SURYA.co.id – Ketahanan militer Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel kembali menjadi sorotan.
Laporan terbaru dari The New York Times mengungkap gambaran berbeda dari klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut kekuatan Teheran telah melemah drastis.
Berdasarkan data intelijen dan militer AS yang dikutip media tersebut, Iran justru masih memiliki kapasitas tempur yang signifikan meski menghadapi serangan intensif sejak 28 Februari 2026.
Menurut laporan tersebut, Iran masih mampu mempertahankan sebagian besar aset militernya.
Data yang mereka laporkan menyebut kalau Iran mampu mempertahankan sekitar 40 persen dari persenjataan drone-nya meskipun telah mengalami serangan intensif dari AS-Israel.
Surat kabar itu menambahkan:
"Iran masih dapat mengakses sekitar 70?ri persediaan rudal yang dimilikinya sebelum perang, dan 60?ri platform peluncur rudalnya."
"ketika gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat mulai berlaku pada 8 April, Teheran mampu mengakses sekitar setengah dari peluncur rudal balistiknya. Sejak itu, mereka berhasil mengeluarkan 100 peluncur lagi dari bawah tanah, sehingga jumlah total peluncur rudal yang beroperasi mencapai sekitar 60?ri total sebelum perang." diktuip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Selain landasan peluncuran, surat kabar itu mencatat kalau "Iran juga berupaya untuk mengeluarkan persediaan rudal apa pun yang terkubur di bawah reruntuhan serangan Amerika dan Israel."
Para pejabat intelijen AS meyakini kalau "Setelah ini (serangan AS-Israel) selesai, Teheran akan memiliki persediaan rudal yang diperkirakan sekitar 70?ri persediaan sebelum perang."
Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan logistik dan sistem penyimpanan bawah tanah Iran masih efektif dalam menjaga daya tahan militernya.
Baca juga: Sosok Mohsen Rezaee Petinggi Iran yang Tantang Trump dan Ejek AS Tak Berani Seberangi Selat Hormuz
Iran memfokuskan perhatian pada sejumlah besar drone tipe Shahed, yaitu pesawat bunuh diri yang diluncurkan dalam jumlah besar untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya, dan lebih sulit dideteksi daripada rudal balistik konvensional.
Pendekatan ini dinilai sebagai strategi asimetris, mengandalkan kuantitas dan efektivitas biaya untuk mengimbangi kekuatan militer konvensional lawan.
Mojtaba Khamenei, yang mulai tampil ke publik pasca wafatnya Ali Khamenei, menegaskan kesiapan Iran menghadapi tekanan militer.
“Seperti drone Iran yang menyerang cepat, angkatan laut kami juga siap memberikan kekalahan baru kepada musuh,” tegas Mojtaba dalam kanal resmi pemerintah.
Ia menambahkan bahwa angkatan laut Iran saat ini mampu memberikan kekalahan pahit bagi pihak manapun yang mencoba mengganggu kedaulatan negara tersebut.
Mojtaba Khamenei juga mengungkapkan bahwa ketangguhan Iran tidak hanya bertumpu pada persenjataan.
Ada tiga poin utama yang menjadi fondasi kekuatan mereka:
“Kekuatan militer kami berdiri kokoh dengan dukungan rakyat dan mampu memberikan respons tegas terhadap agresi,” ujarnya, mengutip dari Free Press Journal.
Di sisi lain, Donald Trump menyampaikan penilaian yang jauh berbeda.
Dalam keterangannya, Trump justru meremehkan kekuatan pertahanan Iran yang dianggapnya sudah jauh berkurang.
Kekuatan militer Iran disebut telah melemah secara signifikan.
Trump mengklaim bahwa armada laut Iran telah mengalami kehancuran yang parah akibat konflik sebelumnya.
Namun, pihak Iran membantah narasi tersebut dengan memuji keberanian Angkatan Darat mereka yang berhasil bertahan dalam apa yang mereka sebut sebagai perang yang dipaksakan selama 40 hari terakhir.
Jika dibandingkan secara data, terdapat kontradiksi tajam antara klaim politik dan temuan intelijen:
Ini menunjukkan pelemahan memang terjadi, tetapi belum sampai melumpuhkan.
Artinya, infrastruktur militer Iran masih sangat resilien.
Ini menjadi “equalizer” melawan teknologi Barat.
Klaim Donald Trump kemungkinan bersifat overstatement politis untuk membangun persepsi kemenangan.
Secara faktual, data intelijen menunjukkan Iran masih memiliki kemampuan tempur yang substansial dan belum dapat dianggap lumpuh.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa:
Sejumlah analis menilai pernyataan Mojtaba sebagai bagian dari strategi daya gentar (deterrence).
Dengan menonjolkan kekuatan drone dan pertahanan berlapis, Iran berupaya mengirim pesan kepada dunia bahwa mereka tetap memiliki taring meski di bawah tekanan ekonomi dan militer yang berat.
Langkah ini juga dipandang sebagai instrumen politik untuk:
Perbedaan narasi antara Washington dan Teheran memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi.
Data intelijen memberi gambaran lebih objektif, Iran melemah, tetapi belum tumbang.