Tekan Biaya Pembenihan, Petani Bawang Merah Gunakan Metode Pertanian Bawang Melalui TSS
Mega Nugraha April 20, 2026 10:32 PM

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG- Inovasi pertanian dengan metode true shallot seed (TSS) untuk budidaya bawang merah dari biji sedang digalakan East West Seed Indonesia. 

Metode pertanian TSS atau biji botani bawang merah ini dapat menjadi terobosan teknologi perbenihan untuk mengatasi masalah keterbatasan benih. Beberapa kelebihan TSS dibanding benih berupa umbi adalah daya simpan relatif lebih lama dan tanpa masa dormansi, sehingga benih dapat tersedia sepanjang tahun, lebih hemat biaya produksi karena dapat mengurangi biaya kebutuhan benih.

Managing Director perusahaan benih unggul sayuran PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Glenn Pardede, menjelaskan, tantangan pertanian ke depan tidak bisa dihadapi dengan cara lama. Perlu inovasi untuk meningkatkan produktifitas pertanian.

“Inovasi adalah hal yang sangat penting bagi petani. Tanpa inovasi, produktivitas akan stagnan, sementara tantangan terus meningkat. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak langsung bagi petani,” ujar Glenn.

Sebagai perusahaan benih sayuran unggul yang telah berdiri lebih dari 35 tahun di Indonesia, Ewindo terus mendorong pengembangan teknologi pertanian, termasuk melalui TSS. 

Baca juga: Harga Cabai Rawit Merah di Bandung Tembus Rp100 Ribu/Kg, Bawang Merah Bertahan Tinggi

"Kehadiran benih unggul seperti MERDEKA F1 bukan hanya soal meningkatkan hasil, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha tani. Kami ingin petani tidak hanya panen lebih banyak, tetapi juga lebih efisien dan berdaya saing. TSS adalah salah satu inovasi yang kami dorong untuk mencapai tujuan tersebut,” katanya.

Salah satu sukses metode TSS dialami oleh Tono, petani asal Cimaung Kabupaten Bandung. Semula berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Toni beralih jadi petani bawang sukses dengan metode TSS.

Di tengah fluktuasi harga dan tantangan produksi bawang merah konvensional, Tono meninggalkan metode menanam dari umbi yang selama ini umum digunakan petani dan memilih teknologi TSS. Keputusan tersebut terbukti menjadi pilihan yang tepat. 

Dengan teknologi TSS, Tono mampu menghasilkan hingga belasan ton per hektare dengan kualitas umbi yang lebih seragam. Tidak hanya itu, efisiensi biaya juga menjadi keuntungan besar. 

Cara budidaya TSS mampu menekan biaya produksi, terutama untuk kebutuhan bibit yang selama ini menjadi komponen terbesar dalam budidaya bawang merah.

“Inovasi ini benar-benar mengubah hidup saya. Biaya lebih hemat, hasil lebih banyak. Dari sini saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi,” kata Tono, saat dihubungi via ponselnya, Senin (20/4/2026).

Teknologi TSS, khususnya benih bawang merah MERDEKA F1, terbukti mampu memberikan potensi hasil panen mencapai 14–18 ton per hektare. Angka ini meningkat sekitar 40 hingga 80 persen dibandingkan metode konvensional.

Selain itu, penggunaan TSS juga mampu menekan biaya bibit hingga 30–50 persen. Efisiensi ini memberikan ruang keuntungan yang lebih besar bagi petani, sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat tingginya biaya awal produksi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.