TRIBUNJATIM.COM - Iran kembali menutup Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) menolak menghentikan blokade terhadap kapal yang ingin keluar dan masuk Iran.
Presiden AS, Donald Trump bereaksi setelah Iran menutup Selat Hormuz.
Pada Sabtu (18/4/2026), Trump menegaskan Iran telah bertindak sedikit gegabah dan tak bisa memeras AS.
Meski begitu, ia menegaskan pembicaraan untuk perundingan damai telah berjalan dengan baik.
Sehari sebelumnya Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran akan membuka Selat Hormuz, setelah gencatan senjata Israel-Lebanon terjadi.
Namun, Trump menegaskan blokade tersebut baru akan dihentikan jika kesepakatan dengan Iran tercapai, termasuk tentang program nuklirnya.
Meski kembali ditutup, Trump menegaskan dialog dengan Iran berjalan baik.
“Kami akan berbicara dengan mereka. Kami juga memiliki beberapa informasi di akhir hari,” katanya dikutip dari The Times of Israel.
“Iran sedikit gegabah dengan kembali menutup Selat Hormuz. Mereka ingin menutupnya kembali, mereka tak bisa memeras kami,” ucapnya, dikutip dari kompas.tv.
Sebelumnya, Iran menegaskan mengembalikan kondisi Selat Hormuz seperti semula.
“Kontrol Selat Hormuz telah kembali seperti semula, di bawah manajemen dan kontrol pasukan bersenjata, selama blokade AS ke pelabuhan Iran tetap dilakukan” bunyi pernyataan militer Iran.
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Iran mengatakan, Selat Hormuz tetap di bawah kontrol Iran hingga perang sepenuhnya berakhir, dan perdamaian berkepanjangan dicapai di kawasan tersebut.
Baca juga: RUU untuk Dukung Trump Dilengserkan Disetujui oleh 50 Anggota Parlemen, Gedung Putih Menentang Keras
Sebelumnya, Donald Trump dinilai oleh Iran sering berubah-ubah dalam perkataannya.
Tak hanya itu, Iran menyebut Trump banyak omong hingga keseringan ngetweet di media sosial X.
Iran pun merasa bingung dengan sikap Trump tersebut.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh pada Sabtu (18/4/2026), saat berbicara kepada awak media di sela-sela Forum Diplomatik Antalya di Turkiye.
"Dia mengatakan hal-hal kontradiktif dalam pernyataan yang sama," kata Khatibzadeh, menanggapi pernyataan Trump soal ancaman aksi militer baru terhadap Teheran.
"Saya tidak tahu persis apa yang dia maksud," lanjut dia, dikutip dari Al Jazeera, via Kompas.com.
Khatibzadeh juga menilai presiden ke-45 dan 47 AS itu terlalu banyak berbicara, termasuk melalui media sosial.
"Pihak Amerika banyak nge-tweet di Twitter, banyak bicara. Terkadang membingungkan, terkadang, Anda tahu, kontradiktif," lanjutnya, dikutip dari AFP.
Ia menambahkan publik Amerika dapat menilai sendiri apakah perkataan-perkataan Trump sesuai hukum internasional.
"Terserah rakyat Amerika untuk memutuskan apakah pernyataan-pernyataan ini konsisten dan sesuai dengan hukum internasional," ucapnya.
Baca juga: Awalnya Tunduk 10 Syarat Iran, Donald Trump Kini Cuma Punya 3 Pilihan Setelah Gencatan Senjata Kacau
Dalam kesempatan yang sama, Khatibzadeh menegaskan Iran tidak menginginkan konflik bersenjata.
Ia menyebut perang tidak akan membawa hasil positif bagi pihak mana pun, tetapi Iran tetap siap membela diri jika diserang.
"Kami akan berjuang sampai prajurit Iran terakhir," tegasnya.
Ia juga memastikan sikap Iran terhadap tekanan dari Washington tidak berubah.
"Apa yang akan kami lakukan sudah cukup jelas. Kami akan membela (negara) secara heroik dan patriotik ... Sebagai peradaban tertua di Bumi," kata Khatibzadeh.
Baca juga: Amerika Serikat Kalah Perang, Donald Trump Salahkan Negara NATO yang Tak Mau Ikut Keroyok Iran
Wamenlu Iran itu turut menanggapi tuduhan AS yang menuding Teheran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ia menegaskan, Iran justru berupaya menjaga jalur tersebut tetap aman bagi kapal komersial.
"Amerika tidak dapat memaksakan kehendak mereka untuk mengepung Iran sementara Iran, dengan niat baik, berusaha memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz," ujarnya.
Menurut dia, Iran sudah berinisiatif membuka jalur aman bagi kapal dagang di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata Israel-Lebanon, disertai syarat adanya koordinasi dengan otoritas maritim Iran.
Namun, Khatibzadeh menuding AS-lah yang berupaya menggagalkan langkah tersebut.
Ia juga mengingatkan pelanggaran terhadap kesepakatan dapat menimbulkan konsekuensi.
"Jika ketentuan gencatan senjata dilanggar dan Amerika tidak menghormati komitmen, akan ada konsekuensi bagi mereka," ancam dia.