TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran secara resmi menutup lagi Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah selat tersebut sempat dibuka, menandakan situasi yang sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan dengan tetap memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran.
Akibatnya, militer Iran langsung mengambil alih kendali penuh atas Selat Hormuz dan memberlakukan pembatasan ketat terhadap lalu lintas kapal internasional.
Langkah ini memicu kekhawatiran global, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur strategis tersebut.
Situasi semakin panas karena kedua negara saling melempar tudingan, sementara negosiasi damai yang sedang berlangsung belum menunjukkan titik terang.
Iran menegaskan penutupan akan terus berlangsung hingga AS mencabut blokade dan menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapalnya.
Di sisi lain, Washington tetap bersikeras mempertahankan tekanan, sehingga memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Kondisi ini membuat dunia internasional waspada, karena setiap gejolak di Selat Hormuz berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan harga energi global.
Baca juga: Makin Melebar! Usai Terseret Kasus Ijazah, Jusuf Kalla Klaim Jokowi Jadi Presiden karena Dirinya
Belum 24 dibuka, Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran.
Komando militer gabungan Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Sabtu (18/4/2026) menutup kembali Selat Hormuz, dengan alasan Amerika Serikat (AS) melanggar janji negosiasi.
Penutupan ini dilakukan setelah jalur vital pengiriman minyak itu sempat dibuka oleh Iran, dalam rangka negosiasi dengan AS.
Siaran stasiun televisi Pemerintah Iran yang dikutip AFP menyebutkan, Washington tetap melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.
“Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat,” demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.
Komando militer IRGC juga menegaskan, kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke keadaan semula.
Menurut stasiun tv negara iran IRIB, AS terus melakukan tindakan ilegal di Selat Hormuz, menuding Washington menjalankan pembajakan dan pencurian dengan kedok blokade.
“Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata,” lanjut kata IRGC.
“Status Selat Hormuz tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi semula, sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal.
Iran sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026), menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” tulis Araghchi di X dilansir CNN.
Merespons hal tersebut, Presiden AS Donald Trump mengucapkan terima kasih dan menyambut baik langkah Iran.
“Iran baru saja mengumumkan bahwa selat Iran (Hormuz) sepenuhnya terbuka dan siap dilalui secara penuh. Terima kasih!” kata Trump di Truth Social, dikutip dari AFP.
Namun, ia menambahkan, blokade militer AS di selat selebar 33 kilometer itu tetap berlaku untuk Teheran sampai terjadi kesepakatan final.
“Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis serta pelayaran penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan iran selesai 100 persen,” tegas Trump.
Menurut laporan Al Jazeera, peluang AS mencabut blokade di Selat Hormuz memang tidak pernah tinggi.
Trump melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekanan lebih besar pada Iran.
Sebab, presiden ke-47 AS itu merasa masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan, termasuk poin utama memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)