Penderitaan Rakyat Terkait Kenaikan BBM Mulai Dirasakan Sopir di Manokwari
Marius Frisson Yewun April 20, 2026 02:14 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, MANOKWARI – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Dexalite dikeluhkan para sopir Hilux lintas antarkabupaten Manokwari – Teluk Bintuni karena dinilai sangat memberatkan biaya operasional harian.

Salah satu sopir Hilux lintas Manokwari–Bintuni, Bakri, mengatakan harga Dexalite di Manokwari Papua Barat yang kini mencapai Rp24.150 per liter.

Kenaikan harga yang signifikan ini membuat pengeluaran bahan bakar meningkat drastis, terutama saat mereka tidak mendapatkan biosolar.

Baca juga: Pertamina Papua Maluku Pastikan Stok BBM di 467 SPBU Aman 12 Hari ke Depan

“Kalau tidak dapat biosolar, terpaksa isi Dexalite. Sekarang harganya sekitar Rp24.150, sebelumnya hanya Rp16.500. Dampaknya sangat berpengaruh sekali,” ujarnya kepada Tribunpapuabarat.com, Senin (20/4/2026).

Dengan kapasitas tangki sekitar 60 liter, biaya pengisian penuh yang sebelumnya berkisar Rp800 ribu kini melonjak menjadi lebih dari Rp1 juta.

“Kalau dulu isi full tank sekitar Rp800 ribu, sekarang bisa lebih dari Rp1 juta. Sementara sekali jalan paling dapat sekitar Rp2 juta,” jelasnya.

Menurut Bakri, sebagian besar pendapatan habis untuk biaya bahan bakar sehingga sisa penghasilan yang dibawa pulang sangat minim.

Baca juga: Warga Sarmi Tidak Panik Kenaikan BBM Sebab Terbiasa Hidup dengan Stok Terbatas

“Kalau dapat Rp2 juta, habis isi Dexalite tinggal sekitar Rp400 ribu. Jadi sangat terasa sekali dampaknya,” katanya.

Ia menambahkan, para sopir bahkan rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan biosolar yang lebih murah guna menekan biaya operasional.

Namun kenaikan harga BBM tersebut belum diikuti dengan penyesuaian tarif penumpang.

“Untuk sementara belum ada kenaikan tarif penumpang. Kita masih pakai harga lama,” ujarnya.

Baca juga: Wapres Gibran Dijadwalkan Tinjau Toko Buku hingga Sentral Pendidikan di Mimika

Bakri juga mengungkapkan jumlah penumpang lintas Manokwari–Teluk Bintuni cenderung menurun. Sopir kini lebih banyak mengandalkan angkutan barang.

“Sekarang lagi sepi. Kalau penumpang kadang hanya satu dua orang saja,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin baiknya infrastruktur jalan, sehingga masyarakat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi dan motor.

“Sekarang jalan sudah bagus, jadi mobil kecil dan motor juga sudah banyak yang melintas,” tambahnya.

Baca juga: Update: Laka Tunggal di Sentani 2 Penumpang Meninggal, Sopir Diamankan

Bakri berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali harga Dexalite agar lebih terjangkau bagi sopir angkutan.

“Kalau bisa harga Dexalite diturunkan. Kalau di kisaran Rp15 ribu masih bisa, tapi kalau di atas Rp20 ribu itu sangat berat bagi kami,” tegasnya.

Menurutnya, tanpa adanya kebijakan yang meringankan, para sopir akan semakin kesulitan bertahan di tengah tingginya biaya operasional dan menurunnya jumlah penumpang.

Untuk diketahui bahwa di beberapa daerah di tanah Papua, misalnya di Provinsi Papua Pegunungan, sejumlah komoditas di Pasaran Wamena, Kabupaten Jayawijaya sudah mengalami kenaikan harga, misalnya beras premium 5 kilogram dari harga sebelumnya Rp130 ribu, naik menjadi Rp145 ribu hingga Rp150 ribu.

Beras Premium 10 kilogram dari harga sebelumnya Rp290 ribu, sudah naik menjadi Rp310 ribu.

Kenaikan harga ini terjadi akibat biaya timbangan pengiriman barang dari Bandara Sentani ke Bandara Wamena yang awalnya Rp12 ribu per kilogram, naik menjadi Rp13 ribu per kilogram.

Sebagian besar Kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan masih mengandalkan jalur udara sebagai akses distribusi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, tepung, BBM, telur. ternak, dan bahan bangunan melalui Jalur Bandara Wamena.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.