TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengaku trenyuh saat mendengar cita-cita dari Azizah Chandrasari.
Diketahui, Azizah Chandrasari, bocah berusia 6,5 tahun, setiap hari berkutat dengan karung rongsokan demi membantu ayahnya.
Hasto pun telah mendengar kisah hidup dan perjuangan bocah perempuan kecil itu dan siap membantu kehidupan Azizah dan sang ayah.
Termasuk terkait biaya pendidikan Azizah demi bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter.
Hal itu disampaikan Hasto saat menyambangi Azizah dan keluarganya yang kini telah ditampung di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, Minggu (19/4/2026) siang.
Sebagai pejabat dengan latar belakang dokter spesialis kandungan, Hasto pun menegaskan bakal mengerahkan segala daya dan upaya untuk menyokong angan luhur Azizah tersebut.
"Saya akan membantu (cita-cita) Azizah bisa terwujud jadi dokter, kalau dia memang semangat. InsyaAllah, mudah-mudahan kita bisa mendukung Azizah jadi dokter. Luar biasa lho, kalau Azizah jadi dokter. Sekarang umur 6,5 tahun, nanti ketemu 19 tahun lagi Azizah wisuda dokter," ucapnya.
Pada kesempatan tersebut, Hasto tak sekadar datang menjenguk, namun juga membawa komitmen penuh untuk memutus rantai kemiskinan yang membelit bocah kecil tersebut.
Di sela-sela dialog, ia menegaskan, bahwa kehadiran pemerintah adalah kewajiban mutlak, terutama ketika menyangkut kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan anak.
"Pemerintah harus hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar, itu wajib. Tidak boleh Azizah diajak kerja dulu, lalu tidak sekolah dan kesehatannya tidak terurus," ujarnya.
Meski secara data kependudukan keluarga Azizah tercatat sebagai warga Jomblangan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Hasto enggan terjebak dalam sekat birokrasi.
Baca juga: Kisah Azizah, Bocah 6,5 Tahun di Kota Yogyakarta Cari Rongsok hingga Rawat Ayah Sakit
Baginya, urusan kemanusiaan di wilayah aglomerasi DI Yogyakarta pada khususnya, harus diselesaikan secara kolektif tanpa memandang batas daerah.
"Prinsipnya, kami ingin membantu. Jangan setiap orang (bilang) 'wah ini bukan warga saya' terus selesai. Ya jangan begitulah. Kita bisa menghubungi pemerintah setempat. BPJS-nya juga langsung kami bantu aktifkan, berkoordinasi dengan Bantul," ungkapnya.
Hasto pun memberikan pesan bagi para pemangku wilayah, mulai dari Lurah hingga Mantri Pamong Praja, agar mereka lebih jeli memantau warga yang lemah di areanya masing-masing.
Bukan tanpa alasan, ia menyebut, orang-orang seperti Azizah dan keluarganya inilah yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk mendapatkan pertolongan.
"Besok di yaumul akhir yang ditanyakan itu orang-orang terlantar, sudah diurus belum? Belum tentu ditanyakan jalan yang halus atau conblock, tapi kebutuhan dasar kehidupan seperti ini yang utama. Di Kota Yogyakarta tidak boleh ada orang yang hidupnya tidak layak," tambahnya.
Tidak hanya bicara kebijakan, Hasto juga memastikan langkah konkret bagi keluarga ini, mengingat ayah Azizah, Hermanto, menderita sakit akibat benjolan (tumor) di kepalanya.
Sementara untuk Azizah dan adiknya, Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Sosial akan bermitra dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Rumah Singgah Bumi Damai untuk menjamin pengasuhan dan pendidikan mereka.
"Nanti bapaknya dibawa ke RSUD Yogya, dan Azizah harus tetap sekolah. Luar biasa cerdas anak ini. Bayangkan, tiap hari ikut bapaknya cari rongsok, nyuci baju, tapi pikirannya cerdas," tuturnya.
Sementara, Hermanto, ayah Azizah, yang sudah merantau dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan sejak 2004, mengaku lega setelah bertemu langsung dengan Wali Kota Yogyakarta.
Selama ini, penyakit di kepalanya seringkali kambuh dan membuatnya tak berdaya, sehingga Azizah yang masih kecil terpaksa mengambil alih pekerjaan rumah tangga hingga ikut mencari rongsokan.
"Sangat senang dibantu untuk anak-anak saya dan pengobatan saya. Sudah lama sakit begini, baru hari ini bisa ketemu Pak Wali Kota yang mau membantu mengangkat penyakit saya," katanya.
Hermanto mengalami benjolan yang cukup besar di kepalanya.
Warga Sumatra yang menetap di Kota Yogyakarta sejak tahun 2004 itupun tak tahu persis nama penyakitnya.
"Bukan tumor, nggak tahu namanya. Dulu kecil tapi lama-lama besar. Ya hampir dua tahunan. Kemarin saya sakit, dua minggu, jadi kan dia (Azizah) yang nyuci baju, nyuci piring, pijitin, ngepel. Karena kalau kena panas ngentak, ngenyut. Kalau kedinginan juga," ungkapnya.
"Dia juga sebenarnya lagi sakit, tifus, rambutnya pada rontok. Emang dia anaknya kuat. Pernah pas cari rosok (rongsok) sepeda penuh, dari Blok O sampai sini (Kampung Mrican, Giwangan) tahan dia jalan kaki. Dia itu orang yang keras (kuat) gitu.," lanjutnya.
Berbekal karung yang bahkan lebih besar dari tubuhnya, Azizah berkeliling untuk mencari kaleng, kardus, hingga botol bekas dan dikumpulkan dalam karung yang ia bawa.
Sudah sekitar dua pekan terakhir, siswa Taman Kanak-kanak (TK) itu mencari rongsok sendirian.
Ayahnya sakit dan tidak mencari rongsok.
"Pengen bantu ayah," kata Azizah singkat.
Sudah absen selama dua pekan, ia ingin segera bersekolah.
Azizah memang sudah sering membantu ayahnya mencari rongsok.
Biasanya, Azizah beserta ayah dan adiknya mencari rosok dengan sepeda.
Menurut Hermanto, ayah Azizah, anak pertamanya itu memang sosok yang kuat.
Azizah tidak pernah mengeluh meski terkadang harus berjalan jauh ketika mencari rosok.
Sekitar dua pekan ini, ia sedang sakit dan tidak bisa bekerja.
Namun, putri kecilnya membantunya, mulai dari membeli makanan, mencuci baju, hingga memijit.
Penghasilannya tidak tentu, mulai dari Rp130.000 hingga Rp150.000, paling banyak Rp200.000 per tiga hari.
Setiap hari ia mencari rongsok, kemudian setiap tiga hari sekali ditimbang. Hasilnya ia sisihkan untuk makan hingga membayar kos.
"Penghasilannya nggak tentu, buat beli nasi Rp5.000, beli dua bungkus, kan Rp10.000. Nah kan beli dua kali, untuk siang sama sore, jadi Rp20. 000 buat makan bertiga. Terus setiap minggu nabung Rp100.000, karena kosnya kan Rp400.000," ujarnya.
( tribunjogja.com/ aka/maw )