Ibu Kandung Kenang Momen Terakhir Bersama Nazril Pakaya, Bocah Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo
Fadri Kidjab April 19, 2026 02:41 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Muh Nazril Pakaya (10), bocah yang menjadi korban hanyut di Sungai Bulango, Kota Gorontalo. 

Rica Verawary Mbiuwa (31), mengungkap detik-detik awal hilangnya sang anak hingga ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

Rica mengaku pertama kali menyadari anaknya hilang sekitar pukul 19.00 Wita setelah menerima panggilan telepon dari kerabatnya. 

Informasi tersebut datang dari tante Elmira, teman dekat Nazril.

"Saya dapat telepon dari tantenya Elmira, tanya Elmira kalau sedang bersama Azril," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Minggu (19/6/2026).

Pertanyaan itu seketika memicu kekhawatiran karena Nazril ternyata belum juga kembali ke rumah. Rica segera mencoba menghubungi ponsel putranya, namun panggilannya justru dijawab oleh orang lain.

"Saya kemudian menelepon anak saya, tapi yang mengangkat justru orang tua temannya. Katanya Nazril tidak ada di situ," tuturnya.

Kecemasan kian memuncak saat kabar dari warga mulai tersiar. Ayah Elmira dikabarkan menemukan barang-barang milik anak-anak di sekitar bantaran sungai.

"Karena sudah ada yang teriak, saya lari terus sampai di sungai itu," katanya.

Di lokasi itulah, ia menemukan tanda-tanda keberadaan anaknya: dua pasang sandal dan pakaian yang sangat ia kenali. 

"Baju terakhir yang dikenakan Nazril dan yang ditemukan sama dan sendalnya juga," ucapnya lirih.

Rica mengaku sama sekali tidak menaruh curiga sebelumnya karena Nazril biasanya bermain di rumah teman, bukan di sungai. 

Terlebih, ia sudah berulang kali melarang anaknya mendekati sungai.

"Sedangkan dia minta izin mandi hujan, saya tidak izinkan," ujarnya.

Baca juga: Fakta-fakta 2 Bocah Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo, Keluarga Sempat Curiga

Momen Terakhir Bersama

Rica Verawary Mbiuwa (31)
BOCAH HANYUT -- Rica Verawary Mbiuwa (31), ibu dari Muh Nazril Pakaya (10), bocah yang hanyut di Sungai Bulango, Minggu (19/4/2026). (Sumber: TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Momen kebersamaan terakhir yang diingat Rica adalah selepas salat Jumat. 

Saat itu, Nazril sempat membawa pulang dua bungkus nasi kuning sebelum berpamitan untuk bermain.

"Saya izinkan tapi saya ingatkan agar jangan lupa mengaji," kenangnya.

Beberapa hari sebelum kejadian, Rica merasakan perubahan sikap putranya yang menjadi jauh lebih manja.

"Dua malam terakhir dia ngobrol dengan saya dia menempel terus," ucapnya dengan suara bergetar. 
Baginya, kenangan itu kini menjadi harta terakhir yang tak tergantikan. 

"Senyum terakhir paling membekas," ujarnya.

Begitu mengetahui anaknya diduga hanyut, Rica langsung berlari menuju sungai dalam kondisi panik hingga sempat terjatuh.

"Saya teriak-teriak memanggil Nazril," katanya.

Dalam kepanikan tersebut, ia segera menghubungi suaminya, Nazri Fhiki Pakaya (34), yang tengah bekerja di Morowali, Sulawesi Tengah.

"Saya telepon suami dan semua keluarga untuk kasih tau yang terjadi," ungkapnya.

Meski sempat berharap mukjizat agar Nazril ditemukan selamat, kenyataan pahit harus diterimanya. 

Nazril ditemukan tidak jauh dari lokasi awal dalam kondisi meninggal dunia oleh kakeknya sendiri bersama tim SAR.

Baca juga: Kronologi Lengkap Penemuan 2 Bocah Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo

Sosok Nazril: Penurut dan Religius

KORBAN -- Foto semasa hidup Nazril Pakaya (ujung kanan) saat bersama teman sepermainanya. Foto ini ditunjukan keluarga kepada TribunGorontalo.com.
KORBAN HANYUT -- Foto semasa hidup Nazril Pakaya (ujung kanan) saat bersama teman sepermainan. Foto ini ditunjukan keluarga kepada TribunGorontalo.com. (TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Di mata sang ibu, Nazril adalah sosok anak yang penurut, pendiam, dan pemalu. 

Di usianya yang masih belia, ia juga dikenal religius. Nazril saat ini sudah mencapai tingkat Iqro 5 dan sangat bersemangat untuk segera khatam Al-Qur’an bersama sahabatnya, Elmira.

Kedekatan Nazril dan Elmira pun sudah sangat akrab bagi keluarga. Keduanya telah berteman sejak kelas 1 hingga kini duduk di kelas IV SD.

"Dari kelas 1 mereka sama-sama terus sampai kelas IV," jelas Rica. 

Ia menambahkan bahwa keduanya sering berbagi cerita rahasia layaknya anak-anak pada umumnya. 

"Ternyata mereka saling curhat dan saling simpan rahasia. Tapi hanya sebatas rahasia anak-anak pada umumnya," ungkapnya.

Dalam keseharian, Nazril dikenal sebagai anak yang lembut dan tidak tahan jika ditegur dengan nada tinggi.

"Kalau sudah suara tinggi, dia sudah mau minta maaf," katanya.

Kepedihan ini terasa kian menyesakkan mengingat ada rencana besar keluarga yang tak sempat terlaksana. 

Rica berencana menyusul suaminya ke Morowali pada bulan Juli mendatang agar Nazril bisa kembali berkumpul dengan ayahnya.

Kerinduan Nazril terhadap sang ayah memang sangat besar. 

Sebelum kejadian, ia sempat menelepon ayahnya untuk meminta izin pergi bersama ibunya.

"Itu telepon yang terakhir kali dengan ayahnya," pungkas Rica lirih. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.