Peringati KAA, Eko Suwanto : Spirit Melawan Penindasan dan Penjajahan Masih Relevan Diperjuangkan
Ikrob Didik Irawan April 19, 2026 01:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM -Konferensi Asia Afrika jilid ke-2 diusulkan oleh Megawati Soekarnoputri dalam momentum peringatan ke-71 tahun.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan menegaskan pelaksanaan KAA sangat relevan dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa di tengah ancaman neokolonialisme. 

Baca juga: Eko Suwanto Kampanyekan Gerakan Gemar Makan Ikan, Dorong Pemda Fasilitasi Gizi Terbaik untuk Balita

"Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan," kata Presiden RI ke 5 ini dalam keterangan resmi seminar '71 Tahun Peringatan KAA: Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini' di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu, 18 April 2026.

Hadirnya ancaman neokolonialisme dan imperialisme dewasa ini masih nyata adanya disebut butuh memikirkan bersama dan hadirkan gagasan alternatif untuk menciptakan perdamaian dunia. Salah satunya pemikiran mantan presiden Soekarno berkaitan dengan semangat KAA, GNB (Gerakan Non-Blok). 

"Dunia mencatat isi pidato 'To Build The World A New' Soekarno menjadi jawaban tentang pentingnya kesetaraan antarbangsa," kata Megawati Soekarnoputri, Ketua DPP PDI Perjuangan. 

Seperti dicatat dalam sejarah, Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia–Afrika atau KAA; juga dikenal sebagai Konferensi Bandung) adalah pertemuan negara-negara Asia dan Afrika yang sebagian besar baru saja merdeka, yang berlangsung pada tanggal 18–24 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia

Melalui konferensi ini telah jadi ajang guna mempromosikan kerja sama ekonomi dan budaya Afrika-Asia dan untuk menentang kolonialisme atau neokolonialisme oleh negara mana pun. 

Konferensi Asia-Afrika 1955 juga menjadi simbol awal solidaritas kerja sama antara negara-negara berkembang di belahan selatan dunia, yang berupaya memperkuat posisi tawar kolektif mereka dalam urusan internasional di luar dominasi blok Barat dan Timur. 

Konferensi ini mencerminkan awal munculnya identitas politik tersendiri bagi negara-negara bekas jajahan yang berusaha memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri, kemandirian ekonomi, serta keadilan global melalui forum multilateral yang dipimpin oleh negara-negara berkembang sendiri.

Eko Suwanto, Ketua DPC PDI Perjuangan Yogyakarta usai mengikuti secara daring pidato Megawati Soekarnoputri menyatakan pentingnya momentum aktualisasi semangat gerakan non blok yang mendasari KAA di Bandung. Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, perlu terus mempromosikan semangat anti-kolonial dan penjajahan atas bangsa lain di era kini. 

"Tahun 2025 saya berkesempatan hadir mengunjungi museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, dapat merasakan suasana bathin semangat juang untuk merdeka bangsa bangsa di Asia dan Afrika dari penindasan dan penjajahan negara bangsa lain saat itu. Kehidupan kebangsaan dan relasi antar bangsa di masa kini berhadapan dengan situasi konflik dan perang. Indonesia dengan peran sejarah inisiator gerakan non blok, semangat pemikiran Bung Karno penting diaktualkan. Kita dukung sepenuhnya upaya menggelorakan semangat spirit perjuangan untuk kemerdekaan bangsa sepenuhnya. Mari bersama bergandengan melawan kolonialisme dan melawan penjajahan atas bangsa lain," kata Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY dari PDI Perjuangan. (*/rls)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.