TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyentil campur tangan Amerika Serikat (AS), terutama terkait program nuklir Iran.
Sentilan itu diutarakan Pezeshkian setelah muncul ancaman baru dari Presiden AS, Donald Trump.
Dalam ancamannya, Trump menegaskan tidak akan segan-segan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Saya harap mereka menerimanya."
"Jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Tidak ada lagi kata baik!" tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Menanggapi ancaman itu, Pezeshkian mempertanyakan kapasitas AS yang seolah-olah merasa memiliki hak untuk mengatur urusan dalam negeri negara lain.
"Siapa sebenarnya Amerika Serikat hingga merasa berhak memutuskan masa depan dunia?" cetusnya sebagaimana dikutip dari WANA News Agency.
Soal perang, Pezeshkian menekankan bahwa tindakan militer yang diambil Iran selama ini murni merupakan bentuk pertahanan diri yang sah.
Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara Barat yang dianggapnya berupaya meruntuhkan peradaban Iran.
"Pihak Barat ingin menghancurkan peradaban kita dan membawa kita kembali ke 'Zaman Batu'. Namun, mereka harus tahu bahwa Iran tidak pernah memulai konflik."
"Kami tidak menyerang negara manapun, kami hanya membela hak nasional kami," ungkap Pezeshkian.
Baca juga: Timur Tengah Memanas Lagi, Trump Ancam Ratakan Iran bila Selat Hormuz Masih Diblokir
Dalam kesempatan itu, Pezeshkian juga memuji kesiapan Angkatan Bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.
Menurutnya, kemampuan militer Iran saat ini telah melampaui prediksi para analis internasional dan menjadi garda terdepan dalam merespons ancaman luar.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk para atlet dan tokoh publik, untuk merapatkan barisan.
Pezeshkian menekankan pentingnya persatuan nasional dan identitas bangsa sebagai senjata utama melawan tekanan asing.
Sementara itu, Trump memastikan bahwa meja perundingan panas antara AS dan Iran akan kembali digelar di Islamabad, Pakistan, pekan ini.
Trump memberi kode keras bahwa kesepakatan besar bisa terjadi dalam waktu dekat.
"Jangan pulang dulu, tetaplah di sana. Sesuatu yang besar akan terjadi dalam dua hari ke depan," kata Trump dengan nada optimistis.
Trump secara khusus memuji peran Field Marshal Asim Munir, Panglima Militer Pakistan, yang dianggap sukses menjadi jembatan antara dua negara yang tengah bersitegang tersebut.
Tak main-main, Trump dikabarkan bakal mengirimkan tim elit yang mencakup menantunya, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff untuk mengawal langsung jalannya negosiasi pada Senin malam waktu setempat.
Baca juga: Wahai Uni Eropa Dengar Kecaman Presiden Iran, Selat Hormuz Sudah Tak Bersahabat Lagi
Meski perundingan tetap bakal digelar, kondisi di lapangan sendiri kian mencekam.
AS hingga kini masih melakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz yang melumpuhkan ekspor minyak Iran.
Trump mengeklaim blokade tersebut telah membuat Iran rugi hingga USD 500 juta atau sekitar Rp7,7 triliun per hari.
"Mereka sudah babak belur. Pilihannya cuma dua: ikut aturan kami atau hancur," pungkas Trump.
(Tribunnews.com/Whiesa)