Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika berbicara tentang kanker, banyak orang langsung mengaitkannya dengan faktor genetik atau keturunan.
Padahal, kenyataannya tidak sepenuhnya demikian.
Dokter spesialis onkologi medis dari Singapura, Dr. Tan Min-Han, mengungkapkan bahwa faktor genetik hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan kasus kanker.
“Dan, tetapi hal baiknya adalah setiap kali kita berbicara tentang risiko kanker yang diwariskan, secara umum, risiko ini hanya menyumbang sekitar 5 hingga 10 persen dari kanker yang kita lihat," paparnya dalam Forum Onkologi Lessons for Life 2026: Cancer Care Conversations IHH Healthcare Singapore yang juga diselenggarakan secara daring, Sabtu (18/4/2026).
Artinya, sebagian besar risiko kanker justru berasal dari faktor lain yang bisa dikendalikan.
Faktor-faktor tersebut dikenal sebagai risiko yang dapat dimodifikasi, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup dan lingkungan.
Dr. Tan mencontohkan beberapa di antaranya seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, berat badan, aktivitas fisik, hingga paparan sinar ultraviolet.
“Jadi, setiap kali kita berbicara tentang faktor risiko yang dapat dimodifikasi, itu adalah hal-hal yang berpotensi dapat kita ubah," imbuhnya.
Dengan kata lain, ada ruang besar bagi setiap individu untuk menurunkan risiko kanker melalui perubahan gaya hidup.
Baca juga: Benarkah Makanan Organik Lebih Ampuh Cegah Kanker? Ini Penjelasan dari Ahli Gizi
Meski demikian, faktor genetik tetap perlu diperhatikan, terutama jika ada riwayat kanker dalam keluarga.
Dr. Tan menjelaskan bahwa pola tertentu dalam keluarga bisa menjadi sinyal peringatan.
“Jadi, misalnya, jika saya memiliki ibu yang menderita kanker payudara, bibi yang menderita kanker payudara, atau, Anda tahu, sepupu yang menderita kanker payudara, atau kanker terkait seperti kanker payudara, ovarium, prostat, maka lonceng peringatan seharusnya mulai berbunyi," urainya.
Selain itu, diagnosis kanker pada usia muda juga menjadi indikator penting adanya kemungkinan faktor genetik.
Ia menyebut bahwa usia di bawah 50 tahun sering digunakan sebagai patokan dalam pedoman internasional untuk kategori kanker usia muda.
Namun, penting untuk dipahami bahwa memiliki risiko genetik bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa.
Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi alasan untuk lebih waspada dan proaktif dalam melakukan deteksi dini serta menjaga gaya hidup.
Kesimpulannya, meski faktor keturunan tidak bisa diubah, sebagian besar risiko kanker justru berasal dari hal-hal yang berada dalam kendali kita.
Dengan memahami perbedaan ini, masyarakat bisa lebih fokus pada langkah-langkah nyata yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko kanker sejak dini.