Oleh: Lukman Hakim - Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Sungaiselan, Kabupaten Bangka Tengah/Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel
PERUBAHAN selalu dimulai dari kesadaran. Namun, kesadaran tidak lahir begitu saja. Ia berasal dari kegelisahan dan keberanian untuk jujur terhadap kenyataan, serta kesediaan untuk memperbaiki arah. Hari ini, Kepulauan Bangka Belitung berada pada titik yang menuntut kesadaran itu hadir secara nyata.
Di sisi lain, Bangka Belitung telah menunjukkan capaian pembangunan yang sangat progresif. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan berada pada angka 4,77 persen pada tahun 2025. Capaian ini tergolong memuaskan, karena angka ini tergolong rendah secara nasional dan sering menjadi indikator keberhasilan terhadap pembangunan.
Namun di satu sisi, ada persoalan yang tidak bisa diabaikan. Tekanan terhadap lingkungan terus terjadi. Perubahan bentang alam, kualitas air yang menurun -jika tidak boleh menggunakan kata memburuk-, dan dampak aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam menjadi realitas yang makin terasa. (Lihat, Profil Kemiskinan di Prov. Babel 2025. Dalam babel.bps.go.id)
Kondisi itu menunjukkan satu hal yang penting untuk dipaham bersama bahwa pembangunan yang berlangsung belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Ada ruang yang belum terisi dan ada pendekatan yang belum utuh. Dalam konteks inilah, gagasan tentang wajah baru Bangka Belitung menjadi relevan untuk dibicarakan.
Wajah baru bukan hanya soal perubahan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Wajah baru adalah perubahan cara pandang. Perubahan tentang bagaimana manusia memosisikan dirinya terhadap alam dan lingkungan serta perubahan tentang bagaimana nilai-nilai yang diyakini diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep ekoteologi yang dikembangkan oleh Kementerian Agama hadir sebagai salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut. Ekoteologi menawarkan cara pandang yang mengintegrasikan iman dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ia mengajak manusia untuk tidak hanya memandang alam sebagai objek, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan sekadar tindakan sosial, tetapi bagian dari tanggung jawab spiritual. Kerusakan alam tidak hanya dilihat sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai refleksi dari cara pandang yang keliru. Ketika manusia memisahkan iman dari perilaku sehari-hari, maka yang muncul adalah ketimpangan antara nilai dan tindakan. (Lihat, KMA No. 244 tahun 2025 Tentang Program Prioritas Menteri Agama Tahun 2025-2029)
Di tengah kondisi tersebut, program Bangga Kencana yang dijalankan oleh Kemendukbangga/BKKBN memiliki peran yang sangat strategis. Selama ini, program tersebut sering dipahami terbatas pada pengendalian kelahiran dan pelayanan kontrasepsi. Padahal, esensi dari Bangga Kencana jauh lebih luas. Program ini bertujuan membangun keluarga yang mampu mengelola kehidupan secara seimbang dan mandiri serta goal yang ingin dicapai tentunya adalah ‘berkualitas’.
Keluarga menjadi titik awal dari setiap perubahan. Di dalam keluarga, nilai-nilai ditanamkan, kebiasaan dibentuk, dan cara pandang dibangun. Cara seseorang memperlakukan lingkungan tidak lepas dari proses yang terjadi di dalam keluarga. Oleh karena itu, membangun keluarga berkualitas secara tidak langsung juga berarti membangun kesadaran terhadap lingkungan.
Ketika konsep ekoteologi dipertemukan dengan program Bangga Kencana, muncul sebuah pendekatan yang lebih utuh. Pengendalian jumlah penduduk tidak hanya berdampak pada kesejahteraan keluarga, tetapi juga pada keseimbangan lingkungan. Jumlah penduduk yang terkendali membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam.
Lebih dari itu, pendidikan keluarga yang dilakukan melalui berbagai program seperti pembinaan balita, remaja, dan lansia dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai ekologis. Keluarga yang memiliki pemahaman yang baik cenderung lebih bijak dalam mengelola konsumsi, lebih peduli terhadap lingkungan, dan lebih bertanggung jawab dalam memanfaatkan sumber daya.
Dalam konteks Bangka Belitung, pendekatan itu menjadi makin penting. Karakter wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas pertambangan menuntut adanya strategi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Peran penyuluh menjadi sangat penting dalam proses ini. Penyuluh berada di garis depan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mereka memiliki posisi yang strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi dalam kegiatan penyuluhan yang dilakukan. Melalui pendekatan yang sederhana dan kontekstual, penyuluh dapat membantu masyarakat memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pendekatan berbasis nilai memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh pendekatan teknis semata. Ketika pesan disampaikan dengan mengaitkan aspek moral dan spiritual, penerimaannya menjadi lebih kuat. Masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan bahwa apa yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam. Namun, perlu disadari bahwa perubahan ini tidak dapat berjalan jika program masih terjebak dalam pendekatan sektoral.
Selama ini, isu lingkungan, kesehatan, dan kependudukan sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal di lapangan, ketiganya saling berkaitan. Tanpa integrasi, upaya yang dilakukan akan sulit mencapai hasil yang optimal.
Menuju wajah baru Bangka Belitung berarti berani keluar dari pola lama. Berani melihat bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari keberlanjutan lingkungan dan kualitas kehidupan masyarakat. Berani mengakui bahwa perubahan harus dimulai dari hal-hal yang paling dekat, yaitu keluarga.
Bangka Belitung memiliki modal sosial yang kuat. Masyarakatnya religius, memiliki nilai kebersamaan, dan memiliki struktur sosial yang masih terjaga. Modal ini menjadi kekuatan untuk mendorong perubahan. Ketika nilai-nilai agama diintegrasikan dengan kesadaran lingkungan, maka akan terbentuk pola hidup yang lebih seimbang.
Sebagai pemungkas, wajah baru yang diharapkan bukan hanya perubahan yang terlihat di permukaan. Wajah baru adalah perubahan yang berakar pada kesadaran. Kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki dampak, baik bagi lingkungan maupun bagi generasi yang akan datang.
Iman tidak cukup hanya diyakini. Ia harus diwujudkan dalam tindakan. Menjaga lingkungan adalah salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab tersebut. Ketika keluarga sebagai unit terkecil mampu menjalankan peran ini, maka perubahan yang lebih besar akan mengikuti.
Menuju wajah baru Bangka Belitung bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia adalah proses yang membutuhkan waktu, komitmen, dan konsistensi. Namun proses itu harus dimulai sekarang. Dari keluarga, dari kesadaran, dan dari keberanian untuk mengubah cara pandang. (*)