Selat Hormuz, Kenaikan BBM, dan Dampak bagi Jambi menurut Analisis Dosen Unja
Mareza Sutan AJ April 20, 2026 09:49 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Akademisi Universitas Jambi, Dr Candra Mustika menilai, kenaikan harga BBM tidak terlepas dari gejolak kenaikan harga minyak dunia saat ini disebabkan oleh konflik geopolitik yang terjadi di wilayah timur tengah.

Perang antara Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika serikat, menciptakan terjadinya berbagai kehancuran di wilayah ladang minyak, termasuk menyasar ke negara-negara timur tengah yang merupakan produsen minyak dunia.

Situasi ini menciptakan "badai sempurna" di pasar energi global karena beberapa alasan krusial.

Dia mengatakan, penyebab yang paling fatal ialah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang kembali diperketat per 20 April 2026.

“Faktanya, sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini,” katanya, Senin (20/4/2026).

Ekonom FEB Unja itu menuturkan, ketika jalur itu terganggu atau ditutup, jutaan barel minyak tertahan. Sehingga, memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global secara instan.

Berdasarkan laporan terbaru yang didapatkannya, terjadi gangguan produksi minyak di Timur Tengah. 

Hal itu mencapai puncaknya pada April 2026, dengan penurunan hingga 9,1 juta barel per hari. 

Menurut Sekretaris ISEI Provinsi Jambi itu, dunia sedang berebut mencari pengganti minyak dari kawasan Teluk, yang mendorong harga Brent sempat menyentuh angka di atas USD 100 per barel.

“Bahkan sempat mencapai titik tertinggi di USD 130-150 dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.

Sehingga, membuat premi risiko atau biaya tambahan karenarisiko keamanan melonjak.

“Investor cenderung melakukan aksibeli (spekulasi) karena takut harga akan jauh lebih mahal di masa depan, yang justru mempercepat kenaikan harga saat ini,” ucapnya.

Dia menjelaskan, Indonesia adalah pengimpor minyak (net importer), kenaikan harga minyak mentah dunia, seperti jenis Brent atau WTI otomatis menaikkan biaya pengadaan BBM bagi Pertamina. 

“Itulah sebabnya harga BBM non-subsidi seperti Dexlite dan Pertamax Turbo mengalami kenaikan drastis hingga lebih dari Rp6.000—Rp9.000 per liter pada penyesuaian terbaru,” jelasnya.

Dalam APBN 2026, pemerintah mematok harga BBM 70 USD per barel, sementara harga minyak dunia sempat menembus angka 110 USD per barel. Namun, hingga Senin, 20 April 2026, harga minyak dunia pada harga 95 USD Per barel. 

“Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan pemerintah membayar kompensasi lebih besar terhadap BBM subsidi Petalite dan Bio solar dan ini menambah defisit APBN,” ucapnya.

Meskipun BBM non-subsidi menyasar segmen menengah keatas dan industri, dampaknya tetap merembes ke masyarakat, termasuk di Jambi. 

Dampak Kenaikan BBM

Berikut adalah poin-poin analisis dampak menurut Dr Candra Mustika:

1. Dampak Jangka Pendek (Immediate Impact)

• Lonjakan Biaya Logistik dan Transportasi: Menurut Candra, Kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex berdampak langsung pada sektor transportasi logistik (truk dan kapal kargo kecil). 

Hal itu memicu kenaikan harga barang pokok di pasar karena biaya angkut dari produsen ke konsumen meningkat.

• Inflasi Sektor Pangan: Karena biaya distribusi naik, harga komoditas seperti beras, cabai, dan daging, biasanya akan ikut terkerek dalam hitungan hari. Ini yang disebut sebagai second-round effect dari kenaikan BBM.

• Penurunan Daya Beli Kelas Menengah: Pengguna Pertamax Series adalah kelompok masyarakat menengah yang merupakan motor konsumsi domestik.

Dengan pengeluaran BBM yang membengkak, mereka cenderung mengurangi belanja di sektor lain, seperti ritel, hobi, atau hiburan.

• Migrasi ke BBM Bersubsidi (Pertalite): Akan terjadi antrean panjang di jalur Pertalite.

Konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax kemungkinan besarakan ‘urun kelas’ demi menghemat biaya. Hal itu berisiko membuat kuota subsidi pemerintah jebol lebih cepat.

2. Dampak Jangka Panjang (Structural Impact)

• Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi (PDB): Candra menyebut, jika inflasi tetap tinggi dalam waktu lama, konsumsi rumah tanggaakan melambat. 

Mengingat, konsumsi rumah tanggamenyumbang lebih dari 50 persen PDB Indonesia, pertumbuhan ekonomi nasional berisiko terkoreksi.

• Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN): Meski yang naik adalah BBM non-subsidi, kenaikan harga minyak dunia memaksa pemerintah membayar kompensasi lebih besar untuk menjaga harga Pertalite dan Solar subsidi agar tetap murah. 

Jika hargaminyak dunia tetap di atas USD 100 per barel, bebanAPBN akan sangat berat.

• Akselerasi Transisi ke Kendaraan Listrik (EV): Sisi positifnya, harga BBM yang sangat mahal akan menjadi insentif alami bagi masyarakat dan perusahaan logistikuntuk beralih ke kendaraan listrik atau energi terbarukanyang lebih stabil secara biaya.

• Perubahan Struktur Biaya Industri: Manufaktur yang mengandalkan mesin diesel harus melakukan efisiensi ketat.

Jika tidak mampu bersaing, harga produk ekspor Indonesia bisa kalah saing di pasar global karena biaya produksi yang lebih mahal dibanding negara yang tidakterlalu terdampak krisis energi.

Dampak ekonomi jangka pendek dan jangka Panjang ini bisa saja terkoreksi, jika konflik geopolitik di timur tengah tersebut mereda dan harga minyak dunia kembali turun, serta pemerintah melakukan berbagai kebijakan ekonomi yang tepat dalam mengantisipasi hal tersebut.

(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)

 

Baca juga: Bahlil Sentil Orang Kaya Pakai BBM Subsidi Usai Kenaikan Harga Pertamax Turbo: Gak Malu?

Baca juga: BBM Nonsubsidi Naik, Pengamat Sebut Disparitas Harga Terlalu Jauh

Baca juga: Daftar 5 Fasilitas Baru di RSUD Kolonel Abundjani Bangko Merangin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.