SURYA.CO.ID - Seorang ayah bernama Hersi Hardiana (44) di Kampung Girang Deukeut, Desa Banjaran, Kabupaten Bandung mengungkap kisah pilu.
Aksi spontannya menyelamatkan orang yang hanyut di sungai justru berujung pada pertemuan terakhir dengan putri tercintanya.
Baca juga: Iran Siap Perang Lawan AS dan Israel, Mojtaba Khamenei Klaim Militer Makin Solid
Kejadian bermula pada Kamis (16/4/2026) sore saat hujan deras membuat Sungai Cibanjaran meluap.
Ketika sedang membersihkan sisa banjir di halaman rumah, Hersi mendengar teriakan histeris warga yang melihat ada orang terbawa arus deras.
Tanpa pikir panjang, ia langsung melompat ke sungai demi menolong nyawa orang tersebut, tanpa tahu siapa yang sedang dalam bahaya.
"Saya denger teriakan, kata warga 'ada yang hanyut, tolongin-tolongin'. Di situ saya belum tahu itu anak saya. Cuma kelihatannya emang dua kepala. Di situ juga, saya kurang tahu yang mana korban yang harus ditolong. Saya spontan langsung terjun saja," kenang Hersi.
Baca juga: Rusunami Ngagel dan Tambak Wedi Dikembangkan Pemkot Surabaya, PT KAI Juga Bangun Rusunami Gubeng
Perjuangan Hersi melawan arus deras mencapai titik paling menyedihkan saat ia berhasil mendekati salah satu korban.
Saat itulah matanya terbelalak menyadari bahwa remaja yang sedang berjuang di antara derasnya air adalah anaknya sendiri, Ginasya Lintang Sari (18).
"Kami saling berhadapan. Di situ saya baru sadar itu anak saya. Waktu itu, dia cuma bilang, 'Ayah'. Akhirnya terus saya kejar-kejar tapi enggak kekejar. Sudah berapa kali dapat tapi lepas. Sempat dapet juga sama warga, tapi lepas. Air sangat besar," tuturnya dengan sedih.
Hersi sempat berusaha sekuat tenaga hingga ke area dekat jembatan SMAN 1 Banjaran.
Meski sempat berhasil menggapai korban, kekuatan air yang terlalu besar membuat pegangan mereka terlepas.
Ginasya akhirnya ditemukan di daerah Cipaku, namun takdir berkata lain, ia ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia.
Kepergian Ginasya meninggalkan luka yang sangat dalam.
Siswi SMAN 1 Banjaran ini baru saja menyelesaikan sekolahnya dan sangat bersemangat ingin segera bekerja demi membantu beban ekonomi sang ayah.
"Tadi rencananya setelah lulus itu, dia (Gina) mau kerja. Katanya mau bantuin saya. Ya udah kata saya engga apa, nanti dibantu. Dia itu tinggal nunggu ijazah saja, katanya beberapa pekan lagi," ucap Hersi.
Kini, ijazah yang dinanti-nanti itu hanya akan menjadi kenangan bisu dari sosok anak penurut yang punya mimpi sederhana, yaitu berbakti kepada orang tuanya.
Baca juga: Fakta Pengunjung Wisata Tunjungan Surabaya Akui Pembayaran Parkir Digital Masih Jadi Opsi Kedua