BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Keberadaan ambulans sungai di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya hingga kini masih berfungsi.
Tampak satu unit ambulans sungai milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Suriansyah, Banjarmasin, terparkir di tepian Sungai Martapura, tepatnya di depan RSUD Sultan Suriansyah.
Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr H Fajar Sukma Nan Agung menjelaskan tantangan operasional dan biaya bahan bakar ambulans sungai cukup tinggi, kendati demikian, armada ini tetap menjadi tumpuan utama untuk evakuasi medis di kawasan yang sulit dijangkau jalur darat.
"Ambulans sungai selalu siap sedia, terutama saat perayaan hari-besar atau agenda rutin Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin," terangnya, Senin (20/4/2026).
Seiring dengan semakin membaiknya akses jalan darat ke berbagai pelosok, di antaranya wilayah Mantuil, intensitas panggilan darurat melalui jalur sungai memang mengalami perubahan.
Namun, untuk wilayah yang masih terisolasi misalnya perbatasan Tabunganen, ambulans sungai tetap menjadi sarana vital.
"Kalau untuk panggilan (darurat), selama saya menjabat ini memang belum ada yang masuk, karena ke arah Mantuil sekarang sudah banyak jalur darat. Kecuali daerah perbatasan Tabungane atau wilayah perairan lainnya yang memang jauh, itu masih kita layani," ujarnya.
Diketahui, dr H Fajar Sukma baru menjabat Direktur RSUD Sultan Suriansyah sejak Februari 2026 lalu.Selain evakuasi pasien, ambulans sungai ini aktif disiagakan dalam acara-acara besar yang melibatkan orang banyak di pinggiran sungai.
Baca juga: Jemaah Haji Tertua Banjarmasin, Paini Parto Utomo, Berangkat di Usia 85 Tahun
Ambulans sungai disiagakan di acara rutin tahunan Pemko Banjarmasin. Kemudian di event-event besar, misalnya menjadi unit medis standar pada peringatan Haul Guru Sekumpul atau kegiatan di Siring.
"Rencananya akan dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis (cek tensi) di area Siring setiap satu atau dua bulan sekali untuk meningkatkan kebermanfaatan unit," bebernya.
Tak dipungkiri, operasional ambulans sungai memerlukan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan ambulans darat.
dr Fajar Sukma menuturkan satu kali perjalanan pulang-pergi menuju wilayah luar kota bisa menghabiskan puluhan liter bahan bakar.
"Operasionalnya memang besar. Sekali kita ke luar daerah, pulang-pergi itu bisa habis sekitar 35 liter bahan bakar," ungkapnya.
Masalah lain muncul dari sisi administrasi klaim kesehatan. Biaya operasional yang tinggi seringkali tidak sebanding dengan standar klaim yang ada.
Diketahui klaim untuk ambulans, baik jarak dekat maupun jauh, dipatok sekitar Rp100.000. Pihak RS menerapkan sistem subsidi silang agar layanan tetap bisa berjalan tanpa membebani pasien secara berlebihan.
Saat ini, terdapat satu unit ambulans sungai yang beroperasi. Unit ini telah dilengkapi dengan mesin yang mumpuni serta kanopi pelindung untuk memastikan kenyamanan pasien dari panas matahari selama proses evakuasi di sungai. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)