TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sejumlah penjual material di Kabupaten Klungkung, Bali, mengeluhkan lonjakan harga pasir dalam sepekan terakhir.
Ini merupakan imbas langsung dari kenaikan harga sejumlah BBM non subsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.
Seperti yang diungkapkan seorang pedagang pasir di Klungkung, I Nengah Sarta.
Menurutnya kenaikan harga pasir sudah terjadi sepekan belakangan. Meskipun pemerintah baru melakukan penyesuaian harga per Sabtu 18 April 2026.
Baca juga: Dampak Kenaikan BBM Mulai Terasa, Pertamax Sulit Didapat, Warga Khawatir Biaya Hidup Melonjak
"BBM sudah ada kenaikan ya? Tapi harga pasir sudah naik semingguan," ungkap Sarta saat ditemui di tempat usahanya, Minggu 19 April 2026.
Sarta mendatangkan pasir dari wilayah Karangasem. Kenaikan harga pasir telah terjadi di sejumlah lokasi Galian C di Kabupaten Karangasem, Bali.
Berdasarkan informasi, kenaikan harga dipicu dari penyesuaian harga Dexlite dan Pertamina Dex yang menjadi bahan bakar alat berat atau ekskavator, sehingga membuat operasional di beberapa lokasi tambang juga ikut meningkat.
"Karena kenaikan harga ini, penjualan menurun. Masyarakat masih menunggu harga stabil," ungkapnya.
Sebelum kenaikan harga, Sarta mengaku membeli pasir Rp1.850.000 per truk. Namun saat ini harganya sudah melonjak jadi Rp2.300.000 per truk.
"Mahal sekali pasir sekarang. Semoga saja harga segera bisa turun lagi," harapnya.
Beberapa sopir truk yang sehari-hari mengangkut pasir untuk dijual, juga terpaksa sementara memarkir kendaraannya karena pembatalan order.
Kenaikan harga pun cukup signifikan. Berdasarkan informasi di lapangan, harga pasir di lokasi tambang yang awalnya Rp800 ribu menjadi Rp1.200.000 per truk.
Kondisi ini membuat banyak pembeli material membatalkan orderan. Sehingga sementara sopir truk pengangkut pasir harus memarkir armada mereka.
"Sudah dua hari ini saya tidak angkut pasir, pembeli cancel orderan karena harga pasir naik," ungkap seorang sopir truk asal Sidemen, Gede Aris.
Menurutnya sebelum kenaikan harga, ia menjual pasir ke pelanggannya seharga Rp2000.000 per truk.
Harga tersebut sudah termasuk biaya angkutan dan faktur (pajak).
"Sekarang harga satu truk ke pelanggan yang kualitas baik bisa Rp2,3 juta per truk ," ungkap dia.
Sementara beberapa kontraktor juga kelimpungan dengan kenaikan harga material, khususnya pasir.
Menurutnya biaya operasional meningkat drastis, padahal proyek sudah berjalan.
"Naiknya benar-benar memberatkan. Harga pasir cor sampai Rp2,5 juta. Padahal proyek sudah berjalan," ungkap seorang kontraktor, Ngurah Gde. (mit)