TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Kabupaten Jepara menjadi daerah penghasil genting terbesar tingkat Jawa Tengah bersama Kabupaten Kebumen.
Sentra industri genting di Bumi Kartini berpusat di Kecamatan Mayong, sebagian berada di Kecamatan Nalumsari dan Welahan.
Meski sebagian perajin banting setir menutup tempat produksi dengan beralih pada sektor usaha lain, produksi genting di Jepara masih cukup menjanjikan dengan beberapa produsen yang masih bertahan.
Sebagian produsen skala kecil hingga skala besar juga masih ada di tiga kecamatan tersebut.
Keberadaan mereka masih terlihat melalui kepulan asap yang membumbung tinggi setiap kali proses pembakaran berlangsung. Menandakan bahwa produksi genting di Kota Ukir masih hidup.
Para perajin genting di Kecamatan Mayong, Nalumsari, dan Welahan siap menyambut program "Gentingisasi" yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Menyambut secercah harapan agar permintaan genting meningkat dengan harga jual yang terdongkrak mendukung ekonomi kerakyatan yang lebih maju.
Satu di antara perajin genting asal Dusun Jatisari, Desa Gemiring, Kecamatan Nalumsari yang masih bertahan adalah Saifudin (51).
Dari seratusan perajin genting yang ada di Desa Gemiring, kini tersisa 20-an produsen genting yang masih bertahan.
Saifudin sendiri tercatat sudah 33 tahun menjadi perajin genting. Produksi gentingnya berskala menengah ke bawah mengandalkan dua pekerja dengan kemampuan produksi 450-500 biji per hari.
Meski demikian, produksi genting milik Saifudin masih bertahan dengan lika-liku perjuangannya. Sementara beberapa tempat produksi genting skala rumahan di dusun tersebut sudah banyak yang gulung tikar.
Saifudin sendiri memilih bertahan agar produsen genting di wilayah Gemiring, Kecamatan Nalumsari tetap hidup.
Dengan hanya mengandalkan satu alat pencetak genting, dia hanya mempekerjakan satu karyawan sebagai tenaga pencetak, dibantu dirinya sebagai tenaga penjemuran hingga pembakaran.
Kemampuan produksinya pun masih terbatas. Dengan memperhatikan jumlah permintaan yang disesuaikan dengan jumlah karyawan.
"Saat ini permintaan ya biasa-biasa saja. Permintaannya kecil, kemampuan produksinya juga tidak banyak. Mau produksi banyak, takutnya nanti permintaan enggak ramai. Jadi bertahan seperti saat ini saja," terang dia, Minggu (19/4/2026).
Biasanya, kata Saifudin, permintaan genting ramai pada musim kemarau sedianya awal Agustus hingga akhir Desember.
Sebagai perajin genting, dia menyambut baik program "Gentingisasi" yang digagas langsung presiden.
Dengan program tersebut, perajin berharap permintaan genting meningkat semakin banyak dengan pusat produksi genting Jepara dan Kebumen di Jawa Tengah.
Selain permintaan meningkat, Saifudin juga berharap harga pasaran genting juga terdongkrak di angka Rp 1.500 per biji.
Saat ini, harga jual genting produksinya berkisar di angka Rp 1.000 - 1.100 per biji. Berlaku pembelian dari dalam kabupaten atau luar kabupaten.
"Di saat musim ramai, paling tinggi harganya mentok Rp 1.300 per biji. Harapan kita nanti setelah program ini (gentingisasi) sudah jalan, harga genting bisa naik jadi Rp 1.500," harap dia.
Bahan Baku Sulit
Lika-liku perjuangan sebagai perajin tidak hanya berkutat pada pemasaran dan nilai jual.
Di sisi produksi, perajin juga mulai merasakan sulitnya mencari bahan baku tanah liat dan kayu sebagai media pembakaran.
Saifudin yang sebelumnya masih bisa mendapatkan bahan baku tanah liat di wilayah Jepara, kini harus mencari di daerah lain seperti halnya Kabupaten Kudus.
Tak hanya itu, kayu bakar pun didapatkan dari beberapa daerah di luar dari Kabupaten Jepara.
Belum lagi keterbatasan armada pengangkut yang mengharuskan Saifudin menyewa armada operasonal terlebih dahulu sebelum berburu bahan baku pembuatan genting.
"Kalau punya mobil (truk) sendiri bisa kapan saja cari bahan baku. Bagi kita produsen yang tidak memiliki armada jadi susah. Belum lagi begitu dapat, mau diambil sudah diserobot orang lain. Akhirnya ya harus cari lagi," tutur dia.
Terkait harga bahan baku, Saifudin menilai masih cukup standar dan terjangkau di kalangan perajin. Hanya saja ketersediaan bahan baku semakin berkurang.
Kondisi ini menjadi persoalan yang harus dihadapi perajin genting. Dukungan pemerintah sangat diperlukan untuk keberlanjutan sentra produksi genting di Kabupaten Jepara.
"Diharapkan program ini positif. Sedianya dilaksanakan akan ada permintaan banyak. Perminataan naik, harga bisa naik. Kalau pas sepi-sepinya, pernah harga jual sampai Rp 500 per unit dan itu kita rugi. Standarnya harga di angka Rp 1.000, kalau bisa ya Rp 1.500 per biji," jelasnya.
Saifudin menyebut, perajin genting dengan skala UMKM sejatinya butuh perhatian dari pemerintah.
Akses permodalan bagi mereka sedianya dipermudah agar mendapatkan suntikan dana dalam rangka pengembangan usaha.
Jika dibiarkan tanpa perhatian, bukan tidak mungkin perajin genting skala kecil dan menengah terancam berhenti dan gulung tikar. Berpengaruh pada sistem produksi genting di kawasan sentra industri.
"Tentu tiap tahun ada perbedaan permintaan. Pernah ngalami harga anjlog, banyak perajin gulung tikar jadi kuli bangunan dan ternak. Kami juga berharap akses permodalan juga bisa dipermudah, pinjaman usaha bisa diberikan buat pengembangan usaha, supaya tidak bon lagi," harap dia.
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan tengah mendata para perajin beserta daya produksi genting di wilayah Jepara. Utamanya perajin genting yang tersebar di Kecamatan Mayong, Welahan, dan Nalumsari.
Selain itu, Pemerintah Jepara juga menggagas program digitalisasi pada sektor idustri genting. Supaya nantinya pemesanan genting di Kabupaten Jepara bisa lebih mudah, cepat dan tersentral. (Sam)