Inilah Dampak Godzilla El Nino di Indonesia, Picu Krisis Air Bersih hingga Ketahanan Pangan
Teddy Malaka April 20, 2026 11:20 AM

POS BELITUNG -- Fenomena “Godzilla El Nino” tengah menjadi perhatian karena dinilai berpotensi membawa dampak besar, terutama bagi Indonesia.

Pada pertengahan 2026, kondisi iklim ekstrem diperkirakan akan memengaruhi berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air hingga ketahanan pangan nasional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan telah memberikan peringatan dini terkait kemunculan anomali ini.

Istilah “Godzilla El Nino” digunakan untuk menggambarkan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mencapai tingkat sangat tinggi atau kategori super.

Baca juga: Kalender 2026, Siap-siap Liburan Long Weekend di Bulan Mei, Catat Tanggal 4 Momennya

Fenomena ini tidak terjadi sendiri, melainkan berbarengan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi keduanya menciptakan kondisi atmosfer yang tidak biasa dan berpotensi memicu musim kemarau panjang.

Dampaknya diperkirakan mulai terasa sejak April 2026 dan mencapai puncaknya sekitar Oktober 2026. Salah satu efek utama adalah berkurangnya curah hujan yang berdampak langsung pada ketersediaan air.

Memahami kondisi ini menjadi penting bagi berbagai sektor. Petani perlu menyesuaikan pola tanam, pelaku industri harus mengantisipasi keterbatasan air, sementara pemerintah dituntut memperkuat cadangan pangan.

Mengapa disebut “Godzilla” El Nino?

Istilah “Godzilla” digunakan oleh ilmuwan iklim untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat. Dalam kondisi ini, suhu laut di wilayah Pasifik tengah dan timur meningkat jauh di atas normal.

Akibatnya, pembentukan awan di Indonesia berkurang sehingga curah hujan menurun drastis. Julukan “Godzilla” mencerminkan skala besar dan dampaknya yang luas terhadap pola cuaca global.

Situasi makin kompleks karena beriringan dengan IOD positif di Samudra Hindia. Fenomena ini ditandai oleh suhu laut yang lebih dingin di sekitar wilayah barat Indonesia, seperti Sumatra dan Jawa, sehingga pembentukan awan hujan bergeser ke arah Afrika.

Kombinasi kedua fenomena tersebut membuat Indonesia kehilangan dua sumber utama uap air, sehingga udara menjadi lebih kering dan suhu meningkat.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap dampaknya, terutama ancaman kekeringan di wilayah lumbung pangan serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Dampak bagi masyarakat

Berdasarkan proyeksi model iklim BRIN, periode April–Juli 2026 akan didominasi kemarau kering di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, sebagian wilayah seperti Sulawesi dan Maluku justru masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi.

Fenomena ini dapat memicu berbagai dampak:

Ketahanan pangan terganggu: Risiko gagal panen meningkat akibat minimnya air untuk pertanian.
Krisis air bersih: Sumber air seperti waduk dan sungai berpotensi menyusut, terutama di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Kebakaran hutan dan lahan: Vegetasi kering meningkatkan risiko karhutla, khususnya di Sumatra dan Kalimantan.
Masalah kesehatan: Suhu ekstrem dapat memicu dehidrasi, heatstroke, serta gangguan pernapasan akibat asap.

Upaya antisipasi
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai memperkuat cadangan pangan pemerintah sebagai langkah mitigasi. Stok pangan disiapkan agar dapat segera disalurkan jika terjadi gangguan produksi.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih hemat air, menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas, serta menghindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran.

Dengan kesiapsiagaan dari berbagai pihak, dampak dari fenomena ekstrem ini diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.
 
 (Pos Belitung/Tribunnews/Tribunnews Maker)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.