TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Bandung, Hilman Majid, menekankan bahwa pengukuhan kepengurusan anyar untuk masa bakti 2026–2030 tidak sekadar seremoni biasa, melainkan menjadi gerbang awal perubahan besar dalam wajah olahraga masyarakat di Kota Bandung.
Prosesi pelantikan itu berlangsung pada 18 April 2026 di Aula Dada Rosada, Gedung PMI Kota Bandung. Kegiatan tersebut membawa energi baru untuk memperkuat posisi olahraga sebagai bagian penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
“Momentum ini muncul di tengah tantangan rendahnya partisipasi masyarakat dalam olahraga rekreasi. Jika tidak ditangani secara sistematis, kondisi ini berpotensi berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan publik serta produktivitas warga,” ujar Hilman, dalam keterangannya Minggu 19 April 2026.
Momentum tersebut dipandang bukan sekadar formalitas belaka. Ia menjadi titik awal untuk mempertegas komitmen dalam menggerakkan olahraga masyarakat sebagai fondasi pembangunan manusia yang sehat, bugar, dan produktif di Kota Bandung.
KORMI Kota Bandung segera mengambil langkah dengan merancang strategi berbasis kolaborasi serta pendekatan gaya hidup aktif sebagai arah utama gerakan.
Hilman memastikan bahwa kepemimpinannya akan menitikberatkan pada perluasan akses masyarakat terhadap aktivitas olahraga, sekaligus mendorong agar olahraga menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian warga.
“Kami ingin olahraga tidak lagi dianggap sebagai aktivitas insidental, tetapi menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Tantangan Partisipasi dan Strategi Penguatan Inorga
Setelah pelantikan, KORMI Kota Bandung langsung memetakan sejumlah persoalan penting, khususnya terkait masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam olahraga berbasis rekreasi.
Padahal, olahraga masyarakat memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan fisik, mental, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Sebagai langkah konkret, KORMI akan mengoptimalkan peran Induk Organisasi Olahraga (Inorga) sebagai penggerak utama aktivitas di level komunitas. Upaya ini dipandang krusial untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih tertata, luas, dan berkelanjutan.
“Kami juga akan menghadirkan event-event olahraga masyarakat yang inklusif dan mudah diakses oleh semua kalangan. Target kami sederhana namun berdampak: menghadirkan aktivitas nyata yang mampu menggerakkan masyarakat untuk lebih aktif, sehat dan bahagia,” terangnya.
Pendekatan berbasis komunitas turut diperkuat untuk menjangkau berbagai lapisan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga kelompok lanjut usia.
Melalui langkah ini, KORMI berharap pola pikir masyarakat terhadap olahraga dapat bergeser, dari sekadar aktivitas fisik menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Program 100 Hari: Konsolidasi hingga Event Inklusif
Pada fase 100 hari pertama, KORMI Kota Bandung langsung menyiapkan langkah cepat yang terukur.
Fokus program diarahkan pada tiga prioritas utama, yaitu konsolidasi internal organisasi, penguatan basis data Inorga, serta penyusunan kalender kegiatan yang berkesinambungan.
Konsolidasi dilakukan untuk memastikan seluruh struktur organisasi berjalan efektif dan selaras dengan visi besar yang telah ditetapkan.
Sementara itu, penguatan basis data Inorga difokuskan pada pembentukan sistem informasi yang akurat sebagai landasan dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, KORMI juga merancang berbagai kegiatan olahraga masyarakat yang inklusif serta mudah diikuti oleh seluruh kalangan.
Kegiatan tersebut disusun agar dapat diakses tanpa hambatan, baik dari sisi biaya maupun fasilitas pendukung.
“Target kami sederhana namun berdampak, yaitu menghadirkan aktivitas nyata yang mampu mendorong masyarakat lebih aktif, sehat, dan bahagia,” kata Hilman.
Kolaborasi dengan Pemkot Bandung Jadi Kunci
Dalam menjalankan programnya, KORMI Kota Bandung menempatkan Pemerintah Kota sebagai mitra strategis utama dalam pengembangan olahraga masyarakat.
Sinergi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga menjadi langkah nyata untuk memperluas jangkauan serta efektivitas program.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada penyelenggaraan kegiatan bersama, pemanfaatan ruang publik sebagai pusat aktivitas olahraga, serta kampanye besar gaya hidup sehat.
Pemanfaatan taman kota dan ruang terbuka diharapkan mampu mendekatkan olahraga dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Hilman meyakini bahwa kerja sama lintas sektor akan menjadi kunci keberhasilan program ke depan. “Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin dapat mewujudkan Bandung yang lebih bugar, sehat, dan produktif,” ujarnya.
Olahraga sebagai Pilar Pembangunan Kota Modern
Langkah yang ditempuh KORMI Kota Bandung mencerminkan pergeseran cara pandang dalam pembangunan perkotaan.
Olahraga kini tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas tambahan, melainkan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Dengan pendekatan yang menekankan inklusivitas, kolaborasi, serta keberlanjutan, KORMI berpotensi menjadi motor penggerak perubahan sosial melalui olahraga.
Jika program 100 hari berjalan efektif, peluang Bandung untuk menjadi contoh kota dengan budaya olahraga masyarakat yang kuat di Indonesia semakin terbuka.
Ke depan, konsistensi pelaksanaan program dan keterlibatan aktif masyarakat akan menjadi penentu utama dalam mewujudkan visi besar tersebut.