Kartini bukan sekadar nama dalam kalender nasional. Ia adalah ide yang terus bergerak, menuntut relevansi di setiap zaman. Surabaya telah menunjukkan langkah-langkah awal yang menjanjikan, tetapi perjalanan masih panjang.
Surabaya (ANTARA) - Di sebuah sudut Kota Surabaya, kanvas-kanvas terbentang di pelataran Balai Pemuda. Kuas bergerak perlahan, merekam jejak bangunan tua yang telah menyaksikan puluhan tahun denyut seni.
Di saat yang sama, di ruang-ruang kecil pendidikan anak usia dini, dongeng sederhana mengalir, menanamkan nilai keberanian dan gotong royong pada anak-anak.
Dua peristiwa ini tampak berbeda, tetapi sesungguhnya bertemu pada satu titik, yakni upaya merawat semangat Kartini dalam wajah kota modern.
Menjelang Hari Kartini, Surabaya tidak sekadar mengenang sosok perempuan pelopor emansipasi itu. Kota ini mencoba menerjemahkan gagasan Kartini dalam konteks kekinian melalui seni, pendidikan, dan kebijakan publik.
Di balik berbagai inisiatif tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana semangat Kartini benar-benar hidup, bukan sekadar seremoni tahunan?
Ruang tumbuh
Balai Pemuda bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah ruang memori kolektif, tempat lahirnya banyak seniman yang membentuk wajah kebudayaan kota. Dari generasi ke generasi, ruang ini menjadi titik temu kreativitas, sekaligus bukti bahwa kota tidak hanya dibangun dari beton, tetapi juga dari imajinasi.
Kegiatan melukis bersama bertajuk “Beauty of Balai Pemuda Surabaya” yang digelar menjelang Hari Kartini menunjukkan satu hal penting bahwa seni masih diberi ruang. Pemerintah kota mencoba menjaga kesinambungan ekosistem kreatif, meskipun di tengah tekanan pembangunan yang kerap mengedepankan aspek ekonomi.
Di sinilah letak relevansi Kartini. Ia bukan hanya simbol perjuangan perempuan, tetapi juga simbol keberanian berpikir dan berekspresi. Ketika ruang seni dipertahankan, sesungguhnya kota sedang menjaga ruang kebebasan, sesuatu yang dulu diperjuangkan Kartini dalam konteks zamannya.
Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Seni kerap dipandang sebagai sektor “tidak produktif” karena tidak langsung menghasilkan pendapatan daerah. Perspektif ini berbahaya. Jika ukuran pembangunan hanya ekonomi, maka ruang-ruang seperti Balai Pemuda akan selalu berada di posisi rentan.
Padahal, kota tanpa seni adalah kota yang kehilangan jiwa. Seni berfungsi sebagai penyeimbang, bahkan sebagai kritik terhadap arah pembangunan itu sendiri. Dalam konteks ini, kebijakan mempertahankan ruang seni bukan sekadar pilihan budaya, melainkan kebutuhan strategis.
Surabaya tampaknya mulai menyadari hal tersebut. Dukungan fasilitas, ruang pamer, hingga agenda seni yang rutin, menjadi indikator bahwa kesenian masih dianggap penting.
Meski begitu, tantangan ke depan adalah menjaga konsistensi, bukan hanya saat momentum peringatan seperti Hari Kartini.
Kartini keluarga
Jika Balai Pemuda menjadi simbol ruang publik, maka pendidikan anak usia dini adalah fondasi ruang privat. Di sinilah nilai Kartini justru diuji secara lebih mendasar, yakni bagaimana membentuk generasi yang berani, peduli, dan berkarakter.
Program dongeng “7 Kebiasaan Baik Anak Indonesia Hebat + 2” yang diinisiasi pemerintah kota menunjukkan pendekatan yang menarik. Pendidikan karakter tidak lagi disampaikan secara kaku, tetapi melalui cerita yang dekat dengan dunia anak.
Penambahan nilai lokal seperti “Wani” dan gotong royong menjadi langkah penting. “Wani” bukan sekadar keberanian, tetapi keberanian untuk berpikir, berbicara, dan mengambil peran. Ini sejalan dengan semangat Kartini yang menolak diam dalam keterbatasan.
Data menunjukkan bahwa di beberapa wilayah Surabaya, angka anak usia 5–6 tahun yang belum sekolah telah mencapai nol persen. Ini capaian yang tidak bisa dianggap remeh. Akses pendidikan yang merata menjadi fondasi penting dalam menciptakan kesetaraan, termasuk kesetaraan gender yang diperjuangkan Kartini.
Namun, akses saja tidak cukup. Tantangan berikutnya adalah kualitas. Pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan kognitif. Jika tidak, maka yang lahir hanyalah generasi cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara sosial.
Peran perempuan, terutama ibu, dan pendidik menjadi kunci di sini. Kartini masa kini tidak lagi hanya berbicara tentang akses pendidikan, tetapi juga tentang kualitas pengasuhan dan pembentukan nilai.
Dalam konteks ini, kebijakan publik perlu lebih berpihak pada penguatan peran keluarga, bukan hanya institusi formal.
Simbol Substansi
Peringatan Hari Kartini sering kali terjebak dalam simbolisme seperti lomba kebaya, seremoni, atau pidato formal. Padahal, esensi Kartini jauh melampaui itu. Ia berbicara tentang perubahan struktur sosial, akses pendidikan, dan kebebasan berpikir.
Surabaya, dengan berbagai programnya, menunjukkan upaya untuk keluar dari jebakan simbolisme tersebut. Seni diberi ruang, pendidikan diperkuat, nilai lokal dihidupkan. Namun, pertanyaan kritis tetap perlu diajukan: apakah semua ini sudah menyentuh akar persoalan?
Ketimpangan akses, tekanan ekonomi keluarga, hingga tantangan urbanisasi masih menjadi realitas yang dihadapi banyak perempuan. Di sisi lain, ruang publik yang inklusif masih perlu terus diperluas agar perempuan tidak hanya menjadi partisipan, tetapi juga pengambil keputusan.
Solusi ke depan tidak bisa parsial.
Pertama, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan kebijakan, terutama dalam mendukung ekosistem seni dan pendidikan karakter.
Kedua, kolaborasi dengan komunitas harus diperkuat, karena perubahan sosial tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
Ketiga, pendekatan berbasis data perlu terus dikembangkan. Capaian seperti nol persen anak tidak sekolah harus dijaga dan diperluas, dengan pemantauan yang konsisten.
Keempat, nilai-nilai lokal seperti gotong royong dan keberanian perlu terus diintegrasikan dalam kebijakan publik, bukan hanya program sesaat.
Kartini bukan sekadar nama dalam kalender nasional. Ia adalah ide yang terus bergerak, menuntut relevansi di setiap zaman. Surabaya telah menunjukkan langkah-langkah awal yang menjanjikan, tetapi perjalanan masih panjang.
Menjelang Hari Kartini, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi bagaimana merayakan, melainkan bagaimana melanjutkan. Sebab, nyala Kartini tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu dijaga, dirawat, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.





