TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Puluhan perempuan tangguh menerjang ombak sembari mengenakan kebaya lengkap dalam ajang Kartini Go Surf (KGS) 2026 di Pantai Kuta, Badung, Bali, pada Minggu 19 April 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-12 sejak tahun 2010, event ini bukan sekadar pamer ketangkasan berselancar, melainkan sebuah pernyataan tentang kesetaraan dan inklusivitas di atas papan selancar.
Tahun ini, sorotan utama tertuju pada Team CORTI Deaf Surfers, kelompok peselancar perempuan tuli yang berada di bawah naungan Yayasan Corti.
Keenam peselancar tersebut adalah Ayu Intan Melisa Maharani (21), Ni Komang Namira Dharma Yanti (17), Putu Indah Cahyani Dewi (18), Komang Ayu Krishna Kirana (18), Cecilia Astrid (19), dan Maria Fatima Seran (22).
Baca juga: GASKAN Kartini Fest 2-3 Mei di Peninsula Island, Ada JKT 48 & Artis Lokal, Target 14 Ribu Pengunjung
Salah satu peserta, Ayu Intan Melisa Maharani, tampak mahir menyeimbangkan diri di atas papan meskipun pergerakannya terbatas oleh kain kebaya.
Melalui bantuan penerjemah, gadis berusia 21 tahun yang akrab disapa Intan ini mengaku sangat antusias mengikuti ajang ini untuk ketiga kalinya.
"Meskipun kami memakai kebaya, itu bukan tantangan. Jadi tidak ada masalah. Saya mulai belajar surfing sejak 2022 karena memang ini hobi saya," ujar Intan.
Ia memberikan pesan untuk perempuan Indonesia agar terus memberikan dukungan pada semangat Kartini melalui aksi nyata seperti berselancar.
Ketua Yayasan Corti dan Rumah Budaya Taman Sari, Ir. I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menjelaskan bahwa keikutsertaan Team Corti yang ketiga kalinya ini bertujuan mendobrak batas stigma terhadap disabilitas.
Baginya, laut adalah ruang yang sangat adil bagi siapa saja.
"Laut adalah guru yang adil. Ia tidak membedakan gender, ia tidak peduli apakah seseorang bisa mendengar atau tidak," ucap dia.
"Laut hanya menuntut keseimbangan, keberanian, dan resiliensi," imbuhnya.
Kehadiran para surfer tuli ini adalah manifestasi nyata dari inklusivitas dan emansipasi modern.
"Kita sedang mendobrak batas ganda, stigma tentang keterbatasan fisik dan batasan tentang apa yang mampu dilakukan oleh seorang perempuan," tegas Gung Mira.
Gung Mira menambahkan, para remaja putri ini didorong untuk mengasah skill agar ke depan bisa berkiprah di dunia pariwisata air, bahkan menjadi pelatih bagi turis yang berkunjung ke Bali.
"Kesetaraan adalah akses, kesempatan adalah prestasi, bukan belas kasihan," ujar dia.
Inisiator sekaligus Owner Magicwave, Bagus Made Irawan yang akrab disapa Piping, mengungkapkan bahwa roh dari Kartini Go Surf adalah penghormatan kepada sosok ibu dan perempuan secara umum.
Namun, di balik keberhasilan event tahun ini, Piping memberikan sinyal mengejutkan mengenai lokasi penyelenggaraan.
"Mulai sadar bahwa kita lelaki ini lahir dari perempuan, gitu aja. Namun, dari 2010 sampai 2026 ini, kemungkinan ini yang terakhir di Kuta," jelasnya.
"Bukan karena sampah, tapi ada alasan lain. Saya tidak bersumpah tapi saya berjanji bahwa kemungkinan saya pindah lokasi tahun depan," imbuh Piping.
Piping juga menyiratkan adanya kekecewaan terkait biaya lokasi yang kini dibebankan kepada pihak penyelenggara.
Meski demikian, ia merasa puas melihat regenerasi peselancar muda dan antusiasme kelompok disabilitas yang tetap tinggi.
Baginya, memberikan panggung bagi perempuan, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, adalah cara terbaik merayakan semangat Raden Ajeng Kartini di era modern. (*)