Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi
TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Kenaikan harga BBM non-subsidi dari PT Pertamina (Persero) sejak 18 April 2026 mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat, terutama pada penggunaan Dexlite.
Kenaikan harga tersebut dilakukan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak dunia yang dipicu krisis energi global.
Penyesuaian ini mencakup sejumlah jenis BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Berdasarkan pengumuman resmi Pertamina, harga Pertamax Turbo meningkat dari Rp13.350 per liter menjadi Rp19.850 per liter.
Sementara itu, Pertamina Dex naik dari Rp14.500 menjadi Rp24.450 per liter, dan Dexlite dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter.
Kondisi Penjualan di SPBU Simpang Nangka
Pantauan di SPBU 24.39.114 Simpang Nangka, Kabupaten Rejang Lebong, pada Senin (20/4/2026) siang, menunjukkan aktivitas pengisian BBM masih berlangsung seperti hari biasa namun sedikit lebih sepi.
Selain itu, terdapat perubahan pada jumlah konsumsi atau pembeli, khususnya untuk BBM jenis Dexlite.
Pengawas SPBU 24.39.114 Simpang Nangka, Imas Dwi Putri, menyampaikan bahwa terjadi penurunan signifikan dalam pembelian Dexlite sejak kenaikan harga diberlakukan.
“Kalau kondisi secara umum masih standar seperti hari biasa. Tapi memang ada pengurangan untuk yang belu Dexlite,”ungkap Imas saat dikonfirmasi wartawan TribunBengkulu.com.
Ia menjelaskan, sebelumnya stok Dexlite sebanyak 8 ton biasanya habis dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, dengan adanya kenaikan harga saat ini, diperkirakan waktu penjualannya hingga habis akan menjadi lebih lama.
“Apalagi dengan kenaikan harga ini, kemungkinan bisa lebih lama lagi baru habis,”jelasnya.
Di SPBU tersebut, jenis BBM yang tersedia antara lain Pertamax, Pertalite, dan Dexlite. Sementara Pertamax Turbo belum tersedia.
Menurut Imas, konsumen Dexlite sebenarnya cukup banyak, namun jumlahnya masih di bawah pengguna Pertamax dan Pertalite. Setelah kenaikan harga, sejumlah konsumen hanya menanyakan harga tanpa melakukan pembelian.
“Beberapa konsumen hanya tanya harga. Setelah tahu harganya naik, mereka tidak jadi beli,” katanya.
Ia menambahkan, sebelumnya penjualan Dexlite bisa mencapai ratusan liter per hari. Namun dalam beberapa hari terakhir, penjualan turun drastis menjadi sekitar belasan liter per hari.
"Sekarang paling ya belasan liter, jauh menurun,"ungkapnya.
Konsumen Mulai Kurangi Penggunaan
Salah satu konsumen, Ade, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM jenis Dexlite. Ia menyebutkan bahwa dengan uang Rp100 ribu, jumlah BBM yang diperoleh saat ini jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya.
“Biasanya Rp100 ribu dapat lumayan banyak. Sekarang hanya sekitar 4 liter,” ujar Ade.
Ia juga mengaku akan mengurangi penggunaan kendaraan jika harga tetap tinggi. Bahkan, ia mempertimbangkan untuk menjual mobil berbahan bakar solar dan beralih ke kendaraan berbahan bakar bensin.
“Kalau masih tinggi seperti ini, mungkin saya kurangi pemakaian, atau bisa juga jual mobil dan ganti ke bensin,” katanya.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini diperkirakan akan terus mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, khususnya pengguna kendaraan diesel di wilayah Rejang Lebong.