TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Tim Inafis Polresta Mamuju bersama jajaran Polsekta Mamuju olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kebakaran Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Abd Syakur, Pasar Baru Mamuju, Sulawesi barat pada Minggu (19/4/2026).
Kebakaran ini menghanguskan Gedung pesantren.
Sebanyak enam ruang gosong dilalap Si jago Merah.
Baca juga: Kebakaran Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju Santri Selamat Asrama Jauh dari Lokasi Kebakaran
Baca juga: 6 Ruang Gedung Pesantren Hidayatullah Mamuju Gosong Terbakar Penyebab Masih Diselidiki
Pantauan di lokasi, petugas kepolisian telah memasang garis polisi (police line) di area yang terdampak paling parah.
Tim Inafis tampak mengenakan sarung tangan medis dan membawa sejumlah peralatan untuk mengidentifikasi sisa-sisa material yang terbakar.
Petugas terlihat teliti memeriksa puing-puing bangunan, memotret setiap sudut ruangan yang hangus, serta menandai beberapa titik yang dianggap krusial dengan papan penanda berwarna kuning.
Kapolsekta Mamuju, AKP Mustafa, mengatakan saat ini pihaknya masih dalam tahap awal pengumpulan data di lapangan.
"Kami masih fokus melakukan olah TKP untuk mencari fakta-fakta di lapangan," ujar AKP Mustafa saat ditemui di lokasi kejadian.
Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya hubungan arus pendek atau korsleting listrik, AKP Mustafa enggan berspekulasi lebih jauh.
"Kami belum bisa pastikan (penyebabnya)," tegasnya singkat.
Meski pihak kepolisian belum memberikan pernyataan resmi mengenai pemicu kebakaran, berdasarkan pantauan dan keterangan saksi di lokasi, api diduga kuat pertama kali muncul dari gedung security.
Seorang petugas keamanan (security) yang berada di lokasi saat kejadian menunjukkan sebuah titik di sudut ruangan yang sudah menghitam.
Ia menunjuk ke posisi di mana sebuah dispenser sebelumnya terpasang, yang diduga menjadi titik awal munculnya percikan api sebelum merembet ke bangunan TK dan SD di sekitarnya.
Ketua Yayasan Hidayatullah Mamuju, Gunawan memastikan seluruh santri dalam keadaan selamat menyusul kebakaran hebat yang menghanguskan sejumlah bangunan di kompleks pesantren Hidayatullah, Mamuju pada Minggu (19/4/2026) siang.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 11:00 WITA.
Gunawan menjelaskan saat api berkobar di area depan kompleks, para santri sedang berada di asrama yang letaknya cukup jauh dari titik pusat api.
"Alhamdulillah dalam keadaan aman. Karena asrama mereka letaknya ada di bagian belakang," ujar Gunawan saat ditemui di lokasi kejadian di Jalan Abd Syakur, Kompleks Pasar Baru.
Sesaat sebelum kejadian, Gunawan baru saja selesai mengikuti kegiatan kerja bakti bersama warga dan pihak di Kampus Dua Salu Talawar.
Ia baru menyadari adanya musibah tersebut saat sedang beristirahat di rumahnya.
"Posisi saya sedang istirahat di rumah di bagian belakang. Tiba-tiba istri datang memberi tahu kalau ada kebakaran di depan. Pas saya lari ke depan, apinya sudah sangat besar," tuturnya.
Meski api sempat memicu kepanikan luar biasa di lingkungan pesantren, evakuasi santri berjalan lancar karena api terkonsentrasi di area depan yang merupakan bangunan sekolah dan kantor layanan zakat.
Saat ini, pihak yayasan fokus pada penenangan santri dan pengamanan area asrama.
Sebanyak enam ruangan Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju yang berada di Kawasan pasar Baru, Mamuju, Sulawesi barat gosong terbakar pada Minggu (19/4/2026).
Ketua Yayasan Hidayatullah Mamuju, Gunawan, merinci bangunan yang terbakar didominasi ruang belajar mengajar untuk tingkat pendidikan anak usia dini dan dasar.
"Yang terbakar itu bangunan TK, SD, kemudian gedung Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Total ada lima ruang kelas dan satu ruang BMH. Jadi total enam ruangan semuanya," kata Ketua Yayasan Hidayatullah Mamuju, Gunawan kepada awak media.
Hingga saat ini, pihak yayasan belum bisa memastikan penyebab pasti munculnya api maupun total kerugian material yang diderita.
"Asal usul apinya dari mana, saya belum tahu. Tadi kejadiannya sekitar jam 11 sekian. Untuk estimasi kerugian, saya belum bisa perkirakan karena kita harus hitung juga isi di dalam TK dan kantor BMH itu apa saja," tambahnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan-bangunan tersebut mengalami kerusakan berat, terutama pada bagian atap dan interior ruangan.
Pihak yayasan mengaku masih syok atas musibah yang terjadi secara tiba-tiba ini, mengingat aktivitas pendidikan biasanya sangat padat di area tersebut.
Proses pendinginan tim pemadam kebakaran masih berlangsung guna memastikan tidak ada sisa bara api di bawah puing-puing bangunan yang hangus.
Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan suasana mencekam saat api dengan cepat merambat ke bangunan utama pesantren.
Material bangunan yang didominasi kayu dan atap seng membuat api sulit dikendalikan dalam waktu singkat. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Suandi