Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Kantor Koninklijk Instituut voor Taal –, Land – en Volkenkunde (Institut Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia) di Jakarta resmi memperkaya khazanah pustakanya dengan mengakuisisi 77 karya dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora.
Proses pengumpulan materi literatur ini berlangsung selama lima hari, yakni pada 6—10 April 2026, bertempat di sekretariat Dusun Flobamora, Naimata, Kota Kupang.
Dalam kunjungan tersebut, perwakilan KITLV-Jakarta, Budiman (Koordinator Koleksi) dan Risya Iskandar, diterima langsung oleh sejumlah anggota Dusun Flobamora.
Baca juga: Opini: Melestarikan Alam sebagai Tanggung Jawab Spiritual
Hasil dari proses kurasi dan akuisisi tersebut meliputi 40 edisi digital Jurnal Sastra Santarang (sebagai tambahan atas 38 edisi dalam rentang 2012—2016 yang telah dikoleksi KITLV-Jakarta), dan 37 judul buku terbitan komunitas (termasuk karya non-ISBN yang terbit dengan nomor katalog internal).
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari surat resmi Direktur KITLV-Jakarta, Marrik Bellen, pada Maret 2026.
Kunjungan KTLV-Jakarta bertujuan khusus untuk melengkapi koleksi wilayah Kupang dan Nusa Tenggara Timur di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Sebagai informasi, KITLV-Jakarta berperan sebagai perpanjangan tangan Perpustakaan Universitas Leiden dalam menghimpun, mendigitalisasi, dan menerbitkan materi studi terkait Indonesia dan Asia Tenggara.
Lembaga yang berkantor di kompleks Kedutaan Besar Belanda ini berfokus pada pengarsipan karya ilmiah dan humaniora dari berbagai sumber, baik komersial maupun komunitas independen.
Proses akuisisi dilakukan secara selektif melalui beberapa tahapan. Pertama, penetapan kriteria.
Materi yang dipilih tidak terbatas pada buku formal ber-ISBN, tetapi juga mencakup terbitan internal komunitas seperti laporan dan katalog yang memiliki nilai historis dan sosial. Kedua, penyortiran.
Tim KITLV mengkurasi arsip cetak dan digital yang dimiliki komunitas dari periode 2012—2025. Ketiga, akuisisi. Judul-judul yang dipilih kemudian diakuisisi untuk jadi bagian dari khazanah perpustakaan.
Edisi digital Jurnal Santarang sendiri akan diunggah ke server Perpustakaan Universitas Leiden, bersama koleksi sebelumnya, agar dapat diakses oleh peneliti global.
Kerja sama ini mempertegas komitmen kedua belah pihak dalam menjaga keberlanjutan arsip sastra lokal agar tetap lestari di tingkat internasional. Inilah juga salah satu sumbangan Komunitas Sastra Dusun Flobamora bagi Nusa Tenggara Timur di tingkat internasional.
Kerja sama Dusun Flobamora dan KITLV sebenarnya telah berlangsung sejak 2012, saat Dusun Flobamora pertama kali memperoleh ISSN untuk Jurnal Sastra Santarang.
Salah satu bentuk pertanggungjawaban perolehan nomor seri tersebut adalah dengan mengirimkan bukti terbit ke sejumlah lembaga arsip. KITLV adalah satu dari tiga lembaga arsip yang kepadanya Santarang dikirimkan secara berkala.
Dua lembaga lain adalah LIPI (sekarang telah berubah menjadi BRIN), dan Indonesia Tera di Magelang. Ketiga lembaga setidaknya sama-sama mengoleksi terbitan Santarang 2012—2016.
