TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Puluhan pelajar SMAN 1 Purwakarta akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada Minggu (19/4/2026).
Langkah ini diambil setelah video aksi mereka yang mengejek seorang guru menjadi viral dan memicu kecaman luas di media sosial.
Melalui unggahan di akun Instagram @yantovharay12, puluhan siswa kelas 11 IPS tampak memberikan gestur tangan memohon maaf.
Nabila, sebagai perwakilan kelas, menyampaikan pernyataan resmi mereka.
"Assalamu’alaikum waromhatullahi wabarokatuh. Perkenalkan saya Nabila perwakilan dari kelas 11 IPS memohon maaf yang sebesar-besarnya terutama kepada Ibu S, kepada Kepala Sekolah beserta guru-guru, dan alumni," ujar Nabila dalam video tersebut.
Ia juga mengakui bahwa perbuatan mereka merupakan tindakan yang tidak beretika terhadap tenaga pendidik.
"Saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas kepada ibu guru kami yaitu ibu S. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya," tambahnya.
Meskipun sudah meminta maaf, gelombang kritik dari warganet tetap mengalir deras. Banyak pihak yang menilai tindakan tersebut sudah melampaui batas candaan.
Akun @shofwall_ yang mengaku sebagai seorang guru memberikan tanggapan keras di kolom komentar.
"Saya sebagai guru Z mengutuk keras kejadian ini tidak ada permintaan maaf yang harus diterima karena ini bukan lagi masuk lelucon atau candaan tapi ini penghinaan besar dan pelecehan martabat seorang guru," tulis akun tersebut.
Senada dengan hal itu, akun @muelkcima bahkan mengusulkan sanksi administratif yang berat bagi para siswa.
"Blacklist dari semua universitas / perusahaan saat mereka lulus," tulisnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memantau perkembangan kasus ini.
Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memanggil orang tua para siswa yang bersangkutan.
Baca juga: Sosok Pelajar yang Tewas dalam Tawuran di Jalan Lingkar Dramaga, Nyawa Tak Tertolong Saat Diobati
Berdasarkan laporannya, orang tua siswa tersebut merasa sangat terpukul.
"Anak tersebut, orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah, orang tuanya menangis merasa menyesal atas perilaku anaknya," kata Dedi Mulyadi dalam pernyataannya pada Sabtu (18/4).
Pihak sekolah sebenarnya telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari.
Namun, Dedi Mulyadi mengusulkan agar bentuk hukuman tersebut diubah menjadi sanksi sosial yang lebih nyata agar bisa membentuk karakter siswa.
"Saya memberikan saran, anak itu tidak diskorsing selama 19 hari. Ini saran, mudah-mudahan bisa digunakan. Tetapi mendapatkan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari, dan membersihkan toilet. Waktunya bisa satu bulan, bisa dua bulan, bisa tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu," jelas pria yang akrab disapa KDM ini.
Dedi menegaskan bahwa tujuan utama pemberian hukuman bukanlah untuk menyiksa, melainkan untuk edukasi.
"Prinsipnya dasarnya adalah, setiap hukuman yang diberikan harus bermanfaat bagi pembentukan karakter," tuturnya.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki, juga menyatakan kekecewaannya.
Ia menilai tindakan siswa di sekolah unggulan tersebut telah mencederai program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya yang digalakkan di Jawa Barat.
"Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma," ungkap Agus.
Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari perilaku tersebut di era digital.
"Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama," tutupnya.