TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Sedikitnya 30 hektar (Ha) tanaman bawang merah di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) diserang hama ulat membuat petani meradang, Senin (20/4/2026).
Sebagian petani terpaksa melakukan panen lebih awal untuk meminimalisir kerugian.
Areal perkebunan bawang terdampak paling parah akibat serangan hama ulat berada di Desa Bala, Kecamatan Balanipa.
Baca juga: Tanaman Terserang Hama Ulat, Petani Bawang Merah di Polman Rugi Miliaran Rupiah
Baca juga: Terdeteksi Serangan Ulat Grayak Pada Tanaman Bawang Merah di Polman Petani Sebar Anti Hama
Serangan hama membuat tanaman bawang warga rusak dengan tingkatan berbeda-beda.
Langkah petani menyelamatkan bawang merah ini dipanen secara seleksi yang layak digunakan.
"Kita panen ini di usia dini, istilahnya belum sampai umurnya, kalau kita manusia istilahnya prematur," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman, Muhammad Yunus kepada wartawan.
Dia menyebut serangan hama ulat ini berdampak satu hamparan seluas sekitar 30 hektar.
Tetapi dampaknya kata Yunus ada ditingkatan, rata-rata umur 50 sampai 60 hari masih bisa diselamatkan.
Terdapat pula beberapa hektar lahan yang umur belum cukup satu bulan sama sekali tidak layak tumbuh.
Menurut Yunus, serangan hama pada tanaman bawang dapat disebabkan beberapa hal.
Selain pola tanam juga karena faktor cuaca yang mempengaruhi ketersedian air.
Agar serangan hama tidak semakin meluas, Yunus mengaku telah melakukan gerakan pengendalian (gerdal) bersama para petani.
"Gerakan pengendalian hama, khusus wilayah sini kemarin mungkin ada sekitaran 12 hektar, itu salah satu langkah pengendalian," ungkapnya.
Yunus juga mengaku telah berkoordinasi dengan pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi V di Mamuju.
Diharapkan dapat membangun fasilitas penyedia air di sekitar areal perkebunan warga.
Sementara salah satu petani bawang bernama Mansur mengungkap, serangan hama berlangsung sejak setengah bulan terakhir.
Kondisi cuaca yang tidak menentu diakui menjadi salah satu penyebabnya.
"Sudah ada ini setengah bulan serangannya hama ulat, penyebabnya itu kalau gerimis langsung naik itu hama, langsung jadi," kata Mansur.
Menurut Mansur, serangan hama membuat tanaman bawang menjadi kering hingga mati.
Penyemprotan menggunakan pestisida tidak banyak membantu lantaran sebagian besar hama berkembang biak di dalam daun.
Kata Mansur, serangan hama ini membuat para petani di daerah ini menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Sebab, rata-rata untuk setiap hektar lahan petani membutuhkan 6 kuintal dengan harga Rp 5,5 juta per kuintal.
"Kalau kerugiannya banyak, bibit saja kita sudah habis puluhan juta, sementara untuk satu kuintal bibit itu kalau panen hasilnya bisa mencapai 1,5 ton bawang, sekarang hasilnya sudah tidak seberapa," pungkasnya.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli