TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini adalah sosok John Kei.
Nama John Kei kembali jadi perbincangan publik usai pamannya, Agrapinus Rumatora atau Nus Kei tewas usai ditikam oleh ponakan John Kei, Hendrikus Rahayaan (HR) alias Hendra di Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara, Minggu (19/4/2026).
Pasalnya, meski memiliki hubungan keluarga, John Kei dan Nus Kei diketahui memiliki riwayat konflik serius yang sempat berujung kekerasan.
Hubungan John Kei dan Nus Kei tidak harmonis. Pada 2020, konflik di antara keduanya memicu aksi penyerangan terhadap rumah Nus Kei di kawasan Cipondoh, Tangerang.
Sebelum Nus Kei tewas ditikam Hendrikus Rahayaan, John Kei pada beberapa lalu juga nyaris membunuh Nus Kei.
Bahkan rumah Nus Kei pernah menjadi amukan kelompok John Kei hingga kendaraannya juga mengalami kerusakan.
Kelompok John Kei melakukan penyerangan secara membabi buta di rumah Nus Kei di Klaster Australia, Jalan Boulevard Cipondoh, Tangerang Kota
Peristiwa tersebut terjadi pada 2020 silam.
John Kei pernah nyaris membunuh Nus Kei lantaran masalah penjualan tanah.
Kapolda Metro Jaya yang dijabat Irjen Pol Nana Sudjana saat itu, mengungkap John Kei dan Nus Kei masih memiliki ikatan keluarga.
Motif penyerangan yang dilakukan oleh kelompok John Kei terhadap Nus Kei bermula ketidakpuasan pembagian uang hasil penjualan tanah.
"Dilandasi berdasarakan permasalahan pribadi antara saudara John Kei dengan Nus Kei. Masalahnya adanya ketidak puasan pembagian uang hasil penjualan tanah," kata Nana .
Kemudian permasalahan semakin meruncing dengan keduanya saling melempar ancaman.
Terjadi dua aksi penyerangan oleh kelompok John Kei pada hari, Minggu (21/6/2020).
Penyerangan pertama berlokasi di wilayah Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat sekitar pukul 11.30 WIB.
Aksi penyerangan yang dilakukan oleh sekitar 7 orang tersebut menewaskan 1 orang dengan sejumlah luka bacok, serta 1 orang lainnya mengalami luka di bagian tangan.
Penyerangan kedua terjadi di kediaman Nus Kei di Green Lake City, Cluster Australia No 52, Cipondoh, Kota Tangerang pada pukul 12.25 WIB.
Mereka melakukan pengrusakan terhadap rumah yang ditempati Nus Kei. Pintu rumah Nus Kei didobrak, kaca jendela dipecahkan menggunakan barbel.
Selain itu merusak ruang tamu dan kamar tidur menggunakan parang. Pelaku juga merusak satu kendaraan milik Nus Kei dan satu milik tetangganya.
Nana melanjutkan, saat itu kelompok tersebut mencari Nus Kei. Namun diketahui yang bersangkutan sedang tidak berada di rumahnya.
"Yang ada istri dan anak-anaknya. Mereka berusaha meninggalkan tempat saat pengrusakan sedang berlangsung."
"Kemudian setelah melakukan pengrusakan dan tidak ditemukan orang yang dicari. Kelompok ini keluar," beber Nana.
Saat meninggalkan kompleks perumahan itu, kelompok John Kei kembali melakukan aksi penyerangan terhadap orang-orang di kawasan tersebut.
"Melakukan pengerusakan terhadap gerbang perumahan dan membuang tembakan sebanyak 7 kali."
"Sehingga menyebabkan 1 orang security tertabrak dan satu pengemudi ojek online tertembak di jempol kaki sebelah kanan," tuturnya.
Saat itu sebanyak 30 orang terduga pelaku termasuk John Kei telah diamankan oleh pihak kepolisian dan akan dilakukan pendalaman.
Kini nama John Kei kembali menjadi perbincangan setelah pamannya, Nus Kei, tewas ditikam di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur.
Peristiwa bermula saat Nus Kei tiba dari Ambon sekitar pukul 11.10 WIT untuk menghadiri agenda Musda Partai Golkar Maluku Tenggara.
Saat berjalan menuju pintu keluar bandara untuk menemui keluarga, korban tiba-tiba diserang oleh dua pria yang salah satunya ternyata ponakan dari John Kei.
Seorang pelaku mengenakan jaket merah dan masker mendekati korban lalu melakukan penikaman.
