Mimbar Legislasi DPRD Bantul : Dodi Purnomo Jati Sebut Petani Milenial Kunci Ketahanan Pangan Bantul
Hari Susmayanti April 20, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sekretaris Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul, Dodi Purnomo Jati, menilai, ketahanan pangan bukan sekadar isu pertanian, melainkan stabilitas hidup sehari-hari. 

Pada era sekarang, kebutuhan ini makin mendesak karena beberapa hal besar yang sedang terjadi secara global.

Sebab, setidaknya ada empat tantangan global yang mengintai piring masyarakat saat ini.

"Pertama terkait perubahan iklim tentu membuat produksi pangan makin tidak pasti. Cuaca ekstrem seperti kekeringan panjang atau hujan berlebihan berpotensi gagal panen. Petani jadi sulit memprediksi musim dan hasil panen bisa turun drastis," ucapnya, kepada Tribunjogja.com, Senin (20/4/2026).

Tantangan kedua yakni terkait geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok pangan dunia berupa makanan gandum dan sebagainya.

Menurutnya, ketika distribusi terganggu, harga pangan di banyak negara termasuk Indonesia berpotensi ikut naik.

Tantangan ketiga berupa kondisi pertumbuhan penduduk. Semakin banyak orang, semakin tinggi kebutuhan pangan.

Apabila produksi tidak meningkat atau tidak dikelola dengan baik, maka bisa terjadi kelangkaan atau harga yang tidak terjangkau.

Baca juga: Datin Wisnu Pranyoto: PSEL Solusi Pemungkas Atasi Krisis Sampah di Bantul

Selanjutnya, tantangan keempat adanya ketergantungan pada impor.

Dodi menilai apabila sebuah negara terlalu bergantung pada bahan pangan dari luar, maka saat terjadi krisis global atau gangguan distribusi terjadi dapat berdampak langsung pada masyarakat.

"Di Indonesia sendiri, ketahanan pangan menjadi penting untuk menjaga harga tetap stabil, menjamin kebutuhan makan dan gizi masyarakat yang cukup, mengurangi kemiskinan dan kerawanan sosial, hingga menjaga kemandirian negara," jelasnya.

Untuk mengatasi tantangan itu, politisi dari PDI Perjuangan ini memberikan solusi konkret berupa penguatan produksi lokal pertanian, perikanan, dan peternakan, melalui diversifikasi pangan, teknologi pertanian modern, pengelolaan distribusi dan stok pangan, hingga edukasi bijak konsumsi.

"Kami turut mengajak generasi muda untuk bertani atau disebut Petani milenial untuk ketahanan pangan adalah generasi muda (umumnya usia 19–39 tahun) yang terjun ke sektor pertanian dengan pendekatan modern, inovatif, dan berbasis teknologi," tuturnya.

Dikatakannya, saat ini banyak petani sudah berusia lanjut.

Tanpa generasi muda, sektor pertanian bisa mengalami krisis tenaga kerja.

Apalagi, generasi muda dapat adaptif terhadap teknologi, sehingga hasil panen diharapkan dapat lebih efisien dan berkualitas.

"Petani milenial adalah kunci masa depan ketahanan pangan. Mereka bukan hanya bertani, tapi juga menjadi inovator, pengusaha, dan penggerak ekonomi desa khususnya di Bumi Projotamansari," papar Dodi.

Setidaknya, petani milenial dapat berperan dalam mewujudkan urban farming di perkotaan, agribisnis berbasis digital, dan pengolahan hasil pertanian jadi produk bernilai tambah.

Bahkan, inovasi greenhouse atau rumah kaca menjadi solusi pertanian yang cocok untuk petani milenial.

Pihaknya menyadari bahwa untuk menuju menjadi petani milenial terkadang terdapat tantangan berupa akses lahan terbatas, modal usaha kurang, opini bahwa bertani kurang menjanjikan, dan fluktuasi harga panen.

Walau begitu, petani milenial tidak perlu risau, sebab ada banyak solusi dan dukungan yang dibutuhkan.

"Solusi dan dukungan yang dibutuhkan berupa pelatihan dan pendidikan pertanian modern, akses permodalan berupa KUR dan startup agritech, dukungan kebijakan pemerintah, hingga penguatan komunitas dan koperasi petani," tandasnya.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.