Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Meski tubuhnya kecil, keinginan kuat dimiliki Azizah Chandrasari untuk terus membantu Sang Ayah, Hermanto.
Sehari-hari, bocah berusia 6,5 tahun itu membantu ayahnya mencari rongsok.
Berbekal karung yang bahkan lebih besar dari tubuhnya, Azizah berkeliling untuk mencari kaleng, kardus, hingga botol bekas dan dikumpulkan dalam karung yang ia bawa.
Sudah sekitar dua pekan terakhir, siswa Taman Kanak-kanak (TK) itu mencari rongsok sendirian.
Ayahnya sakit dan tidak mencari rongsok.
"Pengen bantu ayah," kata Azizah singkat.
Sudah absen selama dua pekan, ia ingin segera bersekolah.
Ia ingin belajar agar bisa mewujudkan cita-citanya mencari seorang polisi wanita.
"Pengen jadi Polwan," ujarnya.
Azizah memang sudah sering membantu ayahnya mencari rongsok.
Biasanya, Azizah beserta ayah dan adiknya mencari rosok dengan sepeda.
Menurut Hermanto, ayah Azizah, anak pertamanya itu memang sosok yang kuat.
Azizah tidak pernah mengeluh meski terkadang harus berjalan jauh ketika mencari rosok.
Sekitar dua pekan ini, ia sedang sakit dan tidak bisa bekerja.
Namun, putri kecilnya membantunya, mulai dari membeli makanan, mencuci baju, hingga memijit.
Ada benjolan yang cukup besar di kepalanya.
Warga Sumatra yang menetap di Kota Yogyakarta sejak tahun 2004 itu pun tak tahu persis nama penyakitnya.
"Bukan tumor, nggak tahu namanya. Dulu kecil tapi lama-lama besar. Ya hampir dua tahunan. Kemarin saya sakit, dua minggu, jadi kan dia (Azizah) yang nyuci baju, nyuci piring, pijitin, ngepel. Karena kalau kena panas ngentak, ngenyut. Kalau kedinginan juga," ungkapnya.
"Dia juga sebenarnya lagi sakit, tifus, rambutnya pada rontok. Emang dia anaknya kuat. Pernah pas cari rosok (rongsok) sepeda penuh, dari Blok O sampai sini (Kampung Mrican, Giwangan) tahan dia jalan kaki. Dia itu orang yang keras (kuat) gitu. Cita-citanya pengen jadi polwan," lanjutnya.
Baca juga: Kisah Mbah Mardijiyono: Usia 103 Tahun, Tunaikan Wasiat Istri Jadi Jemaah Haji Tertua DIY
Hermanto adalah orangtua tunggal.
Istrinya pergi entah kemana dan kini tak diketahui keberadaannya.
Akhirnya, ia membesarkan kedua anaknya, Azizah dan Agip Pranata.
Mereka hidup bertiga di sebuah kos berukuran 2,5 meter x 3 meter di bantaran Sungai Gajah Wong.
Tepatnya di Kampung Mrican RT 24 RW 8, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Tinggal di tepi sungai, tentu banjir menjadi salah hal yang dapat mengintai. Namun terkadang banjir justru membawa rezeki.
"Kalau banjir kadang ya jaringin (botol dan kaleng yang hanyut). Kadang kan sampai sini (depan kos yang ditinggalinya)," jelasnya.
Penghasilannya tidak tentu, mulai dari Rp130.000 hingga Rp150.000, paling banyak Rp200.000 per tiga hari.
Setiap hari ia mencari rongsok, kemudian setiap tiga hari sekali ditimbang. Hasilnya ia sisihkan untuk makan hingga membayar kos.
"Penghasilannya nggak tentu, buat beli nasi Rp5.000, beli dua bungkus, kan Rp10.000. Nah kan beli dua kali, untuk siang sama sore, jadi Rp20. 000 buat makan bertiga. Terus setiap minggu nabung Rp100.000, karena kosnya kan Rp400.000," ujarnya.
Meski lahir di Sumatra, ia sudah tercatat sebagai penduduk Kota Yogyakarta.
Kini, ia berharap ada bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, khususnya untuk bantuan pendidikan anaknya.
Beruntung, kisah Azizah ini langsung mendapat respon.
Saat ini, Azizah dan adiknya tidak lagi tinggal di kos di daerah Giwangan, namun di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai wilayah Kotagede, Yogyakarta.
Yayasan tersebut milik Kanit Provos Polsek Kotagede, Ipda Ali Nur Suwandi.
Sosok yang kerap disapa Bon Ali itu mengatakan tempat tinggal Azizah dan adiknya cukup berbahaya.
Tinggal di dekat sungai, ia khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan. Untuk itu, ia mengajak Azizah dan Agip ke yayasannya.
Di yayasan tersebut, keduanya juga akan mendapatkan pendidikan formal, sama dengan anak-anak yang selama ini tinggal di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai.
"Sudah di yayasanku, sudah di Rumah Singgah Bumi Damai. Mesake (kasihan) rawan, depannya kan kali (sungai) kalau anak kecil kecemplung (tercebur) akan bahaya," imbuhnya. (*)