Dian Sastro, Rupanya Sempat Ditolak Jadi Pemeran Utama Film Kartini
Moh. Habib Asyhad April 20, 2026 03:34 PM

Sebagai pengagum Kartini, Dian Sastro sangat antusias saat menjalani syuting film tentang pejuang emansipasi wanita itu. Rupanya dia sempat ditolak jadi pemeran utama oleh Hanung Bramantyo.

Artikel ini pertama tayang di Tabloid NOVA edisi April 2017

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Syuting dari subuh hingga larut malam, dijalani Dian Sastro untuk film Kartini (2017). Dia bahkan tak punya waktu untuk bersantai barang sejenak. Bahkan dia harus “absen” jadi ibu sebulan penuh.

Bukan tanpa alasan Dian melakukan totalitas untuk film Kartini garapan Hanung Bramantyo. Pasalnya, selain memang passion-nya di dunia seni peran, Dian juga telah lama mengidam-idamkan bermain dalam film biopic pahlawan perempuan Indonesia itu.

Dian pun rela menjalani proses produksi yang cukup berat. Setiap hari dia mulai syuting saat Subuh dan baru selesai saat tengah malam. Otomatis untuk syuting yang dilakukan di dua kota, Jakarta dan Yogyakarta, Dian dituntut untuk konsentrasi penuh, termasuk harus ‘meninggalkan’ sejenak tugasnya sebagai seorang istri dan ibu.

“Anak-anak dan suami tahu kalau bundanya lagi shooting. Jadi dalam beberapa bulan, keabsenanku di keluarga ditoleransi-lah. Tetapi alhamdulillah dengan semua dukungan doa dan moril yang mereka berikan, aku jadi berbesar hati menjalankan tugas ini. Lancar pula,” kisah Dian bahagia.

Dianggap Terlalu Tua

Tak hanya saat menjalani proses syuting yang berat, untuk mendapatkan peran Kartini pun, Dian harus berjuang meyakinkan Hanung Bramantyo, sang sutradara. Pasalnya, Hanung tidak memasukkan nama Dian dalam daftar calon pemeran pahlawan emansipasi perempuan itu. Hanung merasa Dian terlalu tua untuk memerankan Kartini di film ini yang menceritakan episode perjuangannya di usia 16-23 tahun.

“Waktu itu aku tahu Mas Hanung lagi mau bikin film Kartini. Tapi saat itu Mas Hanung justru menawariku main film yang lain. Pikirku, boleh juga, nih, gue meeting sama dia,” cerita Dian yang kemudian membujuk Hanung agar memperbolehkannya ikut casting untuk peran Kar­tini. “Mbok, ya, aku di-casting, Mas,” ujar Dian dalam logat Jawa kental mengulang kata ’rayuannya’ pada Hanung sambil tertawa.

Dengan terus-terang, Hanung menolak karena Dian dianggapnya terlalu tua untuk memerankan seorang Kartini yang berusia 16-23 tahun. “Waktu itu aku memang sudah 33 tahun,” lanjut Dian.

Tetapi tawaran Hanung berperan sebagai Ngasirah, ibunda Kartini, diterimanya. Untunglah karena tak lama kemudian, Hanung dan produser Kartini, Robert Ronny malah meminta Dian untuk menjajal peran utama di film yang rilis 19 April 2017 itu.

Singkat kata, Dian mendapat peran yang diidamkannya. “Bersyukur banget rasanya. Karena aku sudah mau berkontribusi jadi apa pun di film ini. Aku juga fans beratnya Ibu Kartini,” ujar Dian yang mempertajam wawasannya seputar lika-liku kehidupan Kartini semasa hidupnya lewat catatan dan buku-buku tentang Kartini.

Selama syuting, Dian berusaha menjembatani perbedaan antara dirinya dan Kartini. Akhirnya, ia justru menemukan satu kesamaan yang juga dialami dirinya di masa kini, yakni sama-sama tidak kesampaian menempuh pendidikan di luar negeri.

“Jadi saat saya membayangkan dia ngilu enggak bisa sekolah, langsung nyampur emosi Kartini sama emosi Dian,” ceritanya.

Urat Cenat-Cenut

Kartini semasa muda digambarkan sebagai sosok yang cerdas, ambisius, dan juga fasih berbahasa Belanda. Karena itu Dian beserta pemeran lainnya seperti Acha Septriasa dan Ayushita harus mengikuti kelas Bahasa Belanda. Diakui Dian, ia sempat kesulitan mendalami bahasa Belanda. Apalagi harus dibarengi dengan akting.

“Dan saat kita akting ngomong bahasa Belanda itu kan kita juga harus tahu artinya. Jadi pas menyampaikannya di depan kamera, aku harus benar-benar hafal bunyinya, cara ngomongnya, dan apa artinya,” kenang Dian yang juga belajar berjalan dan duduk menggunakan kain kebaya.

“Beberapa bulan sebelum syuting, aku menggunakan kain kebaya ke mana-mana dalam beraktivitas apa pun sehingga jadi terbiasa jalan dengan kain. Selain itu aku juga belajar ndodok apa segala macam,” ujar Dian tersenyum.

Pengalaman paling berharga yang dialami Dian adalah pandangannya mengenai kedudukan perempuan di masa lampau. “Perempuan dipaksa untuk memenuhi kodratnya, menikah dengan pria yang bukan pilihannya. Juga perempuan tidak diperkenankan untuk menyampaikan ekspresi dan aspirasinya secara terbuka dan terang-terangan.”

Padahal, lanjut Dian, bajunya saja sudah sangat membatasi gerak dan mengurangi kebebasan sebagai manusia. “Belum lagi cara jalan, cara menatap, berinteraksi, dan berbicara. Perempuan selalu menunduk dan tidak boleh menatap langsung. Sama suami saja paling tinggi menatap dagu. Bagaimana seorang manusia bisa ekspresif kalau melihat matanya saja tidak bisa?” sesal perempuan yang kini berambut bob itu.

Sebagai aktor, membatasi ekspresi tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih lagi Dian hidup di masa modern yang terbiasa menyampaikan pendapat secara ekspresif. “Yang sulit adalah ketika semua emosi sudah dibangun, tapi pas di depan kamera harus ditahan lagi karena memang adatnya tidak boleh ekspresif.”

Karena itu, menurut Dian, perempuan Jawa saat itu, senang sedih mukanya sama. “Karena harus menahan-nahan itu, ya, uratnya saya aja, nih, yang cenat-cenut. Nahan soalnya, ha ha ha. Enggak tahu kelihatan enggak, ya, di film?”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.