Grid.ID - Iqbaal Ramadhan mengungkapkan perasaannya saat film terbarunya yang berjudul Monster Pabrik Rambut melangsungkan penayangan world premiere di ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026. Momen tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi dirinya dan tim.
Ia mengaku bahwa perasaan yang muncul saat itu begitu campur aduk. Bahkan, ia menyebut pengalaman tersebut terasa sangat luar biasa.
"Itu sebuah pengalaman yang gila sih, mungkin nggak tahu ya harusnya perasaan ini universal sih," ujarnya saat berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Senin (20/4/2026).
"Tapi buat kita yang ke sana kemarin dan membawa film kita ini, film dari Indonesia akhirnya bisa world premiere ya bahkan waktu itu World premiere di Berlinale di salah satu teater yang paling besar, sekitar 2.000 orang," lanjutnya.
Suasana saat itu pun dipenuhi rasa tegang dan harap. Iqbaal mengaku sempat merasa gugup memikirkan bagaimana respon penonton internasional.
"Jadi ketika kita diberikan privilege dan kesempatan yang begitu besar, awalnya deg-degan banget kayak 'ah ini gimana ya respons orang-orang' gitu," katanya.
Namun, rasa gugup itu perlahan berubah saat mereka mulai menyaksikan film bersama penonton. Ia merasakan langsung bagaimana respons yang diberikan oleh audiens dari berbagai negara.
"And then akhirnya kita datang, kita duduk, kita nonton, melihat dan merasakan langsung respon-respon dari teman-teman yang bukan orang Indonesia di sana. Melihat dan mendengar langsung tanggapan-tanggapan mereka, itu gila banget sih," ungkapnya.
Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan dalam film ternyata bisa diterima secara luas. Hal ini menjadi bukti bahwa isu yang diangkat bersifat universal.
"Karena ternyata apa yang kita pengen sampaikan gitu melalui film ini, tentang lembur, culture overworking yang mungkin di Indonesia itu sudah sangat-sangat lumrah lah ya, cuma maksudnya mungkin teman-teman pun bisa merasakan hal yang sama gitu," tuturnya.
"Hal-hal itu yang kita pengen sampaikan lewat bentuk kami-kami ini yang bekerja di pabrik rambut ya. Dan itu ketika ditampilkan ternyata kedekatan itu tuh nggak hanya terjadi di Indonesia gitu loh," sambungnya.
Respons dari penonton asing pun menjadi salah satu hal yang paling mengejutkan baginya. Ia tidak menyangka bahwa mereka bisa merasakan hal yang sama.
"Para bule-bule ini tuh melihat itu juga mereka bisa merasakan hal yang sama. Dan kebetulan aja kita menggambarkannya dalam bentuk pabrik," ucapnya.
Antusiasme penonton juga terlihat dari banyaknya yang membeli tiket untuk menonton film tersebut. Pria berusia 26 tahun ini merasa sangat senang dengan sambutan yang diberikan.
"Dan seneng banget waktu itu dapet respon dari teman-teman di sana yang beli tiket untuk bisa nonton dan melihat bagaimana film ini bisa mengkritisi kultur-kultur bekerja tersebut, " jelasnya.
Selain mengangkat kritik sosial, film ini juga menghadirkan elemen hiburan yang unik. Kehadiran sosok monster menjadi daya tarik tersendiri.
"Tapi memunculkan sosok monster ini yang kami rasa waktu itu saat menampilkannya di Berlinale, ini tuh memang menjadi sebuah tayangan atau hiburan yang fresh banget," katanya.
"Karena bentuknya sebuah bentuk yang rasanya sudah lama sekali tidak dilihat terutama mungkin di Indonesia gitu," pungkasnya.