LavAni Juara Putaran Dua Proliga 2026, Tak Terkalahkan Sepanjang Babak Empat Besar
Titis Jati Permata April 20, 2026 07:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Dominasi Jakarta LavAni Livin' Transmeda di Final Four Proliga 2026 tidak terbendung.

Setelah dua pekan lalu menjuarai putaran pertama, Jakarta LavAni Livin' Transmedia melanjutkan dominasinya menjadi juara putaran kedua.

Kepastian ini didapat setelah pada laga penentuan mengalahkan Bhayangkara Presisi dengan skor 3-1 (25-20, 25-15, 18-25, 25-22) dalam lanjutan Final Four Proliga seri tiga di GOR Jatidiri Semarang, Minggu (19/4/2026).

Tak Terkalahkan Selama Babak Empat Besar

Kemenangan ini tidak hanya memastikan LavAni sebagai juara putaran kedua Final Four, tetapi juga mengukuhkan status mereka sebagai tim tak terkalahkan selama babak empat besar.

Atas gelar juara putaran kedua ini, LavAni mendapatkan hadiah uang pembinaan sebesar Rp 60 juta.

Baca juga: Jakarta Pertamina Enduro Selangkah Lagi Lolos Grand Final Proliga 2026

Jalannnya pertandingan berjalan menarik. Dimana sejak awal set pertama. LavAni langsung menurunkan "Dream Team" mereka.

Ada Dio Zulfikri sebagai pengatur serangan, Hendra Kurniawan di posisi middle blocker, serta trio maut Boy Arnes, Taylor Sander, dan Georg Grozer.

Tampil Menekan Sejak Set Pertama

Sejak peluit dibunyikan, LavAni langsung bermain menekan.

​Meski Jakarta Bhayangkara Presisi yang dikomandoi Nizar Zulfikar berusaha mengimbangi melalui serangan Rendy Tamamilang dan Bardia Saadat, pertahanan LavAni terlalu kokoh. Boy Arnes dkk menutup set pertama dengan keunggulan 25-20.

​Memasuki set kedua, Bhayangkara Presisi mencoba mengubah strategi untuk meredam bombardir serangan lawan.

Konsistensi Permainan Meningkat

Konsistensi permainan LavAni justru meningkat. Georg Grozer dan Taylor Sander berulang kali menembus blokir lawan dengan spike keras.

Set ini berjalan berat sebelah dan berakhir dengan skor telak 25-15 untuk kemenangan LavAni.

​Tertinggal dua set, Bhayangkara Presisi tak menyerah begitu saja. Rendy Tamamilang, Agil Angga, dan Martin Atanasov mulai menemukan celah di lini pertahanan LavAni.

Kali ini, koordinasi serangan Bhayangkara jauh lebih rapi, sementara LavAni sempat kehilangan momentum.

Saling Kejar Angka

Set ketiga menjadi milik Presisi dengan skor 18-25, sekaligus memperkecil kedudukan.

​Set keempat, berlangsung dramatis dan penuh determinasi. Kedua tim saling kejar-mengejar angka.

Tak ingin pertandingan berlanjut ke full set, LavAni kembali mengintensifkan serangan.

Melalui blok-blok poin dari Hendra Kurniawan dan penyelesaian akhir yang dingin dari Boy Arnes, LavAni akhirnya menyudahi perlawanan sengit Bhayangkara dengan skor 25-22.

Antar LavAni Melaju ke Partai Puncak

​Hasil ini membawa LavAni Livin' Transmeda melangkah ke partai puncak dengan kepercayaan diri tinggi.

Asisten pelatih LavAni, Erwin Rusni, menegaskan, timnya belum berada di level "monster" yang ia inginkan.

Dalam laga tersebut,  dia menyebut Alfin Danil dkk  tampil menekan sejak set awal.

Namun, di balik kemenangan tersebut, ada yang disorotinya yaitu Receive.

"Pemain kami masih kedodoran menerima servis pemain asing Bhayangkara. Inginnya kami, sekali terima servis, langsung balas serangan dan bola mati di pihak lawan," tegas Erwin.

Selain faktor teknis, cuaca ekstrem Kota Semarang ternyata menjadi lawan tambahan bagi LavAni.

Fisik pemain terkuras habis, membuat performa mereka dinilai belum mencapai titik optimal 100 persen.

Modal Berharga untuk Tampil di Grand Final

Kemenangan di Semarang menjadi suntikan moral luar biasa bagi libero LavAni, Irpan.

Ia menyebut kemenangan ini adalah modal berharga untuk tampil lebih percaya diri di Grand Final.

Di kubu Bhayangkara Presisi sang juru taktik Reidel Alfonso Gonzalez Toiran menanggapi kekalahan ini dengan kepala dingin.

Baginya, kekalahan di Semarang hanyalah bagian dari proses menuju puncak performa.

Toiran blak-blakan menyebut bahwa kekuatan pasukannya saat ini belum optimal, karena level performa baru menyentuh angka 60 persen.

Dia menyebut evaluasi utama komunikasi antar-pemain dan koordinasi lapangan yang masih sering "miss".

Optimisme serupa dilemparkan oleh Rendy Tamamilang. Bintang voli nasional ini tak gentar meski timnya baru saja terjungkal. Bagi Rendy, laga ini adalah bahan evaluasi mahal untuk meminimalisasi ''unforced errors'' di Yogyakarta nanti

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.