TRIBUNBENGKULU.COM - Sosok guru yang menjadi sasaran olok-olok oleh siswa SMA Negeri 1 Purwakarta berujung viral di media sosial.
Guru perempuan yang menjadi korban dalam peristiwa ini diketahui bernama Atum.
Ia merupakan pengajar yang relatif baru bertugas di sekolah tersebut.
Meski baru, sosoknya ternyata sudah meninggalkan kesan mendalam bagi banyak siswa dan alumni. Di media sosial, sejumlah warganet yang mengaku pernah diajar oleh Atum memberikan kesaksian yang kontras dengan perlakuan yang ia terima dalam video.
Banyak yang menyebutnya sebagai guru yang tegas dan disiplin, namun juga penuh perhatian dan kasih sayang terhadap murid.
Komentar bernada haru dan geram pun bermunculan, menggambarkan betapa sosok Atum sebenarnya sangat dihormati oleh mereka yang mengenalnya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Purwakarta, Ida Rosida, memastikan bahwa sembilan siswa yang terlibat telah menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Penindakan tersebut mengacu pada pedoman pendidikan karakter Pancawaluya serta tata tertib sekolah.
Langkah ini diambil sebagai bentuk penegakan disiplin sekaligus pembelajaran bagi para siswa agar memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengusulkan pendekatan yang lebih edukatif.
Ia menyarankan agar hukuman diganti dengan kegiatan yang memiliki nilai pembelajaran, seperti membersihkan lingkungan sekolah.
“Saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing selama 19 hari… tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari dan membersihkan toilet,” ucapnya.
Menurutnya, hukuman semacam ini tidak hanya memberi efek jera, tetapi juga membentuk rasa tanggung jawab dan kedisiplinan siswa secara langsung.
Durasi hukuman pun dapat disesuaikan, berkisar antara satu hingga tiga bulan, tergantung perubahan sikap yang ditunjukkan.
Dedi menegaskan bahwa esensi dari sebuah hukuman bukan sekadar memberi sanksi, melainkan membangun karakter. Ia mengingatkan bahwa para siswa tetaplah anak-anak yang membutuhkan bimbingan, baik dari orang tua maupun guru.
“Prinsip dasar adalah setiap hukuman yang diberikan harus hukuman yang memberikan manfaat bagi pembentukan karakter.
Bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan oleh gurunya,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan nilai.
Di tengah era digital yang serba terbuka, pengawasan dan pembinaan karakter menjadi semakin penting agar ruang kelas tetap menjadi tempat yang aman dan penuh rasa hormat.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan sembilan siswa kelas XI IPS. Peristiwa terjadi pada Kamis (16/4/2026), tepat setelah kegiatan belajar mengajar terkait pengolahan makanan selesai.
Guru yang menjadi sasaran diketahui bernama Atum, seorang pengajar yang baru bertugas di sekolah tersebut.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan, bahkan ada yang melakukan tindakan provokatif seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah guru.
“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto.
Hingga kini, motif di balik tindakan para siswa masih dalam proses pendalaman oleh pihak sekolah dan dinas terkait.
Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.
Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan.
Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar.