TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Kisah viral bocah kakak beradik di Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) Humaira (11) dan Muhammad Umar (8) mendapat atensi dari sejumlah pihak.
Kisah Humaira dan adiknya Umar menyentuh sisi kemanusia.
Kedua bocah itu kini tinggal di rumah layak huni dengan pendidikan terbengkalai.
Ayahnya terpaksa mengambil keputusan berat merantau ke Kalimantan untuk memperbaiki kondisi ekonomi.
Baca juga: Kisah Humaira dan Umar, Bocah di Tapalang Mamuju Ditinggal Ayah Merantau, Hidup di Rumah Tak Layak
Sementara ibunya yang sudah cerai dengan sang ayah, dikabarkan kini tinggil di Lero.
Humairah dan Umar kini menjalani hari-hari dengan penuh keterbatasan.
Meski menurut pemerintah setempat, kedua bocah itu dititip ayahnya ke saudara kandung yang rumahnya berdekatan dengan kediaman Humairah dan Umar.
Namun, kehidupan dua bocah tersebut tetap saja memprihatinkan karena keterbatasan ekonomi keluar.
Mereka tinggal di rumah tak layak huni.
Merespon kondisi itu, Badan Amil Zakat (Baznas) Provinsi Sulbar, menyambagi kediaman Humairah dan Umar di Tapalang.
"Kita patut memberikan apresiasi kepada petugas Baznas yang telah turun langsung memberikan bantuan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kepedulian itu nyata, bukan hanya wacana," kata TA Gubernur Sulbar, Hajrul Malik kepada Tribun-Sulbar.com, Senin (20/4/2026).
Hajrul mengatakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat sedang melakukan langkah-langkah ekstra dalam menurunkan angka kemiskinan, termasuk penanganan kemiskinan ekstrem.
"Memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, namun pemerintah tetap hadir dengan seluruh instrumen yang dimiliki, meskipun dalam berbagai keterbatasan," ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, sambung Hajrul, pekan lalu Pemprov Sulbar telah mencapai kesepakatan dengan Kementerian Sosial untuk intervensi kemiskinan ekstrem secara bertahap.
Pendekatan ini dilakukan melalui seleksi berbasis desil 1 hingga 3 serta kriteria lainnya, dengan dukungan bantuan sebesar Rp5 juta per kepala keluarga.
"Namun, kondisi Humaira dan Umar mengingatkan kita bahwa persoalan ini belum selesai. Fakta bahwa mereka tetap kembali ke rumahnya setiap malam menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya bantuan sesaat, tetapi perhatian berkelanjutan, perlindungan, pendampingan, dan solusi jangka panjang," pungkas Hajrul.
Hajrul mengajak seluruh pihak, menjadikan ini sebagai momentum memperkuat kepedulian sosial dan kolaborasi.
"Karena pada akhirnya, memastikan masa depan anak-anak seperti mereka adalah tanggung jawab kita bersama," katanya.(*)