Malam Puncak Batik Omah Laweyan Awards 2025 Digelar di Surabaya, Angkat Kreativitas Anak
Dyan Rekohadi April 19, 2026 03:04 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Malam puncak atau awarding Batik Omah Laweyan Awards 2025 digelar meriah di The Southern Hotel Surabaya, Sabtu (18/4/2026) malam.

Acara ini menjadi grand final dari rangkaian lomba fashion show batik dan “Ayo Membatik” yang telah melalui seleksi panjang dari berbagai daerah.

Anak-anak usia dini tampil percaya diri mengenakan busana batik sekaligus menunjukkan hasil karya membatik mereka.

Baca juga: Promosi dan Lestarikan Produk Kerajinan Batik Lamongan Lewat Kegiatan Fashion Show

 

Ketua Umum PP IGTKI PGRI, Eka Putri Handayani, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi bagian dari upaya membangun karakter anak sejak dini. 

Menurutnya, melalui kegiatan kreatif seperti ini, anak-anak dapat mengembangkan rasa percaya diri, kreativitas, hingga kemampuan kognitif.

“Anak-anak dikenalkan budaya batik melalui cara yang menyenangkan, seperti permainan, video, gambar, hingga praktik langsung bersama guru dan orang tua,” ujarnya.

Ia menambahkan, ajang ini merupakan agenda tahunan yang digelar berjenjang mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi sebelum akhirnya mencapai tahap grand final.

Jumlah peserta di tahap awal pun disebut mencapai ratusan ribu anak yang kemudian diseleksi hingga tersisa finalis terbaik.

bATIK OMAH Laweyan Awards 2025 di The Southern Hotel Surabaya
PERCAYA DIRI - Seorang peserta tampil percaya diri membawakan busana batik saat grand final Batik Omah Laweyan Awards 2025 di The Southern Hotel Surabaya, Sabtu (18/4/2026). Ajang ini menjadi wadah bagi anak usia dini untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya batik

 

Pertama kali di Surabaya

Sementara itu, Direktur Utama Batik Omah Laweyan, Bagas Wijianto Nugraha, mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi momentum spesial karena untuk pertama kalinya ajang tersebut digelar di Surabaya. 

Selain fashion show, panitia juga menghadirkan final lomba “Ayo Membatik”.

“Program membatik ini kami rancang dengan teknik nyolet atau colet yang aman dan nyaman untuk anak usia dini,” jelasnya.

Pada malam puncak, masing-masing kategori diikuti 12 finalis.

Dari jumlah tersebut, dipilih enam terbaik untuk kategori juara 1, 2, 3 serta harapan 1, 2, dan 3, baik untuk lomba membatik maupun fashion show.

Bagas menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari misi mengenalkan batik sebagai warisan budaya sejak dini sekaligus menumbuhkan rasa bangga anak-anak dalam mengenakannya.

“Kami ingin anak-anak tidak menganggap batik sebagai sesuatu yang kuno, tetapi justru bangga dan nyaman memakainya. Ini juga menjadi bagian dari regenerasi di dunia batik ke depan,” pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.