(1) Empat karya Adrianus Ngongo, (a) Simulakra Pendidikan, (b) Docendo Discere, (c) Membongkar dari Dalam, dan (d) Guru dan Literasi Digital;
(2) Lima karya Sipri Senda (a) Gara-Gara Frater Lipus, (b) Romo dan Frater dalam Keseharian, (c) Romo dan Frater Lipus, (d) Kisah Pagi, (e) Mukjizat Terakhir (antologi karya sastra memperingati perayaan perak imamat Romo Sipri Senda);
(3) Enam karya Mario F. Lawi, (a) Daba: Ritus Inisiasi Anak Jingitiu di Desa Pedarro, Pulau Sabu (ditulis bersama Tersiana A. Huki), (b) Sejarah Lenyap dalam Ruang Pameran, (c) Ekaristi: Buku Puisi, (d) Menemukan Priamel di Bulan, (e) Rumah Kertas, Toko Buku dan Punica, dan (f) Homo Narrans (diterbitkan Pickpockie dan Scrinium);
(4) Empat karya seminaris dan alumni Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, (a) Bersama Santo Rafael di Ladang Tuhan, (b) Mawar Gaib Misa Pagi, (c) Petik Duit Pakai Pena: Kumpulan Makalah Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, (d) Menyisir Kenangan, Menyusur Zaman: Festschrift 40 Tahun Seminari Menengah St. Rafael Oepoi, Keuskupan Agung Kupang;
(5) Sejumlah antologi, karya sastra, maupun buku-buku tanpa ISBN, antara lain, (a) Jasad sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya (buku cerpen Christian Dan Dadi), (b) Lalu Kau Menulis Atambua (buku puisi Ricky Ulu), (c) Seroja Mekar di Telaga Duka (antologi puisi tentang Badai Seroja di Kota Kupang),
(d) Asa Ai Sorun (buku cerita anak Saddam HP), (e) Siklaloti (esai bahasa Kupang karya Amanche Franck), (f) Nadus dan Tujuh Belas Pasung (antologi cerpen ODGJ terbitan Klub Buku Petra),
(g) Perjalanan Mencari Ayam (buku cerpen Armin Bell), (h) Imaji Biblikal dan Penghayatan Iman Personal: Pembacaan Estetik Teologis terhadap Puisi-Puisi Mario F. Lawi (buku kritik sastra karya Giovanni A.L. Arum).
Buku-buku dan jurnal Santarang yang diakuisisi KITLV-Jakarta berasal dari arsip penerbit selama 14 tahun, terutama arsip digital Santarang. Akuisisi tersebut juga menambah panjang daftar lembaga yang mengarsipkan terbitan-terbitan Dusun Flobamora.
Sebelumnya, ada Perpusnas RI, Perpustakaan Provinsi NTT, Balai Bahasa NTT, Perpustakaan Cendekia (Pusat Budaya Indonesia, Dili, Timor Leste), LIPI, Perpustakaan Program Magister Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Yayasan Indonesia Tera (Magelang).
Ini belum termasuk arsip dalam bentuk lain, seperti dokumentasi pameran karya komunitas yang dipajang sepanjang perhelatan Jakarta International Literary Festival 2022 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, atau yang dikirim komunitas ke berbagai lembaga yang mengadakan sayembara penulisan.
Jika kita menengok ke belakang, dalam gerakan literasi yang marak di NTT, kita dengan mudah menemukan bertebarannya kelas-kelas menulis cepat. Namun, kita sendiri jarang memikirkan, bagaimana tulisan-tulisan tersebut disimpan dan diakses?
Satu contoh kecil dari lima tahun lalu. Adik bungsu saya, ketika mengenyam pendidikan di salah satu sekolah swasta di Kupang, diminta untuk mengikuti proyek penerbitan buku sebagai bagian dari program literasi di sekolah mereka.
Puisi-puisi yang ditulisnya diterbitkan bersama karya kawan-kawan sekolahnya dalam satu antologi. Namun, sampai hari ini, ia sama sekali tidak memperoleh arsip bukti terbit atas hasil kerjanya.
Pengarsipan membuat kita bisa mengevaluasi, bahkan memperbaiki hal-hal yang pernah kita kerjakan dan kita catat.
Dalam nada Borgesian, semua yang kita tulis pada dasarnya adalah draft, yang perlu terus-menerus direvisi.
Dengan cara demikianlah perpustakaan-perpustakaan diperluas, karena kita senantiasa merevisi kerja-kerja kita berdasarkan hal-hal yang telah kita rekam dan catat.
Demikian pulalah, terjemahan dapat dipahami seperti kita memahami sebuah draft.
Menurut Borges, perbedaan antara terjemahan dan versi awal sebuah teks terjadi secara kronologis, bukan hierarkis.
Dalam proses penulisan, sebuah draft dikerjakan untuk menghasilkan sebuah teks original. Sedangkan, dalam proses penerjemahan, terjemahan dikerjakan berdasarkan teks original tersebut.
Kerja pengarsipan juga membantu para pembaca anonim dari mana pun suatu saat dapat menemukan hal-hal yang telah kita dokumentasikan.
Dalam skala yang lebih luas, Benedict Anderson (Imagined Communities, 2006:134) menegaskan, “Bahasa cetaklah yang menciptakan nasionalisme, bukan satu bahasa tertentu per se.”
Tanpa kerja seperti itu, tanpa mengarsipkan, lalu mempelajari dan mengevaluasi apa yang telah kita hasilkan, kita tidak akan mengetahui sejarah dan perkembangan kita sendiri, dan berhenti pada membanggakan tingginya angka survei minat baca yang kita peroleh, yang justru secara ironis bersanding dengan begitu rendahnya hasil tes kemampuan akademik anak-anak sekolah kita. (*)