Terlupakan Sejarah, Kisah Anak Tunggal RA Kartini, Pernah Dituduh Terlibat Pemberontakan hingga Jadi Tahanan Rumah
Siti M April 19, 2026 06:34 AM

Grid.ID - Nama Soesalit Djojoadhiningrat mungkin masih asing di telinga banyak orang. Padahal, ia merupakan putra tunggal Raden Ajeng Kartini. Popularitas sang ibu sebagai pelopor emansipasi perempuan membuat kisah hidup Soesalit kerap luput dari perhatian.

Di balik itu, perjalanan hidupnya justru dipenuhi dinamika mulai dari kehilangan orang tua sejak kecil hingga terseret dalam pusaran konflik politik nasional.

Jadi Yatim Piatu Sejak Usia Dini

Soesalit lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 13 September 1904. Ia merupakan buah hati Kartini dengan suaminya, RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat yang saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang.

Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Empat hari setelah melahirkan, Kartini wafat. Soesalit pun tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Nasib pahit kembali menghampirinya saat sang ayah meninggal dunia ketika ia baru berusia delapan tahun.

Sejak saat itu, Soesalit diasuh oleh neneknya, Ngasirah, serta kakak tirinya, Abdulkarnen Djojoadhiningrat, yang turut membiayai pendidikan dan membimbing kehidupannya.

Pendidikan Elite hingga Karier di Pemerintahan Kolonial

Mengikuti jejak kalangan priyayi, Soesalit mengenyam pendidikan di sekolah elite kolonial, Europe Lagere School (ELS). Ia kemudian melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang dan sempat menempuh pendidikan hukum di Rechtshoogeschool (RHS) di Batavia.

Namun, studinya di bidang hukum tidak diselesaikan. Ia memilih masuk ke dunia kerja sebagai pegawai pamong praja di pemerintahan Hindia Belanda.

Dilema Moral Saat Bergabung dengan Intelijen Kolonial

Perjalanan karier Soesalit berubah drastis ketika ia direkrut ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID), badan intelijen rahasia pemerintah kolonial. Tugasnya adalah memantau aktivitas pergerakan nasional dan mengantisipasi ancaman asing.

Posisi ini menempatkannya dalam situasi yang sulit. Di satu sisi, ia menjalankan tugas negara kolonial, namun di sisi lain ia menyadari bahwa pekerjaannya berpotensi merugikan perjuangan bangsanya sendiri.

Beralih ke Dunia Militer dan Ikut Perjuangan Kemerdekaan

Situasi berubah saat Jepang menduduki Indonesia. Soesalit meninggalkan PID dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air). Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia aktif dalam perjuangan bersenjata.

Ia pernah menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dan turut bergerilya di kawasan Gunung Sumbing selama Agresi Militer Belanda II. Karier militernya sempat mencapai pangkat Mayor Jenderal sebelum akhirnya mengalami penurunan menjadi Kolonel.

Terseret Pemberontakan PKI Madiun 1948

Puncak kontroversi dalam hidup Soesalit terjadi saat Pemberontakan PKI Madiun 1948. Namanya tercantum dalam dokumen yang disita pemerintah sebagai sosok yang diharapkan oleh kelompok pemberontak.

Kedekatannya dengan sejumlah tokoh dan laskar berhaluan kiri membuatnya dicurigai terlibat. Meski demikian, keterlibatan tersebut tidak pernah terbukti secara hukum dan tidak melalui proses pengadilan.

Akibatnya, Soesalit harus menjalani tahanan rumah hingga akhirnya dibebaskan oleh Soekarno.

Karier Redup dan Kehidupan Setelah Kontroversi

Usai peristiwa tersebut, karier militernya tidak lagi berada di garis depan. Ia dipindahkan menjadi perwira staf di Kementerian Pertahanan, lalu beralih ke sektor sipil.

Pada 1950, Soesalit menjabat sebagai Kepala Penerbangan Sipil. Kemudian, pada era Kabinet Ali Sastroamodjojo I, ia dipercaya menjadi penasihat Menteri Pertahanan, Iwa Kusumasumantri, dengan pangkat kolonel. Seiring waktu, namanya semakin jarang terdengar di ruang publik.

Akhir Hidup dan Pesan untuk Keturunan

Soesalit Djojoadhiningrat wafat pada 17 Maret 1979 di Rumah Sakit Angkatan Perang. Semasa hidup, ia menikah dengan Siti Loewijah dan memiliki seorang putra, Boedi Setyo Soesalit, yang kemudian melanjutkan garis keturunan keluarga.

Menariknya, Soesalit meninggalkan pesan penting bagi keluarganya, agar tidak membanggakan status sebagai keturunan RA Kartini. Ia menekankan pentingnya hidup sederhana dan rendah hati, tanpa menjadikan garis keturunan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Kisah Soesalit menjadi pengingat bahwa di balik nama besar seorang tokoh nasional, ada cerita lain yang tak kalah kompleks bahkan penuh liku dan jarang tersorot sejarah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.