Renungan Harian Kristen 21 April 2026 - Dipotong untuk Berubah Lebat
Bacaan ayat: Yohanes 15:2 (TB) Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia menjadi seperti Allah, dapat tahu tentang hal yang baik dan jahat.
Manusia dapat menciptakan standar baik atau jahat didasarkan pengalaman hidup yang terkait erat dengan kepentingan dan keuntungan.
Dari sinilah dasar nilai-nilai kemanusiaan dibangun. Jika sebuah nilai diterima sebagai hal baik maka akan diwariskan sebagai kebaikan dan dijadikan standar moral.
Sementara ketika sesuatu dinilai sebagai kejahatan maka akan dibuat aturan yang melarang tindakan tersebut. Terciptalah hukum yang diberlakukan.
Dilegalkan sebagai aturan yang berlaku bagi kehidupan. Sayangnya, nilai-nilai tersebut dihasilkan oleh manusia yang telah berdosa.
Akibatnya standar yang dibuat selalu rentan untuk berdosa. Itu sebabnya sering terjadi amandemen atau revisi jika sebuah nilai tidak lagi sesuai dengan konteks kehidupan yang terus berubah.
Pada sisi yang berbeda, Allah tidak pernah berubah. Kebenaran mutlak ada pada-Nya. Saat disandingkan dengan penilaian manusia, beberapa nilai tidak selaras; bahkan bisa bertentangan dengan kebenaran Allah.
Pada situasi ini akan muncul ketegangan: mana yang harus diikuti? Kebenaran manusia ataukah kebenaran Allah?
Para petani Buah Anggur tahu persis bahwa demi menghasilkan buah terbaik, ranting Pohon Anggur harus dipotong.
Daunnya perlu dipangkas habis demi merangsang produksi buah terbaik. Inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan kehidupan orang percaya dalam menjalani kehidupan.
Diperlukan paham yang benar, bahwa seumpama pohon Anggur, orang percaya adalah ranting dan Yesus adalah pohon pokoknya. Bapa adalah pengusahanya. Demi berbuah maka ranting harus dipotong.
Demi menghasilkan buah kehidupan yang baik maka perlu diselaraskan dengan keinginan Sang Pengusaha. Ada banyak hal yang menurut kita baik, ternyata tidak menurut Allah. Itu harus dipotong.
Bukankah ini selaras dengan pernyataan Yesus bahwa para murid-Nya harus menyangkal diri dan memikul salib. Dalam hal ini, kebenaran yang benar-benar adalah kebenaran ialah kebenaran Allah semata.
Allah adalah kebenaran mutlak yang harus diposisikan sebagai standar dasar semua kebenaran yang ditemukan ada pada manusia.
Kebenaran yang hendak dibangun dalam kehidupan di bumi ialah kebenaran Allah; bukan kebenaran manusia yang telah disimpangkan oleh dosa.
Sebagai orang percaya kita perlu paham bahwa tolok ukur kebenaran yang kita pakai ialah kebenaran Allah.
Itu sebabnya segala hal yang kita yakini benar, perlu terus diuji: apakah kebenaran tersebut sesuai dengan Kebenaran Allah. Jika tidak lolos uji maka akan dipotong di buang untuk dibakar. Untuk itu diperlukan kerendahan hati dalam menemukan kebenaran Allah.
Awali segala hal dengan hati yang murni; tanpa harus dicemari oleh kepentingan dan keuntungan.
Kepentingan dan keuntungan hanyalah pemicu untuk menemukan kebenaran yang sejati dari Allah. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang