,” demikian pernyataan tersebut, seraya mencatat bahwa tentara berwenang untuk mengambil tindakan terhadap ancaman meskipun ada gencatan senjata.

Sejak gencatan senjata diberlakukan di Gaza pada 10 Oktober, wilayah Palestina terbagi oleh "garis kuning", yaitu batas de facto yang membagi Gaza menjadi dua zona: satu di bawah kendali militer Israel dan satu di bawah kendali Hamas.

Turki: Bukan Keamanan, Tapi Ekspansi

Langkah Israel itu menuai kritik tajam dari Turki. Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menuduh Israel memanfaatkan konflik kawasan sebagai dalih untuk memperluas pendudukan wilayah.

Berbicara dalam forum diplomatik di Antalya, Fidan menyatakan, “Israel bukan sedang mencari jaminan keamanan, melainkan menginginkan lebih banyak wilayah.

Pemerintahan Netanyahu menggunakan isu keamanan sebagai alasan untuk menduduki tanah baru.”

Menurut Fidan, selain wilayah Palestina yang telah diduduki, termasuk Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, Israel kini berupaya memperluas kendali ke wilayah Lebanon dan Suriah. 

“Ini adalah pendudukan dan ekspansi berkelanjutan yang harus dihentikan,” tegasnya, seraya menilai Israel membangun ilusi global seolah-olah hanya berfokus pada pertahanan diri.

Kekhawatiran dari Suriah

Dalam konteks yang sama, Ahmed Al-Sharaa menyatakan Israel telah bertindak dengan “kebrutalan besar” terhadap Suriah, menargetkan berbagai lokasi dan menduduki sebagian wilayah yang berdekatan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

“Kami memilih jalur diplomasi dan meyakinkan komunitas internasional untuk membantu agar situasi tidak memburuk dan berubah menjadi konflik terbuka,” ujarnya, sembari mengingatkan penderitaan rakyat Suriah yang telah berlangsung selama 14 tahun terakhir.

Situasi di perbatasan Lebanon–Israel pun kini berada di bawah sorotan tajam, di tengah kekhawatiran bahwa setiap langkah sepihak berpotensi memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.