TRIBUNGORONTALO.COM – Kepergian Muh Nazril Pakaya (10), bocah yang hanyut di Sungai Bulango membuat sang ayah, Nazri Fhiki Pakaya (34), terpukul.
Dalam sesi wawancara yang awalnya berlangsung tenang, emosi sang ayah perlahan meluap ketika pembicaraan mulai menyentuh sosok Nazril dan kenangan terakhir bersamanya.
Sebelum wawancara dengan Rica dimulai, Fhiki tampak cukup tegar. Ia bahkan sempat menceritakan kronologi kejadian yang ia ketahui dengan nada bicara yang tenang, meski dirinya tidak berada di lokasi saat peristiwa nahas itu terjadi.
Ia mengaku bahwa saat kejadian, dirinya sedang bekerja di Morowali, sehingga informasi lebih mendetail justru diketahui oleh istrinya.
"Tapi kalau cerita lengkapnya istri saya yang tahu, karena saya saat itu ada di Morowali," ujarnya saat ditemui TribunGorontalo.com, Minggu (19/4/2026).
Fhiki kemudian memilih untuk mendampingi sang istri selama proses wawancara. Ia lebih banyak terdiam, memberikan ruang bagi Rica untuk menceritakan detik-detik kehilangan putra mereka.
Baca juga: Fakta-fakta 2 Bocah Hanyut di Sungai Bulango Gorontalo, Keluarga Sempat Curiga
Suasana seketika berubah haru saat pembahasan mengarah pada kenangan pribadi bersama Nazril. Dengan suara bergetar, Rica mengenang momen-momen terakhir bersama anak sulungnya tersebut.
Ia mengisahkan bagaimana Nazril sempat berpamitan untuk bermain selepas salat Jumat, membawa pesan sederhana yang kini terasa begitu mendalam.
"Saya izinkan tapi saya ingatkan agar jangan lupa mengaji," katanya.
Tak hanya itu, Rica juga mengenang kedekatan mereka yang tidak biasa pada hari-hari terakhir sebelum kejadian.
"Dua malam terakhir dia ngobrol dengan saya dia menempel terus," ucapnya.
Setiap kalimat yang terucap dari sang ibu seolah membuka kembali luka yang berusaha ditahan oleh Fhiki. Puncaknya adalah ketika Rica mengungkapkan momen komunikasi terakhir antara Nazril dan ayahnya.
Rica menceritakan bahwa sesaat sebelum kejadian, Nazril sempat menghubungi sang ayah untuk meminta izin.
"Itu telepon yang terakhir kali dengan ayahnya," ucap Rica lirih.
Mendengar hal tersebut, pertahanan Fhiki runtuh. Ia yang sejak awal berusaha tegar akhirnya tak mampu lagi membendung air mata. Tangisnya pecah dalam diam. Ia tertunduk lesu.
Semakin Rica mengenang sosok Nazril, semakin dalam pula duka yang terpancar dari wajah Fhiki. Karena tak kuasa lagi menahan emosi, Fhiki akhirnya memilih masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri.
Di mata sang ibu, Nazril adalah sosok anak yang penurut, pendiam, dan pemalu.
Di usianya yang masih belia, ia juga dikenal religius. Nazril saat ini sudah mencapai tingkat Iqro 5 dan sangat bersemangat untuk segera khatam Al-Qur’an bersama sahabatnya, Elmira.
Kedekatan Nazril dan Elmira pun sudah sangat akrab bagi keluarga. Keduanya telah berteman sejak kelas 1 hingga kini duduk di kelas IV SD.
"Dari kelas 1 mereka sama-sama terus sampai kelas IV," jelas Rica.
Ia menambahkan bahwa keduanya sering berbagi cerita rahasia layaknya anak-anak pada umumnya.
"Ternyata mereka saling curhat dan saling simpan rahasia. Tapi hanya sebatas rahasia anak-anak pada umumnya," ungkapnya.
Dalam keseharian, Nazril dikenal sebagai anak yang lembut dan tidak tahan jika ditegur dengan nada tinggi.
"Kalau sudah suara tinggi, dia sudah mau minta maaf," katanya.
Kepedihan ini terasa kian menyesakkan mengingat ada rencana besar keluarga yang tak sempat terlaksana.
Rica berencana menyusul suaminya ke Morowali pada bulan Juli 2026 agar Nazril bisa kembali berkumpul dengan ayahnya. (*)