Kakak korban, Antonius Rumatora, sempat berusaha menghentikan pelaku dengan memeluk dan membantingnya. Namun pelaku melawan dan berhasil melarikan diri.
Selang beberapa menit, datang seorang pria diduga pelaku memakai jaket merah dan menggunakan masker langsung menikam Saudara Almarhum Agrapinus Rumatora.
"Melihat kejadian tersebut Saudara Antonius Rumatora (kakak korban) sempat memeluk dan membanting yang diduga pelaku namun pelaku melawan dan berhasil melarikan diri," demikian rilis resmi yang diterima dari Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono, Minggu (19/4/2026) melansir Tribunnews.com.
Setelah itu, Nus Kei sempat lari ke dalam bandara tetapi terjatuh dan sempat memperoleh pertolongan dari petugas di lokasi.
Nus Kei lantas dilarikan ke Rumah Sakit Karel Sadsuitubun untuk penanganan medis. Nahas, korban dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit.
"Pukul 11.44 WIT, Saudara Agrapinus Rumatora dinyatakan meninggal akibat pendarahan hebat serta luka pada organ vital," tuturnya.
Berdasarkan laporan yang diterima, Nus Kei menderita empat luka tusuk di bagian dada sebelah kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.
Di sisi lain, maksud dari Nus Kei berada di Kabupaten Maluku Tenggara untuk menghadiri acara partai.
Kapolres Maluku Tenggara AKBP Rian Suhendi mengungkapkan bahwa motif utama kasus ini adalah dendam.
Menurut keterangan awal kepolisian, kedua tersangka diduga menyimpan luka lama terkait konflik yang terjadi sebelumnya di Jakarta.
Polisi menyebut, para pelaku meyakini korban memiliki keterkaitan dengan peristiwa kekerasan di masa lalu.
"Motifnya adalah dendam. Kedua pelaku meyakini bahwa korban merupakan otak di balik pembunuhan saudara mereka, Fenansius Wadanubun alias Dani Hollat, yang tewas di dekat Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi, beberapa tahun lalu," jelas AKBP Rian Suhendi melansir dari berbagai sumber.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi mengatakan, pelaku berjumlah dua orang, yakni HR (28) dan FU (36).
Polda Maluku menyatakan kasus ini akan ditangani secara profesional dan meminta masyarakat tetap tenang.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga besar korban dan simpatisan, untuk menahan diri dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada Polri. Jangan ada aksi balasan yang dapat memperkeruh situasi. Saat ini situasi di Maluku Tenggara aman dan kondusif,” ucapnya.
Saat ini kedua pelaku telah diamankan di Polda Maluku untuk diproses lebih lanjut dan menyelidiki motifnya.
John Kei memiliki nama lengkap John Refra Kei.
Ia merupakan pria kelahiran Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara.
John Kei terkenal dengan julukan Godfather of Jakarta.
Hal tersebut tidak lepas dari catatan kriminal yang ia miliki.
John Kei disandingkan dengan mafia di Italia dan diberikan gelar 'Godfather of Jakarta' karena bisnisnya seperti mafia.
Perjalanan hidup John Kei dimulai saat usia 18 tahun ketika ia merantau ke Surabaya.
Selama di Surabaya, John Kei menggelandang dan ditolong untuk membantu Hamba Allah di sebuah gereja.
Dirinya kemudian memutuskan untuk pindah menuju ibu kota, tepatnya di kawasan Berlan, Jakarta Pusat.
John Kei dikenal sebagai debt kolektor melalui organisasi Angkatan Muda Kei (AMKEI).
Namanya makin meroket di komunitas underground Jakarta setelah kematian Basri Sangaji yang merupakan pesaingnya.
Kematian Basri Sangaji sering dikaitkan dengan John Kei, hal ini karena antara kelompok John Kei dengan Basri Sangaji sempat bentrok.
John Kei lolos dari jeratan hukum karena tidak terbukti terlibat dalam pembunuhan Basri Sangaji.
Nama John Kei tersorot media saat dirinya tertangkap karena kasus pembunuhan Tan Harry Tantono, Direktur Sanex Stell Mandiri.
Kasus John Kei yang paling menghebohkan yaitu pembunuhan berencana bos Sanex Stell Mandiri, Tan Harry Tantono 26 Januari 2012.
Tan Harry Tantono ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kawasan Jakarta Pusat.
John Kei terbukti melanggar Pasal 340 Juncto Pasal 55 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Pria kelahiran 10 September 1969 divonis 12 tahun penjara pada 27 Desember 2012.
John Kei mengajukan banding. Namun, dirinya kalah dalam persidangan dan justru hukumannya ditambah menjadi 16 tahun penjara.
Dia lalu ditahan di penjara Nusakambangan, Cilacap.
Selama 3 bulan, John Kei ditempatkan di penjara dengan keamanan khusus, CCTV mengintai 24 jam dan dilarang berinteraksi.
Dia juga hanya bisa keluar dari sel penjara selama satu jam tiap harinya.
Lima tahun mendekam di penjara, John Kei sempat mengaku bertaubat.
Dia pun aktif dalam kegiatan keagamaan selama di penjara. Hal tersebut diungkapkannya melalui acara Kick Andy Show.
John Kei bebas bersyarat pada Kamis (26/12/2019).
Hal ini berarti dia hanya menjalani masa hukuman penjara 7 tahun 10 bulan.
Sesaat setelah bebas, John Kei sempat mengaku ingin berubah.
Dia ingin hidup tenang bersama dengan keluarganya.
Sebulan setelah bebas, John Kei bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Rabu (15/1/2020).
Saat itu, John Kei diharapkan bisa membantu PKPI di Indonesia Timur.
Namun John Kei kembali ditangkap 6 bulan setelah keluar dari penjara oleh Polda Metro Jaya.
Polda Metro Jaya menggerebek markas John Kei di perumahan Tytyan Indah Utama, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (21/6/2020).
Penggerebekannya dilakukan setelah terjadi kasus penembakan, kericuhan, dan pembacokan di perumahan elite Green Lake City, Tangerang.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus menyebutkan John Kei ditangkap bersama dengan anak buahnya.
Total 25 orang ditangkap polisi dalam penggerebekan ini.
Polisi juga mengamankan 28 buah tombak, 24 buah senjata tajam, 2 buah ketapel panah, 3 buah anak panah, 2 buah stik bisbol, dan 17 buah ponsel.
John Kei pernah berbagi kisah dengan Andy Noya melalui saluran YouTube Kick Andy Show pada Jumat (12/4/2019).
Pada kesempatan tersebut, John Kei menceritakan bagaimana dirinya bisa berubah dari pembunuh bengis menjadi sosok yang membawa perubahan satu penjara.
John Kei mengakui sejak usia 22 tahun dirinya sudah mulai membunuh orang.
Bahkan sang Godfather of Jakarta ini menegaskan tidak ada penyesalan setelah menghilangkan nyawa orang lain.
Menurut John Kei, dirinya yang saat itu justru merasa lebih hebat jika sudah berhasil membunuh orang.
Namun, John Kei menjelaskan jika dirinya tidak akan melukai orang lain jika orang tersebut tidak melukai dirinya.
Saat Andy bertanya pada John Kei soal alasan sang pembunuh sadis ini berubah, ia pun menceritakannya.
Bermula saat John Kei ditempatkan di penjara khusus.
John Kei ditempatkan di dalam satu kamar dengan kamera yang mengintai sepanjang waktu.
Selain semua aktivitasnya terpantau oleh kamera, ia juga dilarang berinteraksi dengan napi lainnya.
Ia juga dibatasi untuk keluar dari sel selama satu jam saja dalam waktu satu hari.
Kunjungan keluarga pun dibatasi di lapas Nusakambangan.
Hal itu harus dialami oleh John Kei selama masa tiga bulan.
Selama itu, awalnya John Kei memberontak dan ingin keluarkan.
"Aku dengar bisikan, kamu ngapain teriak-teriak sampai tuli tidak ada gunanya. Bener saya denger sendiri," cerita John Kei pada Andy.
John Kei pun merenung dan ingin mati masuk surga tidak neraka, hal ini membuat dirinya semakin rajin membaca alkitab.
Ia menegaskan semua terserah pada semua orang menilai perubahan dirinya.
"Orang mau ngomong apa itu urusan mereka tapi saya punya keyakinan dan saya yakin sampai mati saya melayani Tuhan," tegas John Kei.
John Kei sudah mempersiapkan jika keluar tidak akan tergoda.
"Kitab Injil Matius ayat 33 itu meyakinkan saya, kalau saya melayani Tuhan, Tuhan nggak mungkin lupa saya, Tuhan akan memberikan lebih dari yang aku butuhkan. Waktu yang akan membuktikan," jelas John Kei.
Bangkapos.com/Tribun-Video/Surya.co.id)