Penumpang BRT Terlantar Imbas Penutupan Gombel Lama Semarang
khoirul muzaki April 20, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Siang itu, Senin (20/4/2026), di tepi Jalan Gombel Baru, seorang pria lanjut usia berdiri menanti bus yang tak kunjung berhenti. 

Di tengah arus kendaraan yang kini dialihkan akibat penutupan Jalan Gombel Lama, Yen (60), warga Bukit Sari, hanya bisa memandangi satu per satu bus Trans Semarang yang melintas tanpa mengangkutnya.

Hari pertama penutupan Jalan Gombel Lama memang membawa perubahan besar. 

Sejak pukul 09.00 WIB, akses turunan Gombel resmi ditutup total untuk perbaikan, ditandai dengan pemasangan water barrier di sejumlah titik.

Seluruh arus kendaraan dialihkan ke Jalan Gombel Baru yang kini diberlakukan dua arah.

Namun, perubahan itu tak hanya berdampak pada lalu lintas, tapi juga pada pengguna transportasi umum.

Yen, yang sehari-hari mengandalkan BRT Trans Semarang untuk menuju pusat kota, kini harus beradaptasi dengan situasi baru. Biasanya, dia menunggu bus di shelter yang berada di titik sebelum turunan Gombel Lama. 

Kini, halte itu tak lagi bisa digunakan.

“Biasanya menunggu bus di shelter itu,” ujar Yen sambil menunjuk ke arah bekas halte di Gombel Lama.

Akibat penutupan jalan, Yen terpaksa menunggu di pinggir Jalan Gombel Baru, titik di mana seluruh kendaraan kini dialihkan. Tanpa shelter, dia berdiri di tepi jalan, mencoba menghentikan bus yang lewat.

Dari pantauan, dua bus menolak berhenti dan tangan kondektur di dalam bus melambaikan tangan tanda penolakan.

“Ini bus-bus kalau dicegat tidak mau berhenti.

Sudah 20 menit ia menunggu,” kata dia.

Beberapa bus Trans Semarang melintas, bahkan dalam kondisi tidak penuh. 

Namun, tak satu pun berhenti. 

Menurutnya, sopir enggan menaikkan penumpang di luar halte resmi.

“Padahal busnya kosong. Tapi kalau tidak di shelter, ya tidak mau berhenti,” katanya.

Kondisi itu membuat Yen kesulitan. 

Untuk berjalan ke shelter terdekat pun dinilai sulit. 

Dia menyebut jarak ke arah shelter Ngesrep maupun Jatingaleh terlalu jauh untuk ditempuh.

“Kalau jalan ke shelter sekitar Ngesrep terlalu jauh, ke Jatingaleh juga terlalu jauh,” tambahnya.

Dia berharap ada solusi cepat dari pemerintah, setidaknya dengan menyediakan halte sementara di Jalan Gombel Baru.

“Harus ada shelter di sini. 

Kalau Gombel Lama ditutup, ya haltenya dipindah,” tegasnya.

Di tengah kondisi itu, Yen akhirnya bisa melanjutkan perjalanan setelah sebuah bus feeder Trans Semarang bersedia berhenti dan mengangkutnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyebut rekayasa lalu lintas ini diperkirakan berlangsung hingga tujuh bulan, seiring proyek perbaikan Jalan Gombel Lama sepanjang 1,27 kilometer. 

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menjelaskan bahwa Jalan Gombel Baru kini menjadi jalur utama dua arah dengan prioritas kendaraan yang melaju ke tanjakan.

Sejumlah skema pengalihan arus juga telah diterapkan, termasuk mengarahkan kendaraan berat melalui Tol Srondol–Jatingaleh dan menyediakan jalur alternatif bagi pengendara roda dua maupun mobil pribadi.

Sehari sebelumnya, saat tahap persiapan, kepadatan sudah terlihat mengular dari Flyover Jatingaleh menuju tanjakan Gombel. 

Kepadatan juga terjadi di Flyover Jatingaleh pada Senin siang hingga sore. (rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.