Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War
Muhammad Hadi April 19, 2026 09:03 PM

Oleh: Yunidar Z.A*)

Buku Michel Foucault kegilaan dan peradaban yang diterjemahkan dari Madnesss and Civilization, A History of Insanity in Age of Reason by Michel Foucault, Translate from the French by Richard Howarsd Vitage Books Edition, November 1988. 

Foucault menelusuri bagaimana sejarah kegilaan bergeser dari pengecualian fisik (diasingkan) ke pengurungan, di mana masyarakat menindas mereka yang dianggap tidak rasional demi mengontrol ketertiban sosial.

Nah, apakah ini yang sedang dilakukan kekuasan agresi militer Amerika Serikat bersama sekutunya zionis Israel terhadap Iran atau yang zionis Israel praktekkan di Palestina ?  Orang barat kini mungkin sudah mencapai puncak hidup yang lebih baik daripada penderitaan masa lalu dalam perang, penyakit dan ketidak pastian hidup. 

Boleh jadi perang juga suatu kegilaan dan penindasan yang dilakukan oleh yang berkuasa terhadap yang lemah untuk menindas, sepanjang sejarah manusia telah membuktikan tidak pernah menjadi jalan keluar yang sejati bagi peradaban manusia. 

Kegilaan hanya menghadirkan kehancuran yang berulang, meninggalkan luka sosial, ekonomi, dan kemanusiaan yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Dalam konteks agresi militer Amerika Serikat, Israel terhadap Iran, kehancuran peradaban terlihat nyata.

Pada sisi lain juga ada jaringan perdamain masyarakat internasional yang terus mendorong agar perang segera dihentikan dan para pihak yang terlibat dalam pertikaian segera kembali ke meja diplomasi. Seruan global ini bukan sekadar retorika moral. 

Tapi, kebutuhan nyata demi menjaga keberlangsungan peradaban dunia. Ketika perang terus dipertahankan karena “jualan saham persenjataan terus naik”, yang dipertaruhkan bukan hanya kedaulatan negara, melainkan masa depan species manusia itu sendiri.

Dorongan menuju perdamaian semakin kuat seiring meningkatnya kesadaran global bahwa konflik bersenjata modern memiliki dampak yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Perang tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, ekologi, lingkungan. 

Tapi juga merusak tatanan sosial dan psikologis masyarakat. Oleh karena itu, gencatan senjata menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengembalikan stabilitas. Dalam situasi terkini, perpanjangan gencatan senjata menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga harkat dan martabat kemanusiaan serta menjamin keamanan manusia (human security).

Baca juga: Trump Serang NATO: Disebut Tak Berguna Saat Perang Iran Hampir Usai, Ketegangan Sekutu Memanas

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika gencatan senjata diberlakukan, aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan hingga sekitar 90 persen. Di Teheran, kehidupan perlahan pulih, kemacetan kembali terjadi sebagai tanda aktivitas ekonomi bergerak, meskipun sektor pendidikan masih beradaptasi. 

Sekolah dan universitas sebagian besar masih menjalankan pembelajaran secara daring, terutama di kampus-kampus yang terdampak langsung oleh serangan. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan pascakonflik membutuhkan waktu, memba ngun Kembali  sekaligus menegaskan pentingnya stabilitas jangka panjang.

Namun demikian, harapan terhadap perdamaian tetap dibayangi rasa curiga. Masyarakat internasional berharap agar Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali ke meja perundingan dapat memperkuat rasa saling percaya dan menurunkan tensi agresi militer. 

Tanpa adanya kepercayaan, setiap gencatan senjata akan selalu rapuh dan berpotensi dilanggar sewaktu-waktu. Di sisi lain, masyarakat sipil tetap berada dalam kondisi siaga, menyadari bahwa konflik dapat kembali pecah kapan saja. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan psikologis yang tidak kalah berat dibandingkan dampak fisik perang itu sendiri.

Jika sikap saling curiga terus dipertahankan, dipelihara dan perang tetap menjadi pilihan utama, maka kerugian besar tidak dapat dihindari. Bagi negara-negara yang terlibat langsung melakukan agresi militer, seperti Amerika Serikat dan Israel, biaya perang akan terus meningkat, baik dalam bentuk anggaran militer maupun tekanan politik domestik dan internasional. 

Sementara itu, korban jiwa dan penderitaan rakyat sipil akan terus bertambah, menjadi bukti nyata kegagalan diplomasi. Dalam perspektif yang lebih luas, perang hanya memperdalam ketimpangan global dan memperlambat kemajuan peradaban manusia.

Di tengah situasi perang dangencatan senjata “jeda kemanusian” ini, rakyat Iran menunjukkan kesiagaan yang tinggi. Salah satu fenomena yang muncul adalah partisipasi masyarakat dalam bentuk relawan pertahanan yang dikenal sebagai janfada (جان فدا). 

Semangat ini mencerminkan kesiapan rakyat untuk mempertahankan tanah air mereka dari kemungkinan serangan darat. Hingga saat ini, jutaan warga Iran telah mendaftarkan diri sebagai bagian dari kesiapan nasional tersebut. Angka yang disebutkan mencapai sekitar 26 juta jiwa, sebuah mobilisasi sosial yang menunjukkan kuatnya rasa nasionalisme, ideologi dan solidaritas di tengah ancaman eksternal.

Namun, semangat pertahanan ini tidak semata-mata mencerminkan keinginan untuk berperang, melainkan juga bentuk respons terhadap ketidakpastian keamanan manusia. 

Di satu sisi, masyarakat ingin hidup damai dan kembali menjalani kehidupan normal. Di sisi lain, mereka merasa perlu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Dualitas ini menjadi gambaran nyata bagaimana perang memaksa masyarakat hidup dalam paradoks antara harapan dan kecemasan.

Sebagai sebuah bangsa dengan sejarah panjang, Republik Islam Iran merupakan salah satu pusat peradaban dunia yang memiliki warisan budaya dan intelektual yang kaya. Kota - kota seperti Yazd, Isfahan, dan Shiraz menjadi simbol keberlanjutan peradaban yang dijaga dengan penuh kehati-hatian. 

Di beberapa wilayah tersebut, infrastruktur lama tetap dipertahankan dan tidak diganggu oleh pembangunan modern yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban bukan hanya tentang kemajuan teknologi, namun juga tentang menjaga warisan sejarah dan identitas budaya.

Memulihkan Iran pascakonflik menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditunda. Upaya rekonstruksi tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan sosial dan psikologis masyarakat. 

Dalam konteks global, pemulihan ini memiliki makna yang lebih luas, yaitu membangun kembali masa depan peradaban umat manusia yang tercerahkan,  lebih beradab, berbasis ilmu pengetahuan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian menjadi fondasi utama bagi terciptanya kemajuan tersebut.

Semangat rakyat Iran dalam memperjuangkan perdamaian juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh pemikiran tokoh intelektual Islam, seperti Ali Syariati. Islam sebagai agama ideologi pembebasan dan revolusioner, yang memadukan ajaran Tauhid dengan sosiologi modern untuk melawan penindasan, kemandirian ummat sebagai intektual tercerahkan

Baca juga: VIDEO - Iran Tembaki 2 Kapal Super Tanker Sekutu AS, Blokade AS Bikin Khamenei Meradang

Pemikirannya tentang keberanian, kesadaran, dan transendensi menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk tetap teguh dalam menghadapi situasi sulit. Iran kini dalam “gencatan senjata” setiap malam masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pawai perdamaian digelar sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintahan, stabilitas nasional dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Gerakan ini mencerminkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada militernya. Tapi juga pada kesadaran kolektif masyarakatnya.

Selain itu, dukungan terhadap pemerintah yang berorientasi pada perdamaian dan pembangunan manusia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas. 

Kesederhanaan para pemimpin dan komitmen mereka terhadap kesejahteraan rakyat menjadi modal sosial yang memperkuat kepercayaan publik. Dalam situasi konflik, kepemimpinan yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang lebih besar.

Pada akhirnya, keberlangsungan peradaban manusia bergantung pada masyarakat  internasional, jaringan perdamaian yang terus menerus berkampanye, mendorong terwujudnya perdamian untuk menghentikan perang dan para pihak yang berseteru memilih kembali jalan damai, diplomasi sebagai penyelesaian konflik kekerasan yang bermartabat. 

Gencatan senjata harus diperpanjang

Dunia akan mengusangkan perang dan konflik kekerasan. Kini masyarakan dunia membutuhkan dialog antar peradaban, lebih intensif dialog, kerja sama, toleransi dan saling pengertian, mengkampanyekan perdamaian dan mendorong terus upaya baik diplomasi yang inklusif dan berkelanjutan, memastikan bahwa setiap pihak memiliki ruang transformasi dari perang menuju perdamaian dengan mengubah sedikit, sikap, perilaku dan tindakan dalam  menyampaikan kepentingannya tanpa harus menggunakan kekerasan, perang.

Perdamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan ujug-ujug  sendirinya, melainkan hasil dari usaha bersama masyarakat dunia yang konsisten. Gencatan senjata harus diperpanjang, dialog juga harus diperkuat, dengan membangun kembali kepercayaan. Tanpa langkah-langkah tersebut, perang hanya akan menjadi siklus tanpa akhir “kegilaan” yang akan menghancurkan peradaban, lingkungan hidup, ekologi, kemanusiaan masa depan generasi mendatang.

Stop war terus dikampanyekan oleh jaringan perdamaian bukan sekadar slogan, namun sebuah panggilan moral bagi seluruh umat manusia. Jika peradaban ingin tetap bertahan dan berkembang, maka tidak ada pilihan lain selain mengakhiri perang dan membangun dunia yang lebih damai, adil, dan berperikemanusiaan sesuai dengan falasafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 

*) PENULIS Yunidar ZA adalah Analis Kebijakan berdomisili di Jakarta.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.