TRIBUNNEWS.COM - Harga emas dunia mengalami penurunan pada awal pekan seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Sentimen pasar kembali berubah setelah gencatan senjata yang sebelumnya disambut positif mulai menunjukkan tanda-tanda runtuh.
Harga emas spot tercatat turun 0,4 persen menjadi USD 4.809,71 per ons pada pukul 01.55 GMT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 13 April 2026 di awal perdagangan.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni melemah 1% menjadi USD 4.829,40.
“Harga emas turun hari ini setelah gencatan senjata perang AS-Iran yang dirayakan pasar pekan lalu tampaknya mulai runtuh," terang Kepala makro global di Tastylive, Ilya Spivak, mengutip Reuters, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut kembali menghidupkan dinamika “perdagangan perang” yang sebelumnya telah muncul sejak awal konflik.
Baca juga: Mitra Goemas Buka Akses Buyback Emas Lebih Mudah bagi Toko Emas di Era Digital
Penguatan indeks dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga naik sebesar 0,5%, turut membebani harga emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah laporan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi global.
Situasi diperparah dengan langkah AS yang menyita kapal kargo Iran, serta ancaman balasan dari Teheran yang menambah ketidakpastian pasar.
Iran juga menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua negosiasi yang diharapkan berlangsung sebelum masa gencatan senjata berakhir.
Hal ini meningkatkan risiko bahwa kesepakatan damai tidak akan bertahan lama.
Sejak akhir Februari, harga emas telah turun sekitar 8% setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga global akibat tekanan inflasi justru mengurangi daya tarik logam mulia tersebut.
Ahli strategi OCBC, Christopher Wong, mengatakan, untuk sementara, masih diperkirakan pergerakan harga emas akan dipengaruhi oleh sentimen risiko yang lebih luas.
"Dan ini sangat bergantung pada bagaimana perundingan gencatan senjata berjalan," ujarnya.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 0,5% menjadi USD 80,36 per ons, platinum stabil di USD 2.103,38, sementara paladium melemah 0,1% ke USD 1.556,45.
(*)