TRIBUNBENGKULU.COM - Beberapa waktu lalu Wakil Presiden Gibran Rakabuming sempat menegaskan bahwa pemerintah memilih untuk tidak menaikan harga BBM agar dapat terjangkau masyarakat.
Hal itu sesuai dengan arahan Presiden Prabowo.
“Arahan bapak Presiden Prabowo yang secara jelas dan tegas telah memerintahkan jajarannya untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh masyarakat kecil,” kata Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews, Kamis, (9/4/2026).
Pemerintah tidak ingin masyarakat kecil semakin terbebani kebutuhan hidup.
Menurut Gibran kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga kebutuhan lainnya.
“Pemerintah bertekad melakukan efisiensi dan refocusing anggaran untuk melindungi masyarakat lapisan bawah agar tidak terbebani efek berantai dari kenaikan harga BBM seperti kenaikan harga bahan pokok, biaya transportasi, dll,” katanya.
Kemudian dalam jangka panjang, Gibran mengatakan pemerintah akan mempercepat transisi energi baru terbarukan.
Sehingga Indonesia tidak bergantung pada energi fosil.
“Selain itu, akselerasi transisi menuju penggunaan kendaraan listrik dan energi terbarukan juga terus didorong. Hari ini Bpk Presiden melakukan kunjungan ke Magelang untuk meresmikan Pabrik Perakitan Kendaraan Listrik, sebagai salah satu bentuk keseriusan pemerintah,” pungkasnya.
Tak Sesuai Fakta
Kini kenyataannya harga BBM justru mengalami kenaikan alias tak sesuai dengan omongan Wakil Presiden tersebut.
PT Pertamina (Persero) menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per Sabtu (18/4/2026).
Mengutip laman mypertamina.id, kenaikan terjadi pada BBM jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Sementara itu, BBM nonsubsidi lainnya seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan harga.
Penyesuaian harga ini dilakukan setelah sebelumnya, per 1 April 2026, Pertamina memutuskan tidak menaikkan harga BBM meski terjadi lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Secara perinci, harga Pertamax Turbo kini dibanderol sebesar Rp 19.400 per liter, naik Rp 6.300 dari sebelumnya Rp 13.100 per liter.
Kemudian, harga Dexlite menjadi Rp 23.600 per liter, melonjak Rp 9.400 dari sebelumnya Rp 14.200 per liter.
Harga Pertamina Dex juga mengalami kenaikan menjadi Rp 23.900 per liter, atau naik Rp 9.400 dari sebelumnya Rp 14.500 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax tetap sebesar Rp 12.300 per liter dan Pertamax Green 95 tetap Rp 12.900 per liter.
Harga tersebut berlaku di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta dan Banten.
Namun, harga BBM Pertamina di setiap daerah dapat berbeda, tergantung pada besaran pajak daerah serta biaya distribusi ke masing-masing wilayah.
Daftar Harga BBM Nonsubsidi
Berikut daftar harga BBM nonsubsidi Pertamina per 18 April 2026:
Pertamax: Rp 12.300 per liter
Pertamax Turbo: Rp 19.400 per liter
Pertamax Green 95: Rp 12.900 per liter
Dexlite: Rp 23.600 per liter
Pertamina Dex: Rp 23.900 per liter
Bahlil Pastikan Stok Aman
Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa kenaikan ini hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.
Kebijakan tersebut merupakan arahan langsung Presiden dan didukung kondisi stok energi nasional yang dinilai masih aman serta berada di atas batas minimum.
"Saya sampaikan kepada publik, bahwa insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insyaallah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun." tegas Bahlil di Istana Negara, Kamis (16/4).
Sementara itu, dari sisi pasokan, pemerintah masih menghadapi kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari.
Kondisi ini terjadi karena konsumsi BBM nasional mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri baru berada di kisaran 600-610 ribu barel per hari.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka peluang penguatan kerja sama energi dengan Rusia, tidak hanya pada pasokan minyak mentah, tetapi juga pada sektor infrastruktur penunjang.
Bahlil menyebut ada pembahasan mengenai investasi di bidang kilang dan penyimpanan energi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
"Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang pick up.sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan," ujar Bahlil.