Blak-blakan Jusuf Kalla Sebut 'Jokowi Jadi Presiden Karena Saya', Sekjen Projo Malah Murka 
Rita Lismini April 20, 2026 02:42 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Baru-baru ini Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 blak-blakan menyebut bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden karena berkatnya. 

Sebelumnya Jusuf Kalla meminta Jokowi untuk segera menunjukkan ijazah aslinya agar masalah tidak berlarut-larut. 

Jusuf Kalla mengatakan bahwa ia hanya memberi saran, bukan untuk ikut menyerang Jokowi dalam kasus ijazah.

Hal itu dilakukan karena JK merasa sebagai senior Jokowi.

"Saya seniornya, siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta ? Saya yang bawa waktu jadi gubernur, saya yang bawa," katanya.

"Saya ke ibu Mega, ibu ini calon baik orang PDIP, ah jangan. Saya datang lagi, akhirnya beliau jadi gubernur," tambah JK.

Setelah terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi kemudian datang ke Jusuf Kalla mengucapkan terimakasih.

"Waktu dia menang jadi gubernur, datang ke saya ucapan terimakasih. apa kurangnya saya coba," katanya.

Jusuf Kalla pun mengatakan bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden RI berkat dirinya.

"Kasih tahu semua termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur mana bisa jadi presiden," kata Jusuf Kalla.

Sekjen Projo Murka 

Menanggapi soal ini Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, angkat bicara. 

Freddy menyampaikan bahwa pihaknya tetap menaruh hormat kepada Jusuf Kalla sebagai tokoh bangsa yang memiliki kontribusi penting dalam perjalanan demokrasi nasional.

Ia mengakui, peran JK dalam dinamika politik, termasuk pada Pilpres 2014, merupakan bagian dari sejarah politik Indonesia.

"Kami menghormati Bapak Jusuf Kalla sebagai tokoh bangsa yang memiliki kontribusi nyata dalam perjalanan demokrasi Indonesia, termasuk dalam Pilpres 2014," kata Freddy Alex Damanik, Senin (20/4/2026).

Namun di balik itu, Freddy menegaskan bahwa kemenangan Joko Widodo tidak bisa dilepaskan dari faktor yang jauh lebih luas, yakni kepercayaan rakyat Indonesia.

Baginya, mandat kepemimpinan lahir dari suara publik, bukan dari satu figur semata.

“Meski demikian, kami menegaskan bahwa kemenangan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia adalah hasil dari kehendak dan kepercayaan rakyat Indonesia," sambungnya.

Ia kemudian mengurai bahwa sistem demokrasi di Indonesia dibangun di atas kerja bersama berbagai elemen, bukan berdiri pada peran individu tertentu saja.

Dalam konteks ini, kemenangan politik merupakan hasil dari proses kolektif yang melibatkan banyak pihak.

Freddy juga menyoroti bahwa perjalanan Joko Widodo hingga mencapai kursi kepemimpinan nasional tidak terlepas dari rekam jejaknya yang kuat.

Latar belakang sebagai pemimpin daerah hingga kedekatannya dengan masyarakat menjadi faktor penting yang membangun kepercayaan publik.

"Keberhasilan Joko Widodo tidak dapat dilepaskan dari rekam jejak kepemimpinan beliau yang lahir dari bawah, kerja nyata, serta kedekatan dengan rakyat. Faktor inilah yang menjadi fondasi utama kepercayaan publik," jelas Freddy.

Lebih jauh, Freddy memaparkan sudut pandang Projo sebagai organisasi relawan yang sejak awal mengawal perjalanan politik Joko Widodo.

Menurutnya, kemenangan tersebut juga ditopang oleh kekuatan lain yang tak kalah penting.

Soliditas relawan, dukungan partai politik, terutama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, serta partisipasi aktif masyarakat luas menjadi pilar utama yang memperkuat kemenangan itu.

Di akhir pernyataannya, Freddy mengajak semua pihak untuk menjaga narasi kebangsaan tetap sehat.

Ia mengingatkan agar proses demokrasi tidak disederhanakan menjadi klaim personal, melainkan dipahami sebagai hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa.

"Kami mengajak semua pihak untuk menjaga narasi kebangsaan yang sehat, tidak menyederhanakan proses demokrasi menjadi klaim personal, serta tetap menjunjung tinggi semangat persatuan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Freddy menegaskan kembali prinsip bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.

"Demokrasi Indonesia adalah milik rakyat, dan setiap kemenangan dalam proses tersebut adalah kemenanganbersama, bukan milik individu," pungkas Freddy.

PDIP Buka Suara

Guntur menegaskan sebenarnya PDIP sudah enggan untuk membahas terkait sosok Jokowi setelah dipecat.

Jokowi dipecat sebagai kader PDIP pada 16 Desember 2024 lalu bersama dengan putra sulungnya sekaligus Wapres RI, Gibran Rakabuming Raka, serta menantunya yang juga sebagai Gubernur Sumatra Utara (Sumut), Bobby Nasution.

Namun, Guntur mengungkapkan pernyataan JK bisa diartikan bahwa yang bersangkutan memang terasa dikhianati oleh Jokowi.

Diketahui, JK merupakan wakil presiden yang mendampingi saat kepemimpinan Jokowi pada periode pertama dari 2014-2019.

"PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi."

"Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya," kata Guntur kepada Tribunnews.com, Minggu (19/4/2026).

Guntur lantas membeberkan nama-nama yang dianggap berjasa atas karier politik Jokowi selain JK seperti Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri; Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto; Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung; hingga mantan Ketua DPC PDIP Solo sekaligus eks Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo atau FX Rudy.

Dia menyatakan seluruh nama di atas begitu berjasa atas terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI.

Bahkan, Guntur menganggap bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dan mantan Menteri Perdagangan (Mendag), Tom Lembong turut berjasa kepada Jokowi.

Diketahui, Anies sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era kepemimpinan Jokowi periode pertama.

Bahkan, dirinya juga menjadi juru bicara tim pemenangan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 lalu.

Sementara, Tom Lembong juga menjabat menjadi Mendag di era Jokowi periode pertama.

"Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan (Jokowi dianggap berkhianat), juga pada Pak Anies Baswedan, dan Pak Tom Lembong, yang semuanya pernah membantu Jokowi," ujar Guntur.

Dia kembali menegaskan bahwa seluruh nama yang disebutnya tersebut telah berkontribusi besar dalam karier politik Jokowi.

Namun, Guntur menyatakan bahwa mereka semua berujung dikhianati Jokowi.

"Nama-nama yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan," katanya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.