- China mengecam penyitaan kapal kargo Iran yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS).
China juga memperingatkan AS dan sekutunya di Pasifik untuk tidak macam-macam sehingga bisa membuka konflik baru.
Hal ini ditegaskan oleh Juru Bicara Kemlu China, Guo Jiakun dalam konferensi pers Senin (20/4/2026).
China menyatakan keprihatinan atas pencegatan kapal kontainer Touska di Teluk Oman.
Pasukan AS telah menargetkan kapal dagang Iran yang melakukan perjalanan dari Tiongkok ke Teluk Iran.
Ia juga mendesak semua pihak untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata, secara bertanggungjawab.
"Situasi di Selat Hormuz sensitif dan rumit," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dilansir Reuters.
Guo menegaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam eskalasi harus menciptakan kondisi yang untuk mengamankan selat Hormuz.
Terpisah, kecaman keras China juga disampaikan terhadap AS atas latihan militer gabungan AS.
Guo Juakun menegaskan, latihan militer gabungan AS, Filipina, dan Jepang tak boleh memprovokasi negara di kawasan, terutama China.
Ia menekankan kerja sama militer antar negara tidak boleh merusak rasa saling pengertian dan kepercayaan di antara negara sekitar.
"Yang paling dibutuhkan kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenangan, dan yang paling tidak dibutuhkan adalah masuknya kekuatan eksternal untuk menciptakan perpecahan dan konfrontasi," kata Guo, seperti dikutip Reuters.
Guo menegaskan bahwa semua tindakan di luar keamanan yang ada, akan menjadi boomerang bagi mereka sendiri.
"Kami ingin mengingatkan negara-negara terkait bahwa mengikat diri secara membabi buta atas nama keamanan sama dengan bermain api, yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri," lanjutnya, saat merespons pertanyaan tentang latihan militer tersebut.
Seperti diketahui, AS dan Filipina menggelar latihan militer gabungan besar-besaran di Pasifik mulai 20 April hingga 8 Mei mendatang.
Latihan ini digelar di dekat Laut China Selatan dan Taiwan, yang notabene titik panas sengketa oleh China.
Jepang ikut dalam latihan ini dengan mengirim sekitar 1.400 personel, beberapa kapal perang dan pesawat, serta sistem rudal anti-kapal Tipe 88.