Kapolda Kalbar: Evakuasi Helikopter PK-CFX Butuh Waktu 1,5 Jam Jalan Kaki
Faiz Iqbal Maulid April 19, 2026 08:24 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kapolda Kalimantan Barat (Kalbar), Irjen Pol Pipit Rismanto mengungkap kronologi kecelakaan helikopter PK-CFX di sekitar Bukit Puntak, Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat pada Kamis 16 April 2026.

Sebelumnya, 8 penumpang dilaporkan meninggal dunia dan telah diserahkan ke keluarga secara resmi di RS Bhayangkara pada Jumat 17 April 2026.

“Bahwa hari ini kita sudah mendapatkan penyerahan 8 orang jenazah dari satgas gabungan yang terdiri dari Basarnas dan TNI Polri yang bergerak sejak hari kemarin (16/4), yang mana sebelumnya telah melakukan pencarian bersama dan alhamdulillah tadi malam sudah ditemukan. Memang kita sadari kondisi geografis kita yang sulit sehingga kita perlu waktu untuk menjangkau dalam melakukan evakuasi,” ujar Irjen Pol Pipit saat konferensi persdi RS Bhayangkara, Pontianak, Jumat 17 April 2026. 

Diketahui, helikopter PK-CFX lepas landas dengan rute Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, pada Kamis 16 April 2026)pukul 08.39 WIB.

Lantas bagaimana kronologi helikopter PK-CFX itu jatuh?

Kronologi Insiden Helikopter PK-CFX

Irjen Pol Pipit menjelaskan insiden bermula saat pihaknya bersama Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) menerima informasi pesawat hilang kontak pada pukul 11.00 WIB.

Helikopter PK-CFX itu lepas landas dari helipad PT Citra Mahkota di Kecamatan Menukung, Melawi, pada pukul 07.34 WIB dan dijadwalkan mendarat di helipad PT Graha Agro Nusantara I di Kecamatan Kubu Raya.

“Dalam perjalanan helikopter mengalami hilang kontak sehingga diinformasikan kepada pihak terkait. Kemudian koordinat disampaikan bahwa terakhir berada di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Pukul 18.50 WIB, tim gabungan dipimpin Basarnas, TNI, dan Polri berhasil menemukan lokasi jatuhnya helikopter. Dari hasil temuan di lokasi, seluruh penumpang dinyatakan meninggal dunia,” jelasnya.

Ia menambahkan, lokasi kejadian berada di wilayah yang sulit dijangkau dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit berjalan kaki dari Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau.

“Berdasarkan hasil koordinasi bahwa evakuasi tidak bisa langsung dilakukan mengingat kondisi yang terjal dan kurangnya pencahayaan, sehingga evakuasi dilakukan sejak pagi tadi pukul 06.00 WIB 17 April,” lanjutnya.

Identitas Para Korban

Helikopter tersebut dikemudikan oleh Pilot Kapten Marindra, dan Co Pilot Harun Arasyid, dengan total enam penumpang di dalamnya yakni  Victor Tan selaku COO KPN , Patrick (Spesial Advisor) yang mana merupakan warga Malaysia, 

Charles L (Mill Asistant engenering) merupakan warga Kabupaten Melawi, Joko Catur Prasetyo yakni mantan Head Plantation of Operation Kalimantan Barat PT Bumitama Gunajaya (anak usaha KPN).

Lalu, Fauzi sebagai Head Plantation of Operation Kalimantan Barat PT Bumitama Gunajaya (Anak usaha KPN), dan Sugito selaku Head EPD. 

Dalam proses penanganan, Polri turut menurunkan tim forensik serta menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan untuk membantu evakuasi, termasuk menyiagakan helikopter apabila diperlukan langkah lanjutan.

“Kami atas nama Polda Kalbar yang melaksanakan tugas mengucapkan turut berbela sungkawa dan duka mendalam kepada keluarga yang hadir maupun yang tidak bisa hadir. Kita akan membantu bersama, tadi kita mendapatkan arahan dari Pak Gubernur, kami bagian dari Pemprov Kalbar tentunya akan membantu proses yang akan dilaksanakan sampai selesai, dari penyerahan jenazah, transportasi sampai pengurusan jenazah,” katanya.

• Lengkap! Kesaksian Warga Dengar Detik-detik Ledakan dari TKP Helikopter PK-CFX Jatuh di Sekadau

Saat ini, proses identifikasi masih berlangsung, termasuk terhadap satu korban warga negara asing.

“Saat ini kita masih proses identifikasi sidik jari satu orang karena warga asing. Kita masih menunggu, walaupun ada manifest-nya, tapi dunia medis juga perlu identifikasi lebih lengkap,” ujarnya.

Irjen Pol Pipit juga menyampaikan permohonan maaf terkait keterlambatan informasi di awal kejadian, mengingat adanya indikasi sinyal telepon yang masih aktif sehingga tim berupaya memastikan kondisi di lapangan.

“Kami mendapat informasi pukul 11.00 WIB, dan kami belum bisa memastikan, karena kami mendapatkan informasi bahwa masih ada telepon yang masih hidup, sehingga kami berusaha menurunkan tim personel dari terdekat bersama Basarnas, TNI, Polri, Angkatan Udara dibantu Danlanud untuk mengecek lokasi koordinat, baru tim darat masuk ke lokasi,” jelasnya.

Dari total korban, satu orang berasal dari Melawi, sementara lainnya berasal dari luar Kalimantan Barat, termasuk satu warga negara asing asal Malaysia.

Terkait penyebab kecelakaan, Irjen Pol Pipit menegaskan hal tersebut menjadi kewenangan dari pihak berwenang yang bisa menjelaskan setelah mendapatkan kesimpulan.

“Terkait penyebab kecelakaan akan tetap didalami, saat ini yang berhak untuk memberikan informasi terkait kecelakaan transportasi udara adalah KNKT, yang mana ada pihak berwenang yang akan melakukan investigasi. Kita tidak bisa menjawab karena harus disimpulkan oleh pihak KNKT lebih dulu,” tegasnya.

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.