
TRIBUNNEWS.COM - Momentum Hari Kartini 2026 mengajak kita tidak hanya melihat capaian perempuan hari ini, tetapi juga menimbang kembali arah perkembangan peradaban digital yang kita bangun bersama.
Di tengah kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), muncul pertanyaan mendasar apakah teknologi memperkuat nilai kemanusiaan atau justru menjauhkan kita darinya? Sebagai pendidik, pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat dinamika komunikasi digital di ruang akademik yang kian kompleks, termasuk munculnya praktik komunikasi yang kurang berempati dan berpotensi merendahkan martabat individu, khususnya perempuan.
Perkembangan teknologi digital dan AI telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Interaksi tidak lagi sepenuhnya berlangsung secara langsung, melainkan melalui teks, simbol, dan bahkan sistem otomatis. Dalam konteks ini, kualitas komunikasi sangat ditentukan oleh bagaimana manusia memahami batas etika dan empati.
Mengutip kembali dari buku saya, Humanoid Communication: Mengoptimalkan AI untuk Empati, tantangan terbesar di era digital bukan pada kecanggihan teknologi, melainkan pada kemampuan manusia mempertahankan nilai empati di tengah interaksi yang semakin tidak personal.
Terdapat kecenderungan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan teknologi, semakin besar pula risiko terjadinya dehumanisasi komunikasi, yakni kondisi ketika manusia berinteraksi tanpa mempertimbangkan aspek emosional dan etis dari lawan bicaranya.
Fenomena ini terjadi karena, (1) komunikasi digital mengurangi isyarat non-verbal (intonasi, ekspresi wajah); (2) anonimitas atau jarak sosial menurunkan rasa tanggung jawab; (3) algoritma mempercepat penyebaran pesan tanpa filter nilai. Dalam konteks ini, kekerasan verbal sering kali tidak disadari sebagai bentuk kekerasan, melainkan dianggap bagian dari kebebasan berekspresi.
Lingkungan pendidikan tinggi menjadi ruang yang sangat strategis sekaligus rentan. Mahasiswa sebagai generasi digital native berinteraksi secara intens melalui teknologi, sementara dosen dan institusi berperan sebagai penjaga nilai.
Namun, tanpa kesadaran kolektif, ruang akademik dapat mengalami apa yang disebut sebagai “disrupsi empati”, yakni kondisi ketika kecerdasan teknologi tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional.
Buku Humanoid Communication menawarkan perspektif penting: AI dan teknologi tidak harus menjadi ancaman, melainkan dapat dioptimalkan untuk memperkuat empati, jika digunakan dengan pendekatan yang tepat.
Ada tiga prinsip utama yang relevan bagi dunia pendidikan: (1) Human Centered Communication. Teknologi harus tetap berorientasi pada manusia, bukan sebaliknya. (2) Augmented Empathy. AI dapat digunakan untuk membantu memahami konteks emosi dan mendorong komunikasi yang lebih sensitif. (3) Ethical Digital Literacy. Literasi digital harus mencakup kemampuan memahami dampak sosial dan psikologis dari setiap pesan yang disampaikan.
Jika Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan, maka di era ini perjuangan tersebut berkembang menjadi menjaga kualitas kemanusiaan dalam interaksi digital. Perempuan hari ini tidak hanya membutuhkan akses, tetapi juga rasa aman dalam berkomunikasi, penghormatan dalam ruang digital dan perlindungan dari praktik komunikasi yang merendahkan. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat Kartini yang menempatkan martabat sebagai inti dari emansipasi.
Sebagai bagian dari komunitas akademik, terdapat beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan: (1) Mengintegrasikan etika komunikasi digital dalam pembelajaran, (2) Mengembangkan pendekatan pembelajaran yang menumbuhkan empati, (3) Memanfaatkan teknologi, termasuk AI, sebagai alat untuk membangun komunikasi yang lebih manusiawi Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi mahasiswa, tetapi juga bagi dosen sebagai teladan dalam praktik komunikasi akademik.
Hari Kartini 2026 memberikan ruang bagi kita untuk melihat bahwa tantangan perempuan hari ini tidak hanya berada pada akses, tetapi juga pada kualitas interaksi di ruang digital yang semakin kompleks. Masa depan komunikasi tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa mampu kita menjaga empati di dalamnya.
Dalam konteks ini, pendidikan memiliki peran strategis bukan hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan etis. Dengan demikian, semangat Kartini dapat terus hidup, tidak hanya dalam sejarah, tetapi dalam cara kita berkomunikasi termasuk di era kecerdasan buatan.
Baca juga: Sejarah Hari Kartini 21 April: Perjuangan RA Kartini hingga Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional