Alasan BBM Naik, Menteri Bahlil Sentil Pengguna Pertamax Turbo: Orang Kaya
Tommy Kurniawan April 20, 2026 03:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan penjelasan terkait kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 18 April 2026.

Kebijakan tersebut menjadi sorotan publik karena berdampak langsung pada pengeluaran masyarakat, khususnya pengguna kendaraan pribadi di segmen menengah ke atas.

Bahlil menegaskan bahwa dalam tata kelola energi nasional, pemerintah memiliki batasan kewenangan, di mana intervensi harga hanya berlaku untuk BBM bersubsidi.

Harga Ikuti Mekanisme Pasar

Untuk BBM nonsubsidi, penentuan harga mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022 yang mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.

“Untuk BBM industri sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022, itu mengikuti harga pasar,” ujar Bahlil, dikutip dari Kompas TV, Minggu (19/4/2026).

Penyesuaian harga ini dilakukan secara berkala oleh badan usaha seperti Pertamina guna menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga global.

Baca juga: Selat Hormuz Mencekam, AS Dikabarkan Serang dan Sita Kapal Berbendera Iran

Dikonsumsi Kalangan Mampu

Bahlil menjelaskan, jenis BBM yang mengalami kenaikan seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex memang ditujukan untuk segmen masyarakat mampu.

“Pertamax Turbo itu untuk orang mampu, RON 98. Kemudian Solar CN 51 juga untuk kalangan mampu,” katanya.

Pemerintah, lanjut Bahlil, berupaya memastikan subsidi energi tetap tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan.

Rusia Minati Investasi Kilang

Di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi, pemerintah juga memperkuat strategi ketahanan energi nasional. Bahlil mengungkapkan bahwa Rusia berminat menanamkan investasi untuk pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan di Indonesia.

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor BBM yang masih tinggi.

Saat ini, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

“Total konsumsi kita hampir 39–40 juta kiloliter, sementara produksi dalam negeri sebelum RDMP Balikpapan sekitar 14,3 juta kiloliter,” ungkap Bahlil.

Rencana investasi ini merupakan tindak lanjut komunikasi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pemerintah saat ini masih mematangkan skema kerja sama, baik melalui jalur antar pemerintah (G2G) maupun bisnis (B2B).

Strategi Tekan Impor Energi

Selain membuka peluang investasi, pemerintah juga mempercepat proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan serta menyiapkan implementasi program biodiesel B50 mulai Juli 2026.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi dampak fluktuasi harga global terhadap harga BBM di dalam negeri.

Update Harga BBM

Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga dirasakan di berbagai daerah, termasuk Sumatera Utara. Per 19 April 2026, berikut daftar harga BBM:

Pertalite (Subsidi): Rp10.000 per liter

Biosolar (Subsidi): Rp6.800 per liter

Pertamax (RON 92): Rp12.600 per liter

Pertamax Turbo: Rp19.850 per liter

Dexlite: Rp24.150 per liter

Pertamina Dex: Rp24.450 per liter
 
Kenaikan harga ini menjadi konsekuensi dari mekanisme pasar global, di tengah upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara subsidi energi dan ketahanan pasokan nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.