Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - SOFT Human Club menjadi ruang baru bagi individu yang ingin bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Komunitas ini digagas oleh Maulana Ahmad Ghiffari bersama dua cofounder, Muhammad Ismail Faruqi yang akrab disapa Ail Minelal dan Sarah Velissa Rahmah.
Meski latar belakang Ail sebagai lulusan apoteker, ketertarikannya pada dunia psikologi membuatnya terhubung dengan Maulana dan Sarah, hingga akhirnya bersama-sama membangun komunitas ini.
Sebelumnya, mereka bergerak di bidang bisnis stiker dan penyelenggaraan event.
Namun, dalam perjalanannya, muncul kebutuhan untuk menghadirkan ruang sosial yang lebih bermakna.
“Awalnya kami punya bisnis, tapi merasa butuh sesuatu yang lebih sosial, seperti support group untuk teman-teman. Akhirnya kami mulai dari grup WhatsApp,” jelas Ail, kepada TribunJabar.id, Sabtu (18/4/2026).
Latar belakang berdirinya komunitas ini tak lepas dari fenomena yang mereka lihat di Bandung.
Menurutnya, banyak individu, termasuk penyintas isu kesehatan mental seperti anxiety hingga bipolar, yang membutuhkan ruang untuk bercerita, namun belum menemukan tempat yang tepat.
Berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI pada 2025, Sekitar 20 persen penduduk Indonesia dari 54 juta orang mengalami gangguan mental, tetapi hanya 8 % yang mendapat penanganan.
Setiap tahun ada lebih dari 2.000 kasus bunuh diri, sebagian besar terkait masalah yang tidak tertangani.
Di Kota Bandung sendiri, berdasarkan hasil skrining kesehatan terhadap 148.239 pelajar.
Sebanyak 48,19 % atau 71.433 siswa terindikasi memiliki masalah kesehatan mental.
Pada siswa SMP, 30,55 % mengalami masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 76,46 % menunjukkan gejala kecemasan ringan, 7,89 % kecemasan berat, 15,23?presi ringan, dan 7,42?presi berat.
Di tingkat SD, 53,75 % siswa mengalami masalah kesehatan jiwa, terutama kecemasan dan depresi ringan.
Sementara itu, pada SMA sebesar 25,79 % , dan di SLB mencapai 48,51 % .
“Kami merasa belum ada wadah yang benar-benar memberikan ruang untuk orang bisa cerita dengan bebas tanpa di-judge, cukup didengarkan saja,” ucapnya.
Dalam kegiatannya, Soft Human Club menggabungkan beberapa pendekatan, mulai dari journaling, sesi berbagi cerita, hingga relaksasi.
Dalam satu sesi, peserta biasanya diajak berkenalan, bermain kartu pertemanan yang berisi pertanyaan reflektif, lalu melakukan journaling bersama.
“Sebelum menulis, peserta diajak melakukan relaksasi dengan menarik napas dalam. Komunitas ini juga mulai menerapkan metode seperti muscle reaction technique sebagai bagian dari pendekatan yang digunakan,” tuturnya.
Setelah itu, sesi dilanjutkan dengan support group, di mana peserta dapat berbagi cerita secara bertahap.
Dalam momen ini, berbagai respons emosional sering muncul.
“Ada yang tiba-tiba menangis, ada yang ingin bercerita tapi hanya bisa sedikit-sedikit. Itu sering terjadi,” ungkap Ail.
Sebagai fasilitator, Ail menekankan pentingnya menjaga batas emosional.
Ia menyebutkan bahwa fasilitator harus mampu mendengarkan tanpa ikut larut dalam cerita peserta.
“Kami harus punya boundary. Mendengarkan, tapi tidak sampai tenggelam dalam cerita,” katanya.
Selain fokus pada kesehatan mental, Soft Human Club juga menghadirkan kegiatan kreatif seperti crafting. Peserta diajak membuat kerajinan manik-manik berupa gantungan kunci hingga boneka kecil.
Kegiatan ini direncanakan berlangsung rutin setiap bulan, dengan konsep kombinasi online dan offline.
“Namun, untuk saat ini, pertemuan masih difokuskan satu kali dalam sebulan secara offline, menyesuaikan kesibukan para pengurus,” katanya.
Melalui komunitas ini, dia berharap dapat membantu generasi muda memiliki ruang untuk berkembang dan saling mendukung.
“Kami ingin generasi muda di Bandung bisa mencintai diri sendiri dan tahu bahwa mereka tidak sendiri. Kita bisa saling hadir satu sama lain,” ucapnya.