Sebuah keluarga di Liaoyang, China, menguburkan mobil mewah Mercedes-Benz S450L senilai Rp 2,7 miliar bersama jenazah pria lansia berusia 70 tahun.
SERAMBINEWS.COM, BEIJING - Sebuah prosesi pemakaman di Kota Liaoyang, Provinsi Liaoning, Cina, memicu perdebatan luas.
Sebab, proses pemakaman itu tergolong sangat unik dan agak sedikit nyeleneh.
Pasalnya, sebuah keluarga menguburkan mobil mewah Mercedes-Benz S450L bersama jenazah pria lanjut usia (lansia) berusia 70 tahun.
Mobil senilai Rp 2,7 miliar itu, dilengkapi pelat nomor “8888” yang diyakini membawa keberuntungan.
Keputusan keluarga untuk menguburkan kendaraan asli, bukan replika kertas sebagaimana tradisi umum, dianggap sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi mendiang yang dikenal sebagai kolektor mobil.
Video prosesi pemakaman yang memperlihatkan mobil diturunkan ke liang kubur dengan ekskavator dan ditutup kain merah segera viral di media sosial, dan ditonton lebih dari 30 juta kali.
Baca juga: Duka dan Amarah di Pemakaman Komandan AL IRGC, Warga Iran Bersumpah Melawan AS Sampai Akhir
Puluhan warga desa ikut membantu, bahkan menerima amplop merah berisi uang sebagai tanda terima kasih dari keluarga.
Namun, tindakan ini menuai kritik keras.
Banyak warganet menilai penguburan mobil sebagai pamer kekayaan dan bentuk takhayul feodal yang tidak sesuai dengan aturan modern.
Pemerintah setempat melalui kantor urusan sipil langsung turun tangan.
Pemerintah menegur keluarga bermarga Jin karena dianggap melanggar aturan penggunaan lahan dan berpotensi mencemari lingkungan.
Mereka diwajibkan meminta maaf secara terbuka serta menanggung biaya penggalian kembali dan pemulihan lokasi.
Seorang pengacara di Beijing menegaskan, bahwa penguburan kendaraan tanpa prosedur resmi dapat berujung sanksi administratif.
Bahkan penahanan jika ditemukan pelanggaran lain.
Baca juga: Tren Unik Anak Muda Cina Atasi Patah Hati, Bayar Orang Asing untuk Dimarahi
Tradisi pemakaman di Cina biasanya menggunakan replika kertas berbentuk mobil, rumah, atau benda lain yang dibakar sebagai simbol agar mendiang memperoleh kenyamanan di alam baka.
Penggunaan mobil asli dianggap berlebihan dan menimbulkan risiko polusi tanah serta air. Kritik publik juga menyoroti bahwa kasih sayang seharusnya ditunjukkan saat seseorang masih hidup, bukan melalui simbol kemewahan setelah meninggal.
Kasus ini menjadi sorotan nasional, memperlihatkan benturan antara tradisi lama, ekspresi duka keluarga, dan regulasi modern.
Di satu sisi, keluarga beralasan tindakan itu sebagai bentuk bakti dan penghormatan.
Di sisi lain, publik menilai hal tersebut merusak lingkungan dan mencederai rasa keadilan sosial.
Pemerintah menegaskan bahwa praktik serupa tidak boleh terulang, mengingat dampaknya yang luas terhadap masyarakat dan lingkungan.
Baca juga: Kisah Pembelotan Tentara di Sungai Talas, Kekalahan Militer Cina hingga Lahirnya Teknologi Kertas
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi bisa berubah menjadi kontroversi ketika bertemu dengan simbol kemewahan.
Lebih dari sekadar ritual, peristiwa ini membuka diskusi tentang batas antara penghormatan, takhayul, dan tanggung jawab sosial di era modern.(